Khotbah Minggu
  19 Agustus 2007
Yesaya 5:1-7; Ibrani 11:29 – 12:2; Lukas 12:49-56
Mataku memandang Yesus, tanganku kerja bagiNya
   
  ‘Freedom isn’t free’ demikian sebuah ungkapan. Sungguh tepat! Kemerdekaan memang bukan sesuatu yang gratisan. Ada harga yang harus dibayar! Bukankah darah para pahlawan, adalah harga dari kemerdekaan Indonesia? Begitu juga kemerdekaan yang Kristus hadirkan harus dibayar dengan darahNya. Bagi para pengikutNya, kemerdekaan dalam Kristus itu juga bukan sesuatu yang gratisan. Memang semua adalah anugerahNya! Tetapi pemahaman anugerah ini janganlah menggeser tanggung jawab kita sebagai orang percaya, untuk terus memperjuangkan kemerdekaan itu dengan berbuah bagiNya.

Dalam Lukas 12:49-56 Tuhan Yesus mengajarkan, bahwa menerima anugerah keselamatanNya dan menjadi pengikutNya, kadang harus dibayar dengan pemisahan antara anak dengan orangtuanya, kakak dengan adiknya. Pada masa itu, bila seseorang beralih dari agama Yahudi ke agama Kristen, maka orangtuanya mengadakan upacara pemakaman. Mereka yang beralih ke agama Kristen dianggap sudah mati!

Dalam Yesaya 5:1-7 digambarkan Allah yang menantikan buah dari kebun anggurNya, yaitu Israel. Dalam konteks masa kini, adalah kita para pengikut Yesus! Berbuah bagi Allah, bekerja bagiNya memang bukan untuk mendapatkan keselamatan yang sudah dihadirkan Kristus. Tetapi menjadi Kristen tidak bisa dipisahkan dari berbuah bagiNya. Betapa kecewanya Tuhan, ketika mendapati kebun anggurnya menghadirkan buah yang masam!

Di sinilah tema kita lalu menjadi menarik. Sanggupkah kita yang sudah diselamatkan oleh salibNya, tetap memandang Dia? Fokus kepadaNya dalam pelayanan kita? Tentu ada banyak yang harus dikorbankan! Waktu, tenaga, harta bahkan nyawa! Semoga teladan para pahlawan iman dalam Ibrani 11:29 – 12:2 mampu menguatkan kita untuk terus memperjuangkan keselamatan yang kita telah terima. Tetap memandang Yesus, dan berbuah bagiNya! Amin.

(Rdj)
 
  Arsip...

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003