Navigasi
• Halaman Muka
• Khotbah Minggu
• Kasut
• Renungan
• Refleksi
•Gurat
• Profil
• Kesaksian
• Teologi
• Keluarga
• Kesehatan
• Edukasi
• Bible Talks
• Pastoralia
• Antar Kita
• Remaja
• Media Mall
Warta Jemaat
• Warta Kebaktian
• Warta Keluarga
• Warta Majelis
• Warta Komisi/Tim/ Seksi
Layanan Jemaat
• Keanggotaan
• Layanan Baptisan
• Katekisasi & Sidi
• Layanan Pernikahan
• Konseling Pendeta
Kegiatan Ouikumenis
• Gerakan Orang Tua Asuh
• Balai Pengobatan
• Kunjungan
• Dukungan Posyandu
• Sumbangan Sosial
 
 Khotbah Minggu
  27 April 2008
1 Petrus 3 : 13 - 22
Menguduskan Kristus Sebagai Tuhan
   
  Saya kira kita semua sependapat bahwa menguduskan Kristus sebagai Tuhan bukanlah sebuah kegiatan ritual (beribadah, membaca alkitab, doa dll), tetapi pada hakekatnya di mana saja, kapan saja dan dalam segala hal kita harus tetap menguduskan Kristus sebagai Tuhan. Masalahnya ialah, bagaimana hal itu mesti kita wujud-nyatakan?.

Dalam situasi normal yang dan tidak terlalu sulit untuk mewujudkan hal itu, tetapi sebaliknya ketika kepada kita diperhadapkan pada situasi kritis, ketika kepada kita diperhadapkan pada kesulitan dan penderitaan, mampukah kita tetap konsisten untuk menempatkan Dia sebagai yang pertama dan terutama?. Hal inilah yang menjadi perhatian surat Petrus kepada orang-orang Kristen di Asia Kecil pada waktu itu, ketika mereka sedang mengalami tekanan dan penganiayaan justru karena percaya kepada Kristus. Ada empat hal yang dinasihatkan Petrus bagi mereka, tetapi juga tetap relevan bagi kita.
  1. Selalu berbuat baik, (ayat 13)
    Tidak mudah terpancing untuk membalas kejahatan dengan kejahatan (band. Matius 5 : 38)

  2. Siap dikambing hitamkan (secara politis) (ayat 14)
    Ketika kita telah melakukan yang baik, tetapi difitnah, diejek, janganlah gentar, tetapi konsisten terhadap yang kita lakukan.

  3. Jangan sampai penderitaan membuat kita berdosa (ayat 17)
    Tekanan dan penderitaan sering membuat kita “goyah” dan tidak lagi taat kepada-Nya.

  4. Kuduskan Kristus senantiasa (ayat 15) tidak melihat “gelombang dan badai” yang menyekitari hidup ini, tetapi tetap melihat Kristus sebagai “sumber” kekuatan itu.

Kita diajak dan diajar untuk bersikap “sabar” menghadapi tekanan dan penderitaan. Sabar disini bukan dalam arti “pasrah” (apatis), tetapi tidak menghadapi dan melawan dengan kekerasan (non-violence), mengapa? Karena Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yohanes 14 : 16).

[A.S]
 
  Arsip...

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003