|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Khotbah
Minggu |
|
|
|
11 Nopember 2007
Hagai 1 : 15b - 2 : 9
Mensyukuri Segala Kebaikan Tuhan |
|
|
|
|
|
|
|
|
Tak seorangpun menyangkal bahwa ‘Tuhan itu baik’, bahkan
kita mengamini pula hanya ada kebaikan saja padaNya.
Masalahnya bagi kita ialah, bagaimana mengukur kebaikan
Tuhan itu? Pada saat hidup ini ditopang oleh sukses dan
keberhasilan dengan mudah kita akan mengatakan bahwa Tuhan
itu baik, tetapi manakala kita gagal dan penuh masalah,
mampukah kita mengatakan, Tuhan itu baik? Kalau kita mau
jujur pada diri kita, bukankah pertimbangan baik-buruk itu
kita kaitkan dengan pertimbangan diri yang punya
kecenderungan egois ini, bukan pada pertimbangan iman dan
penyerahan kita kepada Tuhan. Inilah yang seringkali
membuat kita kecewa kepada Tuhan yang baik, bahkan tidak
mampu lagi mensyukuri setiap hal yang Tuhan hadirkan dan
berikan bagi umatNya.
Inilah pula yang agaknya menjadi keprihatinan nabi Hagai
terhadap umat Israel, ketika nabi mengajak umatnya
mengedepankan Allah dalam segala hal dan menjadikan Allah
sebagai pusat hidupnya. Memiliki kehidupan yang teosentris,
bukan egosentris. Ditengah tengah kehidupan umat yang
amburadul setelah mereka kembali dari pembuangan di Babel,
mereka lebih memprioritaskan membangun hidupnya
sendiri-sendiri daripada meneruskan pembangunan Bait
Allah. Berjuang dan bertahan untuk hidup saja sudah susah,
apalagi ditambah harus membangun Rumah Allah. (begitu
pikir mereka).
Inti masalahnya bukan terletak pada pembangunan Bait Allah
itu sendiri, tetapi pada sikap hidup yang lebih
mengandalkan pada kekuatan dan kemampuan sendiri, daripada
Tuhan, sehingga Tuhan bukan lagi menjadi yang pertama dan
terutama, tetapi entah prioritas yang keberapa. Disinilah
Hagai berusaha untuk memotivasi umat Israel untuk ‘back to
basic’ bahwa Allah adalah Allah yang tidak pernah
membiarkan, apalagi meninggalkan umatnya, tetapi selalu
menyatu dalam segala hal. “Kuatkanlah hatimu - bekerjalah–
janganlah takut, sebab Aku ini menyertai kamu” (2 : 5-6).
Inilah kebaikanNya yang mesti disyukuri dalam semua hal.
Dorongan Hagai bagi umatnya dan spirit yang dimilikinya,
merupakan refleksi bagi kita semua untuk ‘menguji’ diri
kita baik sebagai pribadi maupun jemaat, sampai dimana
kita benar-benar memprioritaskan Allah, apakah Ia telah
menjadi yang terutama dalam segala hal, sehingga kitapun
pada gilirannya bisa bersyukur dalam segala hal. Amin.
[A.S] |
|
|
|
|
|
Arsip... |
|
|
|
|