Khotbah Minggu
  16 Desember 2007
Matius 11:2-11
Menguji Hati
   
  Cassius Clay suatu kali bercerita, “Kalau aku jadi juara, akan kukenakan jins sobek, topi, dan kupelihara jenggot lebat. Lalu aku akan pergi ke desa kecil, tempat tak seorangpun mengenalku. Disana aku akan menemukan seorang gadis mungil yang manis dan lincah yang akan mencintaiku apa adanya, meski dia tidak mengenal namaku. Saat ia kubawa ke rumahku, kutunjukkan mansion-ku (:rumah besar) yang bernilai jutaan dolar, cadillacku dan kolam renangku. Aku juga akan menunjukkan ruang musikku yang dilengkapi sistem audio canggih dan ruang bioskop keluarga. Lalu akan kukatakan, ‘Namaku Muhammad Ali!’ ”

Muhammad Ali lumrah mendambakan seorang wanita yang teruji hatinya. Herannya, Yohanes sampai-sampai berani menguji Yesus, apakah Yesus sungguh orang Yang Diutus itu? Padahal seharusnya, Yohaneslah yang perlu diuji hatinya, apakah dia sebagai pembawa berita besar itu, merasa dirinya besar?

Berpikir bahwa Yohanes menguji Yesus, seringkali kitapun merasa berhak menguji dengan mempertanyakan hadir-Nya, kuasa-Nya, dan kebaikan-kebaikan-Nya. Padahal, yang seharusnya terjadi, kitalah yang senantiasa harus diuji hatinya oleh Yesus dengan pertanyaan;
  1. Apakah kita siap menyambut kelahiran-Nya, yang berarti kita siap menerima Dia sebagai Tuhan dan Tuan dalam hidup kita?

  2. Apakah kita siap membawa misi-Nya, membuka jalan sehingga orang lain datang kepada Dia melalui kita?

  3. Apakah kita siap diuji hatinya, untuk bertahan dalam iman dalam keadaan apapun, berjins sobek atau punya mansion?
Selamat menyambut kelahiran-Nya!
[Riajos]
 
  Arsip...

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003