|
|
Demonstrasi mahasiswa, buruh; perkelahian masal;
pembunuhan; perseteruan politik; tindak pidana. Korupsi
terang-terangan dsb, semua itu sudah jadi makanan
sehari-hari kita yang kita simak dari media cetak maupun
elektronik. Masyarakat kita dewasa ini menunjukkan wajah
masyarakat yang “sakit”, menjadi mudah tersinggung,
bringas, seolah-olah tidak lagi memiliki budaya malu,
namun yang lebih memprihatinkan ternyata wajah yang
semacam itu juga sudah merambah masyarakat gereja, dimana
perseteruan, perpecahan, pertengkaran bukan lagi menjadi
hal yang aneh.
Dalam konteks seperti inilah kemudian kita dengar nasihat
Rasul Paulus yang ditujukan kepada jemaat di Efesus,
tetapi juga tetap aktual untuk kita, yaitu, “supaya
hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil
berpadanan dengan panggilan itu”. Seyogyanya bukan lagi
“wajah duniawi” yang kita tampilkan, tetapi berani tampil
beda sesuai dengan eksistensi kita yang baru.
Melakoni hidup sebagai orang Kristen bukan sekedar
dibaptis dan mengaku percaya, tetapi mau hidup dalam
perubahan; tidak lagi berorientasi pada diri kita semata,
tetapi kearah DIA yang telah ‘membeli’ dan ‘menebus’ kita
sehingga perilaku dan tutur kata kita memuliakan DIA (1
Korintus 6 : 20). Didalam pemahaman seperti ini lalu ada 3
hal yang perlu kita lakukan yaitu “selalu bersikap rendah
hati, lemah lembut dan sabar.” Hal ini kita lakukan bukan
sewaktu-waktu atau kalau bisa, tetapi Rasul Paulus
menyatakan “Selaku”, tidak mudah memang, tetapi juga bukan
hal yang mustahil, ketika kita selalu menimba ‘spirit’ itu
di dalam DIA.
[A.S] |