|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Khotbah
Minggu |
|
|
|
2 Maret 2008
Yohanes 9:1-23
Nyatakanlah Karya Allah |
|
|
|
|
|
|
|
|
Hari ini, dalam masa pra-Paska ini, Yesus memberikan
kepada kita sebuah teladan yang sangat penting. Alih-alih
larut dalam diskusi teologis mempersoalkan bagaimana dan
mengapa si buta dalam bacaan kita bernasib seperti itu,
Yesus bertindak secara kongkret bagi si buta. Ini bukan
berarti diskusi teologis tidak perlu. Tetapi yang
diperlukan si buta bukan pemahaman tentang nasib yang
dialaminya, tetapi jalan keluar dari situasinya. Maka
Yesus datang kepadanya sebagai tabib yang menyembuhkan,
bahkan sebagai terang.
Yesus tidak hanya mendatangkan terang bagi si buta dalam
kegelapannya, tetapi juga menjadi terang bagi kehidupannya,
bahkan bagi kehidupan siapapun yang “menyaksikan” karya
kasih Allah kepadanya, termasuk kita pada hari ini.
Kebutaannya menjadi “wahana” bagi terang yang datang ke
dalam kehidupannya, dan bagi dunia (ayat 3). Bila kita
membaca lanjutan perikop ini, nyatalah bagaimana Yesus
terus menuntunnya sehingga ia sungguh-sungguh mengalami
terang itu, serta percaya kepada-Nya dan mengikut-Nya.
Penting pula apa yang dikatakan Yesus dalam ayat 4: “Kita
harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama
masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada
seorangpun yang dapat bekerja..” Kata-kata Yesus itu
menunjuk pada kesempatan yang harus diraih. Kesempatan
untuk mengikut terang itu dan berjalan di atas jejak
langkah-Nya yang harus direalisasikan saat ini juga. Sebab
bila “malam” tiba, maka semuanya akan terlambat.
Sebagai pengikut Kristus (baca: Kristen), selama hari
masih “siang”, kita terpanggil untuk meneladani Kristus.
Banyak orang di sekitar kita yang berada dalam “kegelapan”,
yang membutuhkan “terang”. Hari ini juga, kita harus juga
menjadi “wahana” dari sang terang dunia, melalui tindakan
kasih yang nyata bagi mereka yang membutuhkannya, seraya
memohon kepada-Nya agar terang itu hadir dalam kehidupan
mereka itu, tetapi juga dalam dunia. Hanya dengan cara
inilah kita akan dapat mengalami terang dari sang terang
dunia dalam hidup kita masing-masing.
(PWS) |
|
|
|
|
|
Arsip... |
|
|
|
|