|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Khotbah
Minggu |
|
|
|
29 Juli 2007
Lukas 11:1-13
Kesetiaan Allah kepada umat-Nya |
|
|
|
|
|
|
|
|
Tampaknya, perikop yang kita baca, hanya bicara tentang
aturan-aturan dalam berdoa. Berdoa harus yang benar,
berdoa seperti doa “Bapa Kami”, berdoalah dengan tekun,
sehingga niscaya setiap orang yang meminta, menerima. Ada
kesan bahwa kita dituntut untuk setia kepada Tuhan jika
kita ingin doa kita dijawab oleh Tuhan.
Namun demikian sesungguhnya Tuhanlah yang setia kepada
kita. Apa buktinya? Telinga-Nya sedia mendengarkan semua
isi hati kita. Sekalipun Ia sedang mengasingkan Diri untuk
bertemu Bapa-Nya, Ia berhenti berdoa karena Ia tahu
murid-murid-Nya sangat membutuhkan Dia (ayat 1). Kini, Ia
tentu tidak akan pernah berhenti juga menyedengkan
telinga-Nya kepada kita. Sebelum kita berdoa, Ia tahu isi
hati kita. Tentu saja perlu dibarengi dengan keterbukaan,
“Biarlah isi hati-Mu juga menjadi bagianku”= “Jadilah
kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Sebab di titik
pertemuan antara isi hati kita dengan isi hati Tuhan
itulah kesetiaan Allah nyata dalam hidup kita.
Mata-Nya tertuju kepada kebutuhan kita yang paling dalam.
Yesus katakan, “Bapamu yang di sorga… akan memberikan Roh
Kudus kepada mereka yang meminta-Nya.” Mengapa mata Yesus
tidak mengarah pada uang, materi, kepandaian, atau
kesehatan yang kita idam-idamkan? Karena kesetiaan-Nya
tidak terbatas saat kita memiliki uang, materi, kepandaian
atau kesehatan. Justru saat dunia ini mengambil semua itu
dari kita sedikit demi sedikit, Ia tetap setia menguatkan
melalui Roh Kudus.
Tangan-Nya terbuka untuk menolong kita segera. Kata-Nya,
“Bapa manakah… jika anaknya minta ikan… akan memberikan
ular? … minta telur… akan memberikan kepadanya
kalajengking?” Itu berarti, Ia meyakinkan kita bahwa semua
hal buruk yang kita alami, bukan pemberian-Nya. Justru
saat kita mengalami dan menerima hal-hal buruk, Ia setia
sebagai Bapa yang memahami kebutuhan kita. Yang sakit
diberi kekuatan, yang susah diberikan sukacita, yang
berduka diberi penghiburan, yang putus asa diberi harapan,
dan masih banyak lagi pemberian-pemberian-Nya.
Tuhan telah membuktikan kesetiaan-Nya, apakah kita juga
mau setia kepada Dia melalui telinga yang mau
dengar-dengaran? Mata yang terus tertuju pada Dia? Dan
Tangan yang juga menjadi kepanjangan tangan-Nya buat
sesama? Roh Kudus menolong kita. [Riajos] |
|
|
|
|
|
Arsip... |
|
|
|
|