|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Teologi |
|
5
Maret 2008
Lebih Luar Biasa daripada “Yang Luar
Biasa” Fabian Buddy Pascoal |
|
|
|
Bukit Realita Kehidupan |
BAHAGIA” dan
“BAHAYA”, dari formulasi istilah, kedengarannya hampir
sama. Keduanya mempunyai kesamaan dalam empat huruf
pertama (“baha”). Dalam kehidupan sehari-hari, orang
bahkan bilang bahwa “bahagia” dan “bahaya” itu beda tipis.
Ada hal-hal yang semula kita maksudkan untuk mendapatkan
“bahagia”, tetapi ternyata berakhir dengan “bahaya”.
Kadangkala beberapa perbuatan yang “bahagia” dan “bahaya”
dimulai dari sebab yang sama, sebagaimana keempat huruf
tadi; tetapi, yang kemudian membedakannya adalah akhir
(ending) dari perbuatan-perbuatan tadi. Maunya dapat
“bahagia”, eh.. ternyata dapat “bahaya”.
Sebagai konsekuensi dari dicipta menurut Citra ALLAH
(Imago Dei), manusia memang mempunyai daya cipta yang
memampukan kita untuk melakukan temuan dalam upaya
meningkatkan kualitas dan/atau kenikmatan hidup. Teknologi
yang ada dan berkembang pesat telah memberi kita kemudahan
hidup. Tetapi, ternyata hal-hal yang membawa “bahagia”
tersebut pada banyak hal mempunyai sisi kedua, yakni
“bahaya”. Dalam hal lingkungan hidup, film “An
Inconvenient Truth” nya Al Gore membuka mata kita atas
kenyataan yang mengancam kehidupan kita, sekaligus
menantang kita dengan pertanyaan apakah alam mengkhianati
kita, atau justru kita yang mengkhianati alam? Ancaman
yang harus diwaspadai saat ini ternyata bukan hanya
terorisme, tetapi juga pemanasan global, yang bahkan
mungkin jauh lebih mengerikan. Kemajuan peradaban dan
teknologi yang semula diciptakan untuk kebahagiaan
ternyata meminta biaya berupa “kebahayaan” pada lingkungan
hidup manusia sendiri.
Perenungan Dr. Bob Moorehead, mantan pendeta di Overlake
Christian Church di Seattle, Amerika Serikat, berjudul
“The Paradox of Our Age “ di bawah ini mungkin dapat
mewakili dan meringkas realita yang ada di zaman ini:
“The paradox of our age is that we have taller buildings
but shorter tempers; wider freeways, but narrower
viewpoints. We spend more, but have less. We buy more, but
enjoy less. We have bigger houses, and smaller families;
more conveniences, but less time. We have more degrees but
less sense; more knowledge, but less judgment; more
experts, yet more problems; more medicine, but less
wellness.
We drink too much, smoke too much, spend too recklessly,
laugh too little, drive too fast, get too angry, stay up
too late, get up too tired, read too little, watch TV too
much, and pray too seldom.
We have multiplied our possessions, but reduced our
values. We talk too much, love too seldom, and hate too
often.
We’ve learned how to make a living, but not a life. We’ve
added years to life not life to years. We’ve been all the
way to the moon and back, but have trouble crossing the
street to meet a new neighbor. We conquered outer space
but not inner space. We’ve done larger things, but not
better things.
We’ve cleaned up the air, but polluted the soul. We’ve
conquered the atom, but not our prejudice. We write more,
but learn less. We plan more, but accomplish less. We’ve
learned to rush, but not to wait. We build more computers
to hold more information, to produce more copies than
ever, but we communicate less and less.
