Khotbah Minggu
  17 Juni 2007
Lukas 7:36-50
Iman yang Membangkitkan, Kasih yang Menyelamatkan
   
  Suatu kali Yesus diundang Simon orang Farisi menghadiri jamuan makan di rumahnya, jelas suasananya adalah suasana suka bukan duka, tentu banyak hidangan lezat dan bermacam-macam, pendek kata suasananya adalah pesta. Tiba-tiba dalam suasana seperti itu, ada seorang “tamu tak diundang” datang. Rupanya tamu tak diundang ini cukup dikenal di kota itu. Ia dikenal sebagai “orang berdosa” yang seringkali menjajakan diri kepada laki-laki hidung belang, ada begitu banyak mata memandangnya dengan sinis.

Perempuan ini masuk tanpa membawa pizza atau spagheti, tetapi membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Tiba-tiba suasana suka itu berubah oleh karena tangisan perempuan itu, tangisnya tidak dibuat-buat sehingga air matanya membasahi kaki Yesus, kemudian disekanya kaki Yesus yang penuh dan basah oleh air matanya, bukan dengan lap atau handuk, tetapi dengan rambutnya yang terurai, lalu mencium kaki Yesus dan kemudian menuangkan minyak wangi yang adalah “modal” bagi pekerjaannya bukan ke kepala Yesus, tetapi ke kaki-Nya. Simon, si pemilik perjamuan itu memandang sinis dan membatin dalam hatinya : “Seandainya saja Yesus tahu”, tetapi Yesus tahu dan Ia membiarkan perbuatan perempuan itu pada diri-Nya.

Perempuan itu telah menyatakan dan mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada Yesus sebagai ungkapan pengakuan dan penyesalannya tentang ketidaklayakan dirinya, bukan dengan bahasa “verbal” tetapi bahasa “non verbal” ; tanpa banyak omong tetapi dengan serangkaian tindakan nyata, dan Yesus menerima sepenuhnya dengan menyatakan : “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan
selamat”.

Kalau begitu, iman memang bukan sekedar pengakuan secara verbal saja, tetapi harus diwujudnyatakan dalam tindakan kongkret, dan menyangkut seluruh keberadaan kita.

[A.S].
 
  Arsip...

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003