|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Khotbah
Minggu |
|
|
|
8 Juni 2008
Yesaya 49:8-16; Mazmur 131; Matius 6:24-34
Hidup Kita Terlukis Dalam Telapak Tangan Tuhan |
|
|
|
|
|
|
|
|
Ajakan untuk senantiasa berharap kepada Tuhan, sebagaimana
diungkapkan pemazmur, bukanlah perkara yang mudah.
Apalagi ketika kenyataan hidup justru memperhadapkan
kita dari satu kesulitan kepada kesulitan yang lain.
Alih-alih berharap kepada Tuhan, justru kita seringkali
beranggapan Tuhan sudah melupakan dan meninggalkan kita.
Persoalannya memang terletak pada ketidaksabaran kita
untuk menanti waktu Tuhan. Oleh karena itu menarik
sekali apa yang diungkapkan dalam Yesaya 40:8. Mengawali
berita pembebasan Sion, Yesaya mengingatkan kita bahwa
Tuhan berkarya sesuai waktuNya! Baru setelah itu Yesaya
memberitakan pembebasan Sion, dan kembali menegaskan,
bahwa Tuhan tidak pernah melupakan anak-anakNya.
Ungkapan bahwa diri kita terlukis dalam telapak
tanganNya sungguh luar biasa. Bukan hanya terlukis di
telapak tangan, tetapi tembok Israel ada di relung mata
Tuhan. Inilah ungkapan puitis tentang Tuhan yang selalu
mengingat umatNya.
Saudaraku, hidup memang tidak selamanya mudah. Apalagi
kondisi sekarang di mana situasi perekonomian bertambah
sulit. Namun jangan kehilangan pengharapan. Apalagi
kalau hanya soal makan, minum dan pakaian. Jangan kuatir!
Lihatlah bagaimana Allah memelihara burung di udara dan
mendandani bunga di padang. Tetap cari kerajaan Allah,
tetap berusaha, pasti Tuhan memberkati segala upaya anda.
Sesungguhnya hidup kita terlukis di telapak tanganNya
dan kita ada di relung mataNya. Amin.
[Rdj] |
|
|
|
|
|
Arsip... |
|
|
|
|