|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Teologi |
|
5 Januari 2008
Mengapa Allah Menjadi Manusia Pdt. Yohanes Bambang Mulyono |
|
|
Pertanyaan “mengapa Allah menjadi manusia” yang terdapat
dalam judul tersebut sebenarnya pernah diajukan oleh
seorang Uskup Agung Cantebury yaitu Anselmus. Dalam hal
ini Anselmus pernah menulis buku dengan judul: “Cur Deus
Homo” yang diterjemahkan menjadi: “Mengapa Allah menjadi
manusia”. Dalam pemikiran Anselmus, alasan mengapa Allah
mau menjadi manusia karena Allah tidak dapat menutup
realita dari kuasa dosa yang menguasai kehidupan manusia.
Realita kuasa dosa dalam kehidupan manusia sangatlah
melukai hatiNya. Dosa manusia telah melawan kekudusanNya.
Padahal kekudusan Allah adalah seperti api yang
menghanguskan (Ibr. 12:29). Itu sebabnya setiap dosa yang
diperbuat oleh umat manusia seharusnya dibinasakan.
Tetapi pada sisi lain, siapakah di antara umat manusia
yang mampu hidup benar, kudus dan berkenan kepadaNya?
Bukankah semua manusia telah berdosa dan tidak ada seorang
pun yang benar di hadapan Allah (Rom. 3:9-10)? Berarti
semua manusia telah berada di bawah hukuman dan murka
Allah, sehingga tidak ada seorang pun yang mampu selamat.
Apabila Allah memperhitungkan “prestasi rohani” manusia
berupa perbuatan baik dan amal ibadah mereka, maka tidak
ada seorang pun yang berhasil dan mampu menyelamatkan
dirinya dari hukuman-Nya. Padahal pada sisi lain, Allah
sangat mengasihi umat manusia.
Hakikat Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:8). Itu sebabnya
Allah ingin mengampuni manusia. Untuk mewujudkan
pengampunanNya tersebut Allah memutuskan untuk menjadi
seorang manusia dengan tujuan agar Dia dapat menjadi
korban yang mendamaikan. Allah bersedia untuk mengorbankan
diri-Nya. Karena dosa berasal dari kehidupan umat manusia,
maka pengorbanan yang dilakukan oleh Allah tersebut harus
terjadi dalam sejarah kehidupan manusia, yaitu melalui
pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Sehingga melalui
pengorbanan Kristus, Allah dapat menebus dan mengadakan
pendamaian atas dosa umat manusia. Itu sebabnya di 2 Kor.
5:19 Rasul Paulus berkata: “Sebab Allah mendamaikan dunia
dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan
pelanggaran mereka”.
Apabila kita melihat pemikiran Anselmus yang mengajukan
pertanyaan hakiki, yaitu: “Mengapa Allah menjadi manusia?”
maka kita dapat melihat dasar argumentasi yang utama dari
Anselmus pada korban pendamaian yang telah dilakukan oleh
Allah melalui karya penyaliban Kristus. Sebab melalui
peristiwa salib, kematian Kristus dipakai dan ditentukan
oleh Allah untuk menjadi korban yang mendamaikan.
Pemahaman korban pendamaian dalam hukum Taurat disebut
sebagai “syelamim”. Istilah “syelamim” berasal dari kata
“syalom” yang berarti: damai atau kesejahteraan. Selain
itu istilah “syelamim” berasal pula dari kata “syilem”
yang berarti: melunasi hutang atau membawa nazar. Sehingga
umat yang berdosa dianggap seperti seorang yang sedang
berhutang kepada Allah. Itu sebabnya mereka harus membayar
hutang mereka dengan korban “syelamim”, sehingga kemudian
dapat terjadi karya pendamaian. Jadi melalui korban
pendamaian (syelamim) dimaksudkan untuk memelihara dan
memperbaiki hubungan antara umat yang berdosa dengan
Allah, sehingga terwujudlah suatu keadaan damai-sejahtera
dan selamat (syalom).
Namun dalam perkembangan teologia di kemudian hari makin
disadari, bahwa korban pendamaian dengan Allah tidaklah
mungkin digunakan hewan korban sebagaimana yang telah
dilakukan umat Israel selama ini. Sebab bagaimana mungkin
hewan korban dapat mendamaikan manusia yang berdosa dengan
Allah yang kudus? Karena itu di Yes. 53 muncul gema nubuat
tentang seorang hamba Tuhan yang hidup benar tetapi Dia
menderita. Hamba Tuhan (Ebed Yahweh) tersebut ditentukan
oleh Allah untuk menanggung kesalahan dan dosa umat
manusia. Yes. 53:5-6 berkata: “Tetapi dia tertikam oleh
karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena
kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan
bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya
kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba,
masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi
TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.
Gambaran yang eskatologis tentang “Ebed Yahweh” di Yes. 53
tersebut dihayati oleh umat Kristen begitu sesuai dan
tepat dengan seluruh kehidupan Kristus. Sehingga dengan
penuh keyakinan dan iman, para rasul dan gereja perdana
menyaksikan Kristus yang telah menderita dan wafat di atas
kayu salib sesungguhnya adalah Messias yang telah
ditentukan oleh Allah untuk menjadi korban pendamaian (syelamim)
dengan umat manusia. Itu sebabnya dalam terjemahan “Hebrew
Names Version” tahun 2000, 2Kor. 5:19 dinyatakan dengan:
“namely, that God was in Messiah reconciling the world to
himself, not reckoning to them their trespasses, and
having committed to us the word of reconciliation”.
Pendamaian Allah dengan dunia ini dilakukan melalui
Kristus yang adalah Messias, yang mana karya pendamaian
Allah tersebut tidak memperhitungkan segala pelanggaran
dan dosa manusia.
Secara Alkitabiah sebenarnya kurang tepat menyatakan:
“Allah menjadi manusia”. Lebih tepat dalam penyataan
Kristus, Allah melalui FirmanNya berkenan menjadi manusia.
Itu sebabnya Yoh. 1:14 mengungkapkan: “Firman itu telah
menjadi manusia dan diam di antara kita dan kita telah
melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan
kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia
dan kebenaran”. Dalam pemikiran Alkitab disadari bahwa
Firman Allah yang menjelma menjadi Kristus pada hakikatnya
adalah Allah (Yoh. 1:1). Tetapi pada sisi lain, Firman
Allah tersebut berbeda dengan Allah. Allah dan Firman
Allah memiliki keunikan-Nya sendiri. Sehingga berulangkali
dalam Perjanjian Lama dinyatakan bahwa “Firman Tuhan” (dabar
Yahweh) datang kepada nabi-nabi misalnya kepada nabi
Yeremia (Yer. 1:4), Hosea (Hos. 1:1), Yunus (Yun. 1:1),
Mikha (Mikh. 1:1), Zefanya (Zef. 1:1). Dalam pemahaman
teologis ini Firman Tuhan tetap dihayati sebagai pribadi
Ilahi yang sehakikat dengan Allah. Sehingga alam semesta
dapat terjadi karena diciptakan oleh Firman Allah (Yoh.
1:3, Ibr. 11:3).
Karena Kristus adalah inkarnasi dari Firman Allah yang
menciptakan alam semesta dan manusia, tetapi manusia
memberi respon untuk menolakNya, maka di Injil Yohanes
menyaksikan, yaitu: “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia
dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia
datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang
kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (Yoh. 1:10-11).
Dengan demikian, teologi Kristen tetap mengakui bahwa
terdapat kesatuan yang hakiki antara Allah dan Firman-Nya,
serentak pula terdapat perbedaan di antara Allah dan
Firman-Nya; sehingga dalam Pengakuan Iman
Nicea-Konstantinopel menyatakan relasi yang unik, intim
dan tiada taranya antara Allah dengan Kristus, yaitu:
“diperanakkan, bukan dibuat, sehakikat dengan sang Bapa,
yang dengan perantaraