|
|
Saya pernah melihat seorang anak balita menangis
tersedu-sedu karena dimarahi dan diancam akan ditinggalkan
oleh pengasuhnya. Namun karena ketakutan, sang anak yang
akhirnya berlutut memegang kaki sang pengasuh seraya
memohon agar diijinkan ikut pulang bersama pengasuhnya
itu.Ironis sekali, ternyata penindasan bukan hanya terjadi
di kalangan orang dewasa tetapi juga dialami oleh
anak-anak. Sayangnya, dalam ketidakberdayaan mereka,
anak-anak justru menyerah kalah dan menyerahkan diri
mereka terhadap sang penindasnya.
Penindasan dalam bentuk yang lain juga acapkali terjadi di
kalangan orang-orang Kristen pada jaman penulisan Alkitab.
Mereka bukan hanya ditindas oleh masyarakat yang membenci
kekristenan, tetapi juga filsafat dan ajaran non-Kristen
yang akhirnya membelenggu mereka untuk hidup sebagai
ciptaan yang baru di dalam Kristus.
Di jaman ini, kita juga seringkali mengalami penindasan.
Kita mengalami tekanan di tempat kerja, di rumah, di
sekolah, maupun di masyarakat. Mungkin kita tidak
tertindas dalam hal fisik, tetapi perasaan, pendapat/pikiran,
dan harga diri kita ditekan, bahkan diacuhkan. Apalagi
jika kita mulai menunjukkan jati diri sebagai seorang
pengikut Kristus yang secara aktif mengabarkan injil.
Syukurlah, Yesus sangat mengetahui tantangan yang dihadapi
para murid. Saat Yesus tidak ada lagi di dunia ini,
tentulah murid Yesus akan mengalami tekanan dalam
menjalankan misi-Nya, sampai hari ini. Itu sebabnya, Yesus
berdoa bagi murid-murid dan kita. Di satu sisi, Ia
menyampaikan harapan-Nya, peliharalah mereka dalam
nama-Mu
atau dengan kata lain, keep them save by the
power you have given me. Itu berarti, Dia akan terus
melindungi kita dengan kuasa-Nya. Tetapi di sisi lain,
sambil berdoa Dia juga mendorong kita untuk tetap
mengupayakan kesatuan. Itu berarti, apapun halangan dan
tantangan yang kita hadapi dalam hidup dan pelayanan kita,
jangan menyerah, melainkan bersatulah dan lihatlah
kuasa-Nya!
[riajos] |