|
|
Berawal dari sebuah wacana teologis yang dilontarkan oleh
seorang teolog yang disebut sebagai Ahli Taurat, tentang
makna hidup kekal, yaitu tentang kehidupan “nanti” dan “disana”,
tetapi berakhir dengan sebuah tindakan praktis yang secara
langsung bisa dirasakan dan dialami orang lain, “kini” dan
“disini”.
Yesus tidak mau terpancing dan terjebak dalam sebuah
perdebatan teologis berkepanjangan dan tanpa “juntrungannya”.
Yesus mencoba “mendaratkan” pembicaraan, terutama di dalam
menjawab pertanyaan : “Siapakah sesamaku”. Bagi-Nya yang
lebih utama, bukanlah “siapa” (hal ini tidak terlalu
penting, bahkan dalam kasus-kasus tertentu, kita tidak
perlu tahu, siapa dia, sebab yang diartikan “sesama
manusia” itu bisa siapa saja). Yang jauh lebih penting
ialah “bagaimana” kita bisa menjadi sesama yang baik, bagi
siapa saja dan dimana saja; apakah ia Yahudi atau Samaria,
Kristen atau non Kristen, pribumi atau keturunan, berkulit
sawo matang atau “kuning”. Yang jelas, ia adalah sosok
manusia yang sedang menantikan pertolongan di jalan antara
Yerusalem dan Yerikho, antara Pondok Indah dan Pondok Cabe,
antara Sabang dan Merauke. Begitulah, Saudara, Yesus
mendefinisikan tentang “sesama manusia”, ia adalah bagian
dari situasi dan kenyataan hidup sehari-hari.
Orang Samaria itu dikatakan “baik”, karena ia telah
menunjukkan “kepedulian”nya kepada orang lain, teristimewa
bagi yang menderita. Kepedulian yang ditunjukkan tidak
cukup hanya dilandasi oleh “niat baik” saja atau sekedar
“wacana” saja, tetapi dilanjutkan dengan tindakan nyata,
tanpa dibatasi oleh ras, agama, kebangsaan dan
pembatas-pembatas lainnya. Hal-hal yang terakhir ini
acapkali menjadi kecenderungan naluriah kita pada umumnya,
yaitu mencari yang “se-level” atau yang “sejenis”; yang
putih cari yang putih, yang hitam cari yang hitam. Hal
penting yang dapat kita pelajari dari orang ini adalah, ia
berhasil menghilangkan tembok-tembok pembatas (yang
seringkali tercipta justru karena sikap rohani yang cekak),
sehingga ia tidak lagi melihat si korban itu sebagai
Yahudi atau yang sejenis, tetapi semata-mata sebagai
sesama. Amin
[A.S] |