|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Khotbah
Minggu |
|
|
|
9 September 2007
Filemon 1:1-22, Yer. 18:1-11, Luk. 14:25-33
Belajar Melepaskan Diri dari Belenggu Harta Milik |
|
|
|
|
|
|
|
|
Onesimus pernah melakukan kesalahan yang fatal kepada
tuannya yang bernama Filemon. Kemungkinan ia pernah
mencuri atau berhutang dalam jumlah yang sangat besar.
Karena merasa bersalah maka Onesimus melarikan diri dari
tuannya. Dalam pelariannya itu ia berjumpa dengan rasul
Paulus dan mengalami perubahan besar dalam kehidupan
pribadinya. Hal ini dapat terjadi karena ketika menghadapi
orang yang sedang bermasalah dan melakukan kesalahan,
rasul Paulus tidak bersikap menghakimi, melainkan
membimbing dengan penuh kasih sehingga akhirnya Onesimus
dapat percaya dan menerima Kristus. (Philemon 1: 1-22)
Sikap rasul Paulus tersebut pada hakikatnya merupakan
cermin dari sikap kasih Allah sendiri. Dalam karya
keselamatanNya, Allah memposisikan peranNya seperti tukang
periuk yang sedang mengerjakan bejana (Yer. 18:1-11).
Apabila dalam proses pembuatan bejana tersebut hasilnya
ternyata kurang sempurna, maka Allah akan segera membentuk
bejana tersebut menjadi lebih baik dan sempurna. Namun
kita tidak dapat dibentuk dan diproses oleh Allah menjadi
bejana yang dikehendakiNya apabila kita tetap mengeraskan
hati terhadap firmanNya dan hidup lebih berorientasi
kepada hal-hal yang duniawi.
Itu sebabnya dalam Luk.14:27, Tuhan Yesus berkata:
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia
tidak dapat menjadi muridKu. Makna memikul salib di sini
jelas menunjuk kepada kesediaan untuk memikul beban dari
Kristus, dan bukan berbagai beban dosa yang ditawarkan
dunia ini.
Onesimus sebelumnya sempat menjadikan harta milik atau
uang sebagai yang paling utama sehingga dia berani
melakukan tindakan yang merugikan tuannya. Tetapi ketika
dia berjumpa dengan rasul Paulus, dia mulai mengenal kasih
Allah di dalam Kristus, Onesimus tidak mengeraskan, ia
membiarkan kuasa kasih Kristus bekerja untuk mengubah
kehidupannya.
Siapkah hidup kita dibentuk oleh Allah ? Siapkah kita
melepaskan segala keterikatan terhadap hal-hal yang
duniawi dan mengarahkan diri hanya kepada kehendakNya ?
[TT] |
|
|
|
|
|
Arsip... |
|
|
|
|