Khotbah Minggu
  1 April 2007
Lukas 19 : 28 – 40
Mengiring Yesus Dengan Gembira dan Memuji-nya
   
  Saat para murid dan penduduk kota Yerusalem melihat Yesus masuk kota Yerusalem, mereka sangat gembira dan memuji Allah. Mungkin mereka membayangkan Yesus datang ke Yerusalem sebagai seorang Messias politis untuk membebaskan mereka dari belenggu penjajahan bangsa Romawi. Bukankah Yesus mempunyai kuasa mujizat yang hebat ? Harapan mereka bukan lah seperti yang dinubuatkan dalam Zakharia. 9:9 dimana dituliskan penduduk kota Yerusalem bersorak-sorai menyambut Messias yang menyatakan keadilan dan menghadirkan kasih Allah yang lemah-lembut. Jadi bukannya bersorak-sorai menyambut seorang Messias yang mengandalkan kekuasaan dengan menggunakan kekerasan.

Menyambut kedatangan Allah dengan gembira dan sukacita ketika tampil dengan kuasa-Nya yang menakjubkan ternyata juga seringkali menjadi gambaran sikap hidup kita sebagai orang beriman. Pada saat kita dihadapkan pada situasi yang sulit berhadapan dengan musuh, maka kita mengharapkan Allah segera menolong diri kita dengan kuasaNya yang menghancurkan setiap musuh kita. Tetapi ketika kedatangan Allah hanya tampil secara sederhana, terkesan lemah dan sama sekali tidak menunjukkan daya kuasa sebagaimana yang kita harapkan apakah kita bersedia menyambutNya dengan gembira dan sukacita? Bagaimana ketika Kristus yang kita imani itu ternyata bukan seorang Messias dengan kuasa politis dan militerisme. Apakah kita bersedia mengiringi Dia dengan gembira dan sukacita? Lebih khusus lagi apakah kita bersedia bersama dengan Tuhan Yesus berjalan beriringan untuk menderita dan memikul salibNya?

Pada saat harapan-harapan kita belum terkabulkan dan masalah-masalah berat yang kita hadapi tidak terselesaikan, masihkah ada sukacita dalam mengiringi Tuhan Yesus ? Bukankah Tuhan pernah mengingatkan: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku" (Luk. 9:23)?

(TT)
 
  Arsip...

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003