Khotbah Minggu
  16 Maret 2008
Matius 26:14-25; 36-46
Seperti Tuhan Yesus, Bukan Yudas!
   
  Rasanya tidaklah adil (setidaknya bagi Yudas sendiri, dan bagi kita orang berdosa) membandingkan Yudas dengan Yesus. Tentu saja Yesus jauh lebih baik bahkan sempurna ketimbang Yudas untuk dijadikan idola (baca: yang dianggap ideal untuk diteladani) bagi orang percaya. Namun di minggu-minggu Pra Paskah ini kita tidak hendak membandingkan keduanya, tetapi berusaha memetik yang terbaik dan melihat apa yang mesti dibuang. Setidaknya ada tiga butir pembelajaran dari keduanya.

Pertama, Yudas adalah potret orang yang percaya, bahkan mengikut Yesus, tetapi punya agenda sendiri. Ia mengikut Yesus dengan dambaan dan harapan yang lazim di kalangan orang Yahudi waktu itu: Yesus adalah “mesias” untuk memulihkan kejayaan kerajaan dan bangsa Israel. Sedangkan Yesus berkata: “Bukan kehendakku tetapi kehendak-Mu jadilah...!”

Kedua, Yudas adalah sosok orang dengan integritas tidak kokoh. Dalam fungsinya sebagai bendahara kelompok Yesus dan murid-murid, serta dalam rangka upayanya menyerahkan Yesus yang sulit dipahami maknanya dalam rangka idealismenya, ia sempat-sempatnya “menyelam di air keruh”. Sedangkan Yesus fokus Yesus jelas: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya...!”

Ketiga, Yudas yang kecewa karena ternyata Yesus tidaklah cocok dengan harapan pribadinya, berbalik menjadi membenci, bahkan mengkhianati-Nya. Sedangkan Yesus adalah teladan ketaatan dan kesetiaan yang sejati: mati pada salib demi kehendak Bapa-Nya yang di sorga. Sekaligus Ia adalah potret kasih yang paling indah: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya....” Kita...?

(PWS)
 
  Arsip...

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003