Khotbah Minggu
  6 Januari 2008
Yesaya 60 : 1-6
Memancarkan Kemuliaan Kristus Ditengah Kesesakan Hidup
   
  Penderitaan memang merupakan persoalan laten dalam kehidupan umat manusia. Di satu sisi ia dipandang sebagai momok yang menakutkan, dan itu sebabnya manusia berusaha dengan segenap daya dan sekuat tenaga untuk mengatasi atau menghindarinya. Tapi di sisi lain, penderitaan juga akrab mendampingi perjalanan hidup manusia. Ia setua sejarah manusia itu sendiri.

Manusia - dalam sejarahnya – berusaha mati-matian agar dapat menghilangkan semua penderitaan hidupnya. Usaha yang terentang panjang – mulai dari menggapai berbagai kemajuan iptek, mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, sampai dengan memanipulasi agama sebagai candu untuk melarikan diri dari pahit getirnya hidup ini – ternyata tak pernah menuntaskan masalah penderitaan itu. Kehidupan manusia tetap saja menyisakan ruang bagi kehadiran penderitaan.

Kalau penderitaan terus-menerus merecoki kehidupan manusia – termasuk juga kehidupan orang-orang Kristen – lalu bagaimana orang Kristen mesti menghadapi semuanya itu?

Konon penderitaan manusia bisa dibagi dalam 2 golongan. Penderitaan jenis yang pertama adalah disebabkan oleh dosa yang diperbuatnya secara langsung. Untuk jenis ini, tidak dapat tidak setiap orang mesti bertobat dan meninggalkan segala apa yang jahat yang telah menyengsarakan hidupnya. Sedangkan penderitaan jenis kedua adalah penderitaan yang disebabkan oleh dosa orang lain atau oleh sebab-sebab lain yang tidak kita ketahui secara pasti. Ia hanya sebagai korban yang tidak berdaya dan harus – suka atau tidak – menelan mentah-mentah penderitaan itu. Contoh paling gamblang dari penderitaan jenis kedua ini adalah kesengsaraan sebagian besar masyarakat Indonesia yang disebabkan oleh krisis moneter pada tahun 1998. Krisis terjadi karena ulah dari sebagian kecil masyarakat Indonesia, namun akibatnya sebagian besar masyarakat harus ikut menanggungnya.

Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk melihat penderitaan ini tidak semata-mata sebagai suatu kepahitan belaka, melainkan juga melihatnya sebagai tantangan dan ujian bagi iman kita. Apakah kita akan hancur dan iman kita akan luntur ketika menghadapi berbagai pencobaan hidup tersebut, ataukah justru semuanya itu menjadikan iman kita semakin teguh dan tegar. Menghadapi semuanya itu umat beriman dipanggil untuk menjadikan Tuhan sebagai Sumber kekuatan dan pengharapannya dan menjadikan iman kepada-Nya sebagai motivasi untuk bertahan di tengah-tengah pusaran penderitaan tersebut.

[Rdj]
 
  Arsip...

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003