|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Khotbah
Minggu |
|
|
|
3 Agustus 2008
Kejadian 32:22-32
Identitas Yang Baru |
|
|
|
|
|
|
|
|
Banyak orang berusaha membentuk dan mengasah identitasnya
dengan berbagai cara, misalnya dengan menjaga nama baik
(sesuai peribahasa harimau mati meninggalkan belang
atau ja-im menurut bahasa para remaja). Ada pula yang
melakukannya dengan mengupayakan karier dan/atau kuasa
setinggi-tingginya. Dan amat banyak yang mengusahakannya
dengan cara mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.
Ada banyak masalah dengan itu. Di antaranya yang paling
mendasar adalah bahwa semua itu relatif, karena amat
bergantung kepada manusia: baik diri sendiri maupun
orang lain. Manusia itu makhluk, bukan khalik, fana.
Sehingga pada hakikatnya manusia tidak mampu mengatasi
berbagai pengaruh atau kekuatan baik dari dalam maupun
dan terlebih dari luar dirinya.
Yakub hanyalah Yakub, ketika ia mengandalkan dirinya
sendiri: kekuatan, kepandaian dan kelicikannya. Memang
untuk menghadapi Esau, mengatasi Laban, dan mengumpulkan
harta selama di perantauan, semua itu dapat dengan
efektif dimanfaatkannya. Namun di tepi sungai Yabok, ia
menyadari bahwa semua itu tidak dapat menolongnya: ia
takut kepada pembalasan Esau. Ia sama sekali bukan
khalik, fana.
Pergumulan Yakub dengan malaikat Tuhan di tepi sungai
Yabok adalah pada akhirnya pergumulannya dengan dirinya
sendiri. Kemenangannya adalah pengakuan tulusnya bahwa
ia hanya dapat bertahan selama ia bersama dengan Tuhan.
Hanya dengan tetap memegangi dan tidak mau melepaskan
Tuhan, ia menang. Maka iapun mendapatkan jati diri yang
baru: Israel, yang berarti TUHAN-lah yang menang!
Kita juga mendapatkan identitas baru, Kristen:
KRISTUS-lah yang menang!
(PWS) |
|
|
|
|
|
Arsip... |
|
|
|
|