These are the times of fast foods and slow digestion, big
men and small character, steep profits and shallow
relationships. These are the days of two incomes but more
divorce; fancier houses, but broken homes. These are days
of quick trips, disposable diapers, throwaway morality,
one night stands, overweight bodies, and pills that do
everything from cheer, to quiet, to kill. It is a time
when there is much in the showroom window and nothing in
the stockroom…”
Membaca isinya membuat kita menyadari bahwa realita
sedemikian di atas semestinya tidak sekedar menjadi suatu
paradoks lagi, tetapi sudah menjadi tragedi dan ironi
kehidupan yang memang dapat bikin kita stress. Karenanya,
tidaklah mengherankan ketika suatu kali seorang psikiater
kedatangan seorang pasien baru yang mengeluh bahwa ia
kesepian dan tidak bahagia, sekaligus meminta advis dari
ahli ilmu jiwa tadi. Sang psikiater lantas menyarankan
agar pasiennya itu pergi ke sirkus yang baru beberapa hari
memulai atraksi mereka di kota itu. Sirkus itu menampilkan
seorang badut yang, sebagaimana didengar oleh psikiater
tadi, dapat membuat seorang yang sangat murung, tertawa
terpingkal-pingkal. Sang dokter berharap advisnya mujarab.
Suasana kemudian menjadi agak sedikit senyap, sampai
akhirnya sang pasien menjawab dengan suara rendah: “Pak
Dokter…sayalah badut itu”. Di puncak kariernya, badut itu
sendiri tidak bahagia, walau ia mampu membawa luapan
sukacita bagi orang lain.
Ratu Victoria dari Inggris, ratu yang sangat berpengaruh
di zamannya (1837-1901), ketika ditinggal mati di tahun
1861 oleh suaminya, Pangeran Albert, pun pernah berkata:
“Tidak ada lagi yang dapat memanggilku ‘Victoria’’”. Di
puncak tahtanya, ia sendiri kesepian, walau sangat
berkuasa.
Memang, dunia ini tidak dapat memberi manusia kebahagiaan
sejati. Di puncak bukit kesuksesan, kekayaan, dan
ketenaran sebagian besar orang, sesungguhnya hampir tidak
ada apa-apa, kecuali kekosongan secara spiritual. Nothing
on the top. Kita mungkin mempunyai fulfilling life, tetapi
mungkin bukan fulfilled life. Sejak jatuh dalam dosa,
Citra ALLAH dalam manusia mengalami kerusakan dan manusia
tidak lagi mempunyai hubungan yang sempurna dengan ALLAH.
Tetapi, walaupun sudah rusak, Citra ALLAH tetap ada dalam
manusia pada batas tertentu, antara lain, daya cipta
sebagaimana disinggung di atas, dan kekekalan jiwa.
Manusia mempunyai God spot dalam spiritualnya merindukan
adanya suatu hubungan dengan suatu Kuasa yang Lebih Besar
dari manusia guna melindungi kehidupan sekarang maupun
kehidupan berikut setelah kematian.
Di balik modernisme dan materialisme belakangan ini,
gerakan spiritualisme ternyata mulai mendapat tempat
bahkan mengalami kebangkitan. Kita lihat di lingkungan
kita bagaimana mulai banyak terbentuk gerakan-gerakan
berlabel agama. Juga, film-film TV dan bioskop sudah mulai
dijejali dengan film bertema spiritualisme, yang sayangnya
banyak tergelincir ke tema-tema horor. Memang, di dalam
bagian terdalam spiritualisme manusia terdapat suatu
kekosongan rohani yang tidak dapat diisi oleh “kebahagiaan
relatif” yang disediakan dunia. Karena itu, manusia terus
mencari dan mencari kebahagiaan sejati guna mengisi
kekosongan tadi. Tetapi, dapatkah kita menemukan yang kita
cari tadi? Alkitab mengatakan: “Ya!”. Di dalam Khotbah Di
Bukit dalam Matius 5, kita menemukan jalan menuju ke situ. |
|
|
|
Khotbah Di Bukit: Pengaruhnya ke
Kehidupan Kontemporer |
Khotbah Di
Bukit telah sangat mempengaruhi arah dan arus sejarah
dunia hingga pada masa sekarang (kontemporer) ini.
Khususnya dalam Matius 5:38-44 dikatakan: “Kamu telah
mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang
yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang
menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena
mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun
yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah
bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang
meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau
meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman:
Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi
Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi
mereka yang menganiaya kamu.”
Konsep ini mengajarkan mereka yang tertindas untuk
mengasihi para penindas dan tidak melakukan perlawanan
dengan cara kekerasan. Abraham Lincoln menerjemahkan
konsep itu, antara lain, dalam ungkapannya yang terkenal:
“Don’t I destroy my enemy when I make him my friend?”.
