Khotbah Minggu
  15 Juli 2007
Lukas 10:25-37
Menjadi Sesama Bagi Yang Lain
   
  Berawal dari sebuah wacana teologis yang dilontarkan oleh seorang teolog yang disebut sebagai Ahli Taurat, tentang makna hidup kekal, yaitu tentang kehidupan “nanti” dan “disana”, tetapi berakhir dengan sebuah tindakan praktis yang secara langsung bisa dirasakan dan dialami orang lain, “kini” dan “disini”.

Yesus tidak mau terpancing dan terjebak dalam sebuah perdebatan teologis berkepanjangan dan tanpa “juntrungannya”. Yesus mencoba “mendaratkan” pembicaraan, terutama di dalam menjawab pertanyaan : “Siapakah sesamaku”. Bagi-Nya yang lebih utama, bukanlah “siapa” (hal ini tidak terlalu penting, bahkan dalam kasus-kasus tertentu, kita tidak perlu tahu, siapa dia, sebab yang diartikan “sesama manusia” itu bisa siapa saja). Yang jauh lebih penting ialah “bagaimana” kita bisa menjadi sesama yang baik, bagi siapa saja dan dimana saja; apakah ia Yahudi atau Samaria, Kristen atau non Kristen, pribumi atau keturunan, berkulit sawo matang atau “kuning”. Yang jelas, ia adalah sosok manusia yang sedang menantikan pertolongan di jalan antara Yerusalem dan Yerikho, antara Pondok Indah dan Pondok Cabe, antara Sabang dan Merauke. Begitulah, Saudara, Yesus mendefinisikan tentang “sesama manusia”, ia adalah bagian dari situasi dan kenyataan hidup sehari-hari.

Orang Samaria itu dikatakan “baik”, karena ia telah menunjukkan “kepedulian”nya kepada orang lain, teristimewa bagi yang menderita. Kepedulian yang ditunjukkan tidak cukup hanya dilandasi oleh “niat baik” saja atau sekedar “wacana” saja, tetapi dilanjutkan dengan tindakan nyata, tanpa dibatasi oleh ras, agama, kebangsaan dan pembatas-pembatas lainnya. Hal-hal yang terakhir ini acapkali menjadi kecenderungan naluriah kita pada umumnya, yaitu mencari yang “se-level” atau yang “sejenis”; yang putih cari yang putih, yang hitam cari yang hitam. Hal penting yang dapat kita pelajari dari orang ini adalah, ia berhasil menghilangkan tembok-tembok pembatas (yang seringkali tercipta justru karena sikap rohani yang cekak), sehingga ia tidak lagi melihat si korban itu sebagai Yahudi atau yang sejenis, tetapi semata-mata sebagai sesama. Amin

[A.S]
 
  Arsip...

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003