Khotbah Minggu
  1 Juli 2007
Lukas 10: 38-42
Tindakan yang diperkenan Allah
   
  Dalam tradisi Yahudi, yang dilakukan Maria tidak lazim. Masakan perempuan duduk saja di depan tamunya? Bukankah Maria adalah perempuan dewasa yang seharusnya tahu diri dan tahu adat bahwa ia punya tugas melayani dan menjamu tamunya? Setidaknya ia bisa mengambilkan minum atau mencuci kaki Yesus sebelum duduk di kaki-Nya. Tapi herannya Yesus memuji Maria.

Sepintas Yesus mendukung Maria untuk keluar dari tradisi. Tapi apa sebenarnya yang Ia hendak ajarkan? Yesus katakan, “Maria telah memilih yang terbaik.” Ini berarti Yesus bicara masalah pilihan. Dan memang saat itu, Yesus hanya singgah sebentar dalam rangka perjalanannya ke Yerusalem sebelum mati-Nya. dalam situasi yang sangat terbatas/mendesak seperti itu, apa pilihan kita? Melakukan sesuatu untuk Dia atau mendengarkan Dia?

Menurut saya, keduanya sama-sama diperlukan. Namun rupanya, dalam hal ini Marta terlalu sibuk. Padahal yang diperlukan Yesus saat itu bukanlah pesta dengan makanan yang banyak dan mewah. Itu sebabnya saran itu tidak cocok untuk semua orang percaya dalam setiap situasi. Maria memang telah melakukan yang terbaik buat dirinya, tetapi kita bukan berarti harus seperti Maria seumur hidup. Sebab Maria tidak terus menerus duduk diam mendengarkan Yesus, melainkan ia juga harus segiat atau lebih giat dari Marta, karena ia telah dimotivasi oleh Yesus. Ia duduk diam dan mendengarkan dengan baik untuk bisa bekerja lebih efektif. Billy Graham pernah mengatakan, “Kalau waktu hidupnya tinggal 5 tahun, ia akan gunakan 3 tahun untuk sekolah dan 2 tahun melayani segiat-giatnya.”

Itu berarti tetap perlu keseimbangan antara mendengarkan/merenungkan (input) dan melayani (output). Namun demikian, 2 hal itu sajapun ternyata belum cukup. Ada hal lain yang harus kita lakukan agar input dan outpun menjadi diperkenan Allah, yaitu membuang apa yang tidak perlu saat kita melakukan keduanya. Seperti Marta yang harus membuang kekuatiran dan kebingungannya, sedangkan Maria? Saya membayangkan… mungkin Maria harus membuang kemalasannya untuk giat bekerja bagi Tuhan. Giliran kita, apa yang perlu kita buang? Pikiran negatif? Berbagai dalih kesibukan? Ketidakmampuan/inferior kita? Atau malah sikap superior kita yang membuat orang lain tidak mau melayani Tuhan karena kita?

(riajos)
 
  Arsip...

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003