|
|
4 Nopember 2007
Habakuk 1:1-4, II Tesalonika 1:1-4, Lukas 19:1-10
Orang Benar Hidup oleh Percayanya |
|
|
|
|
|
|
|
|
Banyak orang yang lebih suka menjadi pintar daripada
menjadi benar terutama dalam dunia modern ini, mengapa?
Karena jadi pintar (yang lebih berdimensi pikir daripada
nurani), bukan saja dinilai lebih unggul, tetapi bisa
selalu benar. Dengan kepintarannya dia bisa memainkan
kata dan pikirannya untuk membenarkan diri, sekalipun
menyusahkan orang lain, sebaliknya orang benar seringkali
dianggap sebagai orang bodoh. Masalahnya bagi orang
beriman ialah mana yang harus kita pilih?
Menjadi orang benar adalah pilihan mutlak, dalam arti
hidup di dalam kebenaran Allah, artinya yang menjadi norma
utama bukan lagi menurut ukuran dunia dan masyarakat,
tetapi ketaatan kita kepada Tuhan dalam segala perkara.
Hidup orang benar yang beriman adalah hidup yang
memancarkan kejujuran, keadilan, ketekunan dan ketabahan,
sekalipun penindasan, penderitaan datang menerpa. Inilah
berita yang disampaikan oleh Habakuk dan II Tesalonika.
Sedangkan Lukas mau mengedepankan kehidupan orang benar
yang senantiasa menawarkan persahabatan yang mau mengerti
orang lain, bukan meremehkan, melecehkan, apalagi membenci
sesamanya.
Oleh sikap seperti inilah kehadiran kita banyak membawa
perubahan karena spiritnya adalah persahabatan bukan
kebencian.
[A.S] |
|
|
|
|
|
Arsip... |
|
|
|