|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Khotbah
Minggu |
|
|
|
12 Agustus 2007
Lukas 12:32-40
Siap Sedia dalam karya Keselamatan |
|
|
|
|
|
|
|
|
Umumnya, ada 3 ketakutan yang muncul saat seseorang berada
di ambang kematian, karena orang yang ditinggalkan belum
rela, karena urusan di dunia belum selesai, atau karena ia
tidak tahu kemana ia akan pergi setelah mati nanti.
Namun demikian, banyak orang Kristen merasa terlalu
percaya diri. Mereka tampak yakin bahwa mereka pasti masuk
surga dan tidak takut mati. Apalagi mengingat pemazmur,
sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman (atau
bayang maut) aku tidak takut bahaya
sebab Tuhan besertaku.
Masalahnya, apakah keyakinan itu cukup menjadi jaminan
bahwa kita pasti masuk dalam karya keselamatan-Nya? Belum
tentu,.
Filemon 2:12 mengingatkan bahwa kita harus mengerjakan (menunjukkan)
keselamatan kita dengan takut dan gentar setiap waktu. Ini
berarti keselamatan bukanlah sekadar sebuah tiket,
sehingga kita merasa aman karena telah menerima jaminan
itu dengan pernyataan percaya kita. Tuhan memang menjamin
bahwa setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh
hidup yang kekal, tetapi seringkali justru kita sendiri
yang tidak memenuhi kriteria percaya yang Dia maksud.
Dalam Lukas, setidaknya secara implisit, ada 3 hal yang
harus diperhatikan saat kita percaya pada Kristus:
- Hartanya. Dimana harta kita lebih banyak dikumpulkan?
Deposito? Asuransi? Perhiasan? Atau Sorga?
- Tuannya. Siapa tuan utama dalam hidup kita? Tahta?
Salah 1 anggota Keluarga kita? Atau Sang Pemilik Sorga?
- Rumahnya. Rumah seperti apa yang sedang kita jaga
dan pelihara? Rumah tangga di ambang kehancuran? Atau
Rumah Tangga Kristen yang saling melayani dan jadi
berkat?
Jadi, sungguh sudah siapkah kita mengerjakan keselamatan
yang Tuhan beri?
[Riajos]
|
|
|
|
|
|
Arsip... |
|
|
|
|