Khotbah Minggu
  8 Juli 2007
Lukas 10:1-11, 16-20
Bertolong-tolongan Untuk Mendatangkan Syalom
   
  Kita semua tentu mengharapkan syalom (baca: damai sejahtera) dalam hidup kita secara utuh, baik saat kita bekerja, saat kita santai maupun saat kita melayani Tuhan. Namun masalahnya, kehadiran syalom bergantung pada 3 hal, sumber syalom, pembawa syalom dan penerima syalom.

Sumber Syalom adalah Tuhan sendiri. Tuhan mengutus para murid untuk mendatangkan syalom melalui pemberitaan, pertolongan dan sikap hidup mereka. Untuk melakukan pekerjaan ini, Ia menghendaki para murid melakukannya berdua. Mengapa? Karena kerjasama yang baik juga dapat mendatangkan syalom, sebaliknya jika Ia hanya mengutus 1 orang demi 1 orang, bisa jadi para murid berbangga diri atas hasil kerja mereka (ayat 1).
Selain itu Tuhan mengutus para murid ke tempat tuaian yang sangat banyak sehingga mereka merasakan ketidaksanggupan mereka untuk melakukannya seorang diri (ayat 2). Dalam keadaan itu tentu mereka memerlukan kuasa Tuhan setiap waktu.

Pembawa syalom juga menentukan apakah syalom itu bisa sampai di sebuah rumah atau tidak. Mereka dinasehati untuk tidak membawa pundi-pundi (ayat 4). Mengapa? Karena justru saat mereka bergantung pada Sumber Syalom, dan membiarkan Dia memelihara hidup para murid, mereka dapat menjadi alat untuk mendatangkan Syalom-Nya.

Penerima syalom bisa jadi menolak syalom yang akan datang dalam hidup mereka. Itu sebabnya tidak ada seorangpun yang dapat berbangga diri atas syalom yang hendak datang. Namun jika mereka menerima para pembawa syalom, melayani mereka dan menampung mereka maka mereka dianggap layak menerima syalom (ayat 6). Saat itulah syalom turun atas mereka.

Saudara dan saya juga adalah pembawa syalom. Pertolongan Sumber Syalomlah yang telah mengutus dan memakai kita menjadi alat-Nya dalam menyalurkan syalom. Namun kita tetap tidak bisa berbangga diri saat syalom sampai pada penerima syalom, karena penerima syalom itu juga harus terbuka untuk menerima syalom. Pertanyaannya, apakah kita mau dipakai Tuhan untuk menjadi pembawa syalom? Atau jangan-jangan kita sendiri belum layak menjadi penerima syalom Tuhan itu?

(Riajos)
 
  Arsip...

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003