|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Khotbah
Minggu |
|
|
|
17 Agustus 2008
Kejadian 45:1-15
Rekonsiliasi dan Hidup Rukun |
|
|
|
|
|
|
|
|
Hidup rukun, apalagi seperti yang dilukiskan dalam Mazmur
133, siapa tidak ingin? Namun bila kita melihat ke
sekitar kita, kerukunan dalam masyarakat, bahkan dalam
jemaat, lebih kerap bagaikan facade kaca kemilau untuk
menutupi tembok depan masif kelabu dari sebuah toko. Ada
banyak persoalan di situ. Salah satu faktor yang amat
menentukan bagi kerukunan adalah terjadi atau tidaknya
rekonsiliasi. Itulah yang dilakukan Yusuf. Ia berdamai
dengan saudara-saudaranya yangmengingat bagaimana
mereka telah menjualnya sebagai budak sebenarnya tak
patut diampuni. Ada tiga butir pembelajaran dari Yusuf
bagi kita.
Yang pertama: Yusuflah yang berprakarsa. Dalam
situasinya, ia menyadari bahwa bola ada di tangannya.
Bila bukan Yusuf yang memulai maka takkan terjadi
pendamaian antara dirinya dengan saudara-saudaranya.
Inilah yang digemakan oleh Paulus dalam Roma 12:18.
Yang kedua: rekonsiliasi tak mungkin terjadi tanpa
pengampunan. Kasihlah yang menjadi pemenang dalam
konflik Yusuf versus saudara-saudaranya. Kasih Yusuf
terhadap merekalah yang mencairkan dendam dan menjadi
dasar dari kemampuanYusuf untuk mengampuni mereka semua.
Yang ketiga: Yusuf tiba pada pemahaman yang mendalam,
bahwa semua yang telah terjadi adalah dalam kerangka
rencana serta kasih Tuhan bagi umat Israel. Yusuf
menundukkan diri pada usaha terus-menerus Allah
mendamaikan diri dengan umat-Nya.
Kita dipanggil untuk menjadi Yusuf-Yusuf dengan
saudara-saudara kita: berprakarsa, mengampuni dan taat,
demi kerukunan bangsa dan negara.
Merdeka!
(PWS) |
|
|
|
|
|
Arsip... |
|
|
|
|