|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
| Khotbah
Minggu |
|
|
|
6 Mei 2007
Yohanes 5:1-9
Yang Terlupakan, Tuhan Kasihi |
|
|
|
|
|
|
|
|
Biasanya orang-orang senasib dan sependeritaan sangatlah
penuh perhatian dan senantiasa bersedia menolong satu sama
lain. Tetapi tidak demikian dengan para pasien yang
berkerumun di tepi kolam di Betesda. Masalahnya, bila
sewaktu-waktu malaikat Tuhan mengaduk air kolam, maka
barangsiapa terjun paling dulu ke dalam air, akan menjadi
sembuh, apapun penyakitnya. Maka terjadilah drama
kemanusiaan yang setiap hari terjadi di sekitar kita.
Ketika sama-sama didera petaka dan saling membutuhkan,
orang bisa begitu berbelarasa (solider) bahkan rela
berkorban bagi teman-teman sepenanggungan. Sehingga
rasanya tidak terlalu keliru bila kita menyebut sikap
semacam itu bukan hanya sebagai solidaritas, tetapi bahkan
sebagai cinta-kasih. Namun begitu ada kesempatan untuk
menyelamatkan diri (sendiri), maka lunturlah belarasa dan
cinta-kasih itu. Pada akhirnya keselamatan diri lebih
penting ketimbang nasib orang lain. Dan untuk
merealisasikannya bila perlu teman sepenanggungan
ditinggalkan bahkan dikhianati.
Syukur Tuhan kita Yesus tidaklah demikian. Dari begitu
banyak orang yang menderita di tepi kolam Betesda, IA
memerhatikan dan menolong si lumpuh. Penulis Injil Yohanes
tidak menjelaskan mengapa. Seolah ia beranggapan bahwa
mestinya kita tahu bahwa seperti itulah Tuhan kita. IA
memilih untuk menolong orang yang tidak dapat menolong
dirinya sendiri. Ia memerhatikan orang yang ditinggalkan
dan dilupakan orang-orang di sekitarnya, orang-orang yang
seharusnya justru menolongnya.
Inilah makna terdalam dari kata peduli. Peduli bukan
hanya berarti dapat memahami perasaan dan penderitaan
orang lain (simpati). Peduli pada dasarnya berarti
bersedia menempatkan diri dalam perasaan dan penderitaan
orang lain (empati). Peduli bukan hanya memberi apa yang
tanpanya kita masih bisa bertahan. Peduli adalah pada
akhirnya memberi diri. Itu yang dilakukan Yesus. Itu yang
seharusnya kita lakukan. Setuju bukan?
[PWS] |
|
|
|
|
|
Arsip... |
|
|
|
|