Di India, Mahatma Gandhi mulai mengenal, dan memutuskan
untuk mengikuti, prinsip-prinsip dalam Khotbah Di Bukit
setelah ia membaca buku Leo Tolstoy “The Kingdom of God is
Within You”, bahkan menurut legenda, ketika mati ditembak,
di dalam pakaian Gandhi ditemukan Alkitab. Gandhi adalah
perintis gerakan “Satyagraha” yang terutama menyerukan
perlawanan aktif terhadap kekerasan dengan tidak melakukan
kekerasan (non-violent resistance) yang kemudian membawa
India ke kemerdekaan di tahun 1947. Gerakan ini memberi
inspirasi bagi gerakan-gerakan hak asasi manusia (HAM) dan
kemerdekaan di seluruh dunia.
Dr. Marthin Luther King Jr., tokoh HAM Amerika Serikat
yang berlatar-belakang pendeta, juga kemudian mempelajari
pola perjuangan anti kekerasan Gandhi dan menerapkannya
dalam gerakan anti rasisme di Amerika Serikat ketika itu.
Dalam perjuangan damai itu, dari mulut Dr. King keluar
ungkapan, seperti: “the cross we bear precede the crown
we’ll wear” dan pidatonya yang terkenal “I have a dream…”.
Perjuangan demokrasi di Myanmar di bawah Aung San Suu Kyi
dan perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan oleh
Nelson Mandela juga terinspirasi oleh prinsip-prinsip
anti-kekerasan. Di Filipina, setelah kematian Benigno
Aquino Jr., “People Power” menjatuhkan pemerintahan Marcos
dengan turun ke jalan secara damai dan berdoa berlutut
kepada Tuhan persis di hadapan tank-tank tentara
menghalangi pergerakan tank-tank tersebut.
Gerakan menjatuhkan komunisme di Polandia
(*) juga
menggunakan metode turun ke jalan secara damai di mana
para pengunjuk rasa justru meneriakkan ungkapan-ungkapan
damai dan kasih seperti “we forgive you, we forgive you”
di depan gedung pusat partai komunisme Polandia. Kejatuhan
komunisme di Polandia kemudian mempunyai efek domino yang
akhirnya mendorong runtuhnya komunisme dalam skala jauh
lebih besar lagi. Di Jerman Timur, mula-mula ratusan orang
turun ke jalan secara damai dengan prosesi lilin. Kumpulan
ini kemudian meluas menjadi ribuan, puluhan ribu, ratusan
ribu, dan akhirnya ketika gelombang protes damai menarik
dan menghimpun sekitar sejuta orang, semua menyanyikan
lagu-lagu himne gereja, menjadi arus yang tidak tertahan
lagi membawa runtuhnya Tembok Berlin di tahun 1989, tanpa
ada satu butir peluru pun yang ditembakkan padahal dalam
sekitar 30 tahun sejarah Tembok Berlin sudah sekitar 200
orang mati ditembak tentara Jerman Timur ketika berusaha
menerobos Tembok Berlin. Kisah Yosua meruntuhkan Tembok
Yerikho hanya dengan puji-pujian (Yosua 6), terulang
kembali.
Sebelumnya di tahun 1987, di dekat Tembok Berlin, Presiden
Reagan menyerukan pidatonya yang terkenal ”Mr. Gorbachev,
tear down this wall!” menantang Pemimpin Uni Sovyet
tersebut untuk meruntuhkan Tembok Berlin yang telah
memisahkan bangsa Jerman sejak 1961. Sisanya adalah
sejarah: Jerman kembali bersatu di tahun 1990, Uni Sovyet
bubar di hari Natal 25 Desember 1991 menyisakan 15
republik di bawahnya menjadi negara yang independen.
Perang Dingin ternyata berakhir bukan dengan kekuatan
nuklir, tetapi oleh parade lilin yang secara damai
menyerukan pembebasan.
Runtuhnya tembok dan tirai pemisah ideologis kemudian
melahirkan jembatan-jembatan penghubung umat manusia
sedunia, yang makin didorong dengan berkembang infomasi
dan telekomunikasi. Sejak itu, globalisasi mulai
“menjangkiti” dan menjangkau lebih banyak bagian dunia,
termasuk Indonesia. Indonesia di awal 1990-an mulai
memasuki tahap keterbukaan yang pada saatnya turut
membidani gerakan reformasi di tahun 1997, hingga kita
akhirnya tiba di saat sekarang ini. Pada 15 Juni 2007,
Majelis Umum PBB menetapkan 2 Oktober (yang adalah hari
ulang tahun Mahatma Gandhi) sebagai “Hari Internasional
Anti-kekerasan”. Sungguh, “history is His Story”.
Pola perjuangan kontemporer dengan metode yang diajarkan
Khotbah Di Bukit memang membawa bahaya karena para
pesertanya “memasang badan” tanpa membawa senjata atau
alat bela diri, kecuali perlindungan suatu kekuatan ilahi
yang tidak kelihatan, padahal mereka harus berhadapan
dengan kekuatan bersenjata lengkap dan berat. Tetapi,
terbukti bahwa ternyata pola yang berbahaya ini membawa
akhir yang bahagia (happy ending) sekaligus lembaran baru
bagi kehidupan selanjutnya. |
|
|
|
Khotbah Di Bukit: Menuntut Lebih
Luar Biasa daripada “Yang Luar Biasa””; |
Khotbah Di
Bukit memang revolusioner. Rumusannya bukan hanya memberi
informasi kepada dunia, tetapi lebih jauh lagi telah
membawa dunia ke dalam suatu transformasi. Khotbah Di
Bukit lebih lanjut lagi bukan hanya berlaku dalam skala
makro, tetapi juga pada skala mikro, di mana ia
mentransformasi perspektif kita tentang kualifikasi mereka
yang berkenan kepada ALLAH dan definisi “bahagia”.
Dalam Matius 5:20, Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu
tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak
akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Betulkah ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi adalah orang-orang yang luar
biasa?
Orang-orang Farisi pada umumnya berperan sebagai guru dan
pemimpin pada rumah-rumah ibadah lokal dan sangat
menekankan ketaatan religius. Mereka mendorong doa rutin
tiap hari dan menghormati hari-hari suci. Para ahli Taurat,
walaupun tidak identik per se dengan kaum Farisi, menerima
prinsip-prinsip ajaran kaum Farisi. Sebaliknya, kaum
Farisi menerima para ahli taurat sebagai otoritas akademik
Hukum Taurat dalam hal penafsiran Hukum Taurat. Karena
kesamaan di antara mereka, para penulis Kitab Injil sering
mengasosiasikan mereka satu sama lain, antara lain,
disebut seperti “ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi”
(Mark 2:16 dan Kis.23:9).
Para tokoh agama ini menjabarkan kesepuluh Perintah ALLAH
(Keluaran 20) yang merupakan isi pokok dan awal dari Hukum
Taurat, ke dalam 613 peraturan (248 perintah dan 365
larangan), yang mencakup Hukum Moral, Hukum Upacara Agama,
Hukum Sipil dan Hukum Kesehatan, sehingga menjadikan Hukum
Taurat dasar kehidupan bangsa Israel secara pribadi, dalam
berkeluarga, berjemaat, bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara. Mereka sangat ketat bahkan berlebihan menjaga
ketaatan formal atas semua ini tetapi melalaikan yang
lebih esensial (Mat.23:23).
Umpamanya, untuk larangan menyebut nama TUHAN dengan
sembarangan, mereka hanya akan menulis “G_d” atau “JHWH”
saja dan tidak pernah menyebut kata “God” atau “Jahweh”
secara lisan. Dalam dunia kontemporer, di tempat-tempat
halal dalam lingkungan mereka, selalu ada dua dapur yang
memisahkan tempat memasak daging dan susu, guna menaati
larangan memasak daging dan susu bersama-sama (al.,
Keluaran 23:19). Terhadap larangan berzinah, mereka bahkan
tidak akan melihat atau berbicara dengan wanita yang bukan
istrinya. Setelah mereka menjalankan ritual menundukkan
dan membenturkan dahi ke dinding Tembok Ratapan, mereka
akan tetap menampilkan luka memar di dahi mereka guna
menunjukkan kesalehan dan ketaatan mereka atas ritual
formal tersebut.
Jangan juga heran kalau di Israel pada masa modern ini
terdapat elevator yang dikenal sebagai “elevator hari
Sabat”. Elevator ini akan berhenti pada tiap lantai pada
hari Sabat agar para Yahudi ortodox tidak perlu menekan
tombol yang dapat dianggap bekerja pada hari Sabat
(Kel.20:8: Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat) dan
“menyalakan api” (Keluaran 35:3: Janganlah kamu memasang
api di mana pun dalam tempat kediamanmu pada hari Sabat).
Adakah kita yang mampu menjalani kehidupan lebih daripada
pola hidup luar biasa yang dijabarkan di atas? Dari sudut
pandang manusia, melihat pola hidup mereka dibandingkan
dengan orang lain, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi
menjalani standar kehidupan yang harus diakui memang luar
biasa. Yesus sendiri mengakui tingginya standar hidup
keagamaan mereka dan bahkan menggariskan bahwa kalau kita
tidak melampauinya, kita tidak akan masuk ke dalam
Kerajaan Sorga.
Tetapi, sesungguh-sungguhnya, bila kita ubah sudut pandang
tadi, semula dari sudut pandang manusia, ke standar ALLAH
sebagai sudut pandang yang berlaku, kita akan menemukan
kesimpulan yang jauh berbeda, bahkan terbalik. Tetapi,
apakah yang menjadi standar ALLAH? Tidak lain adalah Hukum
Taurat dan Khotbah Di Bukit.
Bila kita simak dengan teliti, standar Khotbah Di Bukit
membuat kita makin menyadari betapa kita tidak mampu
menjalankan Hukum Taurat. Hukum Taurat dalam Keluaran
20:13 berkata: Jangan membunuh. Tetapi, Yesus bahkan
berkata dalam Khotbah Di Bukit “Setiap orang yang membenci
saudaranya sama dengan membunuh. Keluaran 20:14: Jangan
berzinah. Tetapi, bagi Yesus “setiap orang yang memandang
perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia
di dalam hatinya.”
Dengan
standar Khotbah Di Bukit, orang-orang Farisi dan ahli-ahli
Taurat menjadi sama sekali tidak luar biasa. Menerapkan
isi Khotbah Di Bukit terhadap mereka dan kita semua
membuat mereka sama dengan kita juga: pembunuh, pezinah,
pencuri dan pendusta. Singkatnya, di mata ALLAH, kita
sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kita
seperti kain kotor (Yesaya 64:6). Tingkat “luar biasa
kesalehan” mereka tadi tidak cukup untuk membawa mereka ke
Sorga. Roma 3:9-12: “… Adakah kita mempunyai kelebihan
dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas
telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani,
bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada
tertulis: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak
ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun
yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka
semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang
pun tidak.” Bukankah proses penyaliban Yesus merupakan
tragedi dan ironi terbesar, dan buah dari “kesalehan yang
luar biasa” dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat?
Mereka melakukan dosa terbesar tersebut (dengan memaksa
Pontius Pilatus menyalibkan Yesus pada hari Jumat) ketika
mereka bersamaan dengan itu di sisi lain berusaha
menjalankan Hukum Taurat yang melarang orang melakukan
aktivitas pada hari Sabtu (Hari Sabat). Dengan menyalibkan
Yesus pada hari Jumat berarti mereka dapat menghormati
Hari Sabat yang jatuh keesokan hari setelah penyaliban
Yesus tersebut.
Selanjutnya, Yakobus 2:10 berkata: “Sebab barangsiapa
menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian
dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya”.
Oleh sebab itu, “kesalehan” manusia siapa pun, termasuk
orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang “luar biasa”
tadi akan selalu gagal terhadap standar kebenaran yang
dituntut ALLAH. Tingkat “kesalehan” orang-orang Farisi dan
ahli-ahli Taurat tersebut akan gagal bukan karena terlalu
luar biasa, tetapi justru sebaliknya: sangat masih jauh
dari cukup untuk dapat memenuhi standar kebenaran yang
dituntut ALLAH. Bagian akhir Khotbah Di Bukit pada Matius
5:48 memberi tahu kita standar kesalehan yang dikehendaki
ALLAH: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti
Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
Karena tidak ada seorang pun yang benar di hadapan ALLAH,
maka kita semua adalah orang berdosa. Di dunia ini ada dua
kelompok orang berdosa, yakni mereka (a) yang tidak
mengakui dosanya dan ketidak-mungkinan memenuhi standar
kebenaran ALLAH oleh usaha sendiri dan (b) yang mengakui
dosanya dan ketidak-mungkinan tersebut. Para orang Farisi
dan ahli Taurat yang menyalibkan Yesus masuk dalam
kelompok (a). Mereka memang orang yang luar biasa, bila
dilihat dan dibandingkan dengan standar manusia. Tetapi
kendati begitu, ego mereka menghalangi mereka untuk cukup
mampu menyangkal dan mengosongkan diri meminta Anugerah
ALLAH.
Karenanya, siapakah sesungguhnya yang lebih luar biasa
daripada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang
Yesus maksudkan dalam Matius 5:20 tadi?
Mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita,
yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran,
yang murah hatinya, yang suci hatinya, yang membawa damai,
yang dianiaya oleh sebab kebenaran, dan yang dicela,
dianiaya dan difitnahkan segala yang jahat karena Yesus,
adalah mereka yang lebih luar biasa daripada orang-orang
Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka karenanya patut
disebut oleh Yesus sebagai “berbahagia”.
Apakah yang membuat mereka yang disebut Yesus dalam Matius
5:3-11 di atas, lebih berharga di mata Yesus dibandingkan
dengan para Farisi dan ahli Taurat? Mereka yang Yesus
sebut tadi mempunyai satu kesamaan, yakni kerendahan hati
untuk mengakui dosanya dan menyangkal kemungkinan memenuhi
standar kebenaran ALLAH oleh usaha sendiri. Penyangkalan
diri tadi membuat kita mampu mengosongkan diri meminta
Anugerah ALLAH sendiri untuk turun mengisi kekosongan tadi.
Inilah “kesempurnaan” yang Yesus kehendaki bagi manusia
untuk mendapatkan Anugerah berupa pengampunan dosa, karena
penyangkalan dan pengosongan diri adalah cara Yesus
sendiri ketika IA turun menjadi manusia (Filipi 2:7).
Yesus yang
menetapkan standar yang begitu dan terlalu tinggi dalam
Khotbah Di Bukit tadi adalah Yesus yang sama yang
menawarkan Pengampunan ALLAH sebagai Anugerah. Roma 3:24:
“…oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma
karena penebusan dalam Kristus Yesus”. Efesus 2:8-9:
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;
itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan
hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”
Yesus sangat tahu bahwa tidak akan ada seorang pun yang
dapat memenuhi Kesepuluh Perintah ALLAH dalam Keluaran 20,
apalagi setelah standar tersebut diperjelas oleh Yesus
dalam Matius 5 tadi. Karenanya, semua standar kebenaran
tersebut diberikan TUHAN memang bukan untuk manusia patuhi
secara sempurna, tetapi lebih untuk menjadi cermin dan
parameter bagi manusia tentang betapa berdosanya kita dan
betapa tidak mampunya kita dengan usaha sendiri, sehingga
terhadap standar tersebut tidak ada lagi yang dapat kita
lakukan selain (a) bertekuk-lutut mengakui ketidak-mampuan
kita untuk menyelamatkan diri dengan usaha sendiri dan
selanjutnya (b) meminta Anugerah ALLAH turun atas kita
untuk mengampuni kita dari dosa-dosa kita sekaligus
menjadikan kita ciptaan baru untuk menjalani kehidupan
iman yang bertumbuh dan berbuah bagi Kristus. St.
Agustinus berkata “GOD gives only when He finds empty
hands”. Memang, ALLAH turun tangan hanya ketika kita
angkat tangan.
Kesimpulan akhir: kita hanya dapat menemukan kebahagiaan
sejati bila kekosongan spiritual kita diisi oleh Pencipta
kita sendiri, ketika kita memilih untuk menerima tawaran
AnugerahNya dan selanjutnya berkata “Jesus, I’m yours!”
Yesus: Tuhan, Juruselamat dan Sahabat kita. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|