|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Khotbah
Minggu |
|
|
|
22 Juli 2007
Lukas 9:51-62
Menjadi pengikut Setia |
|
|
|
|
|
|
|
|
Setiap hari Hachiko, anjing Mr. Eisaburo, profesor di
Imperial University mengantar tuannya ke stasiun kereta
api Shibuya untuk bekerja. Sore hari dengan sabar juga
Hachi menunggu tuannya kembali sambil menggoyangkan
ekornya. Suatu saat profesor sakit di tempat kerjanya dan
meninggal sebelum sempat kembali ke rumah. Sejak saat itu
sampai matinya Hachi terus menunggu selama 10 tahun di
tempat yang sama saat ia terakhir melihat tuannya itu.
Untuk mengenang kesetiaan Hachi, tahun 1934 pemahat
terkenal Ando Teru dan anaknya Ando Takeshi, membuat
patung perunggu hachi.
Mengapa kesetiaan seekor anjing saja sampai
dibesar-besarkan? Mungkin karena Ando Teru justru
menyadari bahwa manusia seringkali gagal mengikuti Tuan-nya
(baca: Tuhan). Seperti dalam pembacaan kita, baru saja
Yesus mengatakan, Serigala punya liang
tapi Anak Manusia
tak punya tempat, banyak orang mundur selangkah demi
selangkah. Ada dalih situasi dan kondisi, ada yang ingin
menguburkan bapaknya dulu (ayat 59), ada juga yang ingin
pamit dahulu pada keluarganya (ayat 61). Jangan-jangan
kita adalah satu di antara murid Yesus yang punya dalih
lain lagi.
Walaupun tampaknya semua alasan itu manusiawi dan
beralaskan cinta kasih, mengapa Yesus menegur mereka?
Yesus bukan melarang orang mengasihi keluarga, tetapi
Yesus mengingatkan bahwa mengikut Dia bukan hanya sekadar
janji.
Herannya, saat para murid telah melangkahkan kaki dan
memberi hati, Yesus masih tetap menegur (ayat 54). Saya
jadi berpikir, susah sekali jadi pengikut-Nya yang setia.
Jadi, bagaimana ini? Ternyata Yesus menegur para murid
karena mereka merasa sudah jadi pengikut Yesus yang setia
dibandingkan orang lain. Ini berarti mereka sudah puas
diri dan merasa berarti.
Padahal pembuktian bahwa kita setia pada Tuhan bukan di
dunia ini, melainkan di sorga nanti. Itu sebabnya mengikut
Yesus tidak bisa seenak hati. Tugas kita sekarang adalah
memberikan seluruhnya: ya hati, ya kaki, ya emosi, ya
materi, sampai setengah mati, ya sampai mati! Jangan lupa
juga mengoreksi diri setiap hari. Kalaupun saat mati, kita
seperti Hachi diingat orang karena kesetiaan kita pada
TUAN kita, kita tidak pernah punya kesempatan untuk
berbangga diri. (riajos) |
|
|
|
|
|
Arsip... |
|
|
|
|