|
|
Cassius Clay suatu kali bercerita, Kalau aku jadi juara,
akan kukenakan jins sobek, topi, dan kupelihara jenggot
lebat. Lalu aku akan pergi ke desa kecil, tempat tak
seorangpun mengenalku. Disana aku akan menemukan seorang
gadis mungil yang manis dan lincah yang akan mencintaiku
apa adanya, meski dia tidak mengenal namaku. Saat ia
kubawa ke rumahku, kutunjukkan mansion-ku (:rumah besar)
yang bernilai jutaan dolar, cadillacku dan kolam renangku.
Aku juga akan menunjukkan ruang musikku yang dilengkapi
sistem audio canggih dan ruang bioskop keluarga. Lalu akan
kukatakan, Namaku Muhammad Ali!
Muhammad Ali lumrah mendambakan seorang wanita yang teruji
hatinya. Herannya, Yohanes sampai-sampai berani menguji
Yesus, apakah Yesus sungguh orang Yang Diutus itu? Padahal
seharusnya, Yohaneslah yang perlu diuji hatinya, apakah
dia sebagai pembawa berita besar itu, merasa dirinya besar?
Berpikir bahwa Yohanes menguji Yesus, seringkali kitapun
merasa berhak menguji dengan mempertanyakan hadir-Nya,
kuasa-Nya, dan kebaikan-kebaikan-Nya. Padahal, yang
seharusnya terjadi, kitalah yang senantiasa harus diuji
hatinya oleh Yesus dengan pertanyaan;
- Apakah kita siap menyambut kelahiran-Nya, yang
berarti kita siap menerima Dia sebagai Tuhan dan Tuan
dalam hidup kita?
- Apakah kita siap membawa misi-Nya, membuka jalan
sehingga orang lain datang kepada Dia melalui kita?
- Apakah kita siap diuji hatinya, untuk bertahan
dalam iman dalam keadaan apapun, berjins sobek atau punya
mansion?
Selamat menyambut kelahiran-Nya!
[Riajos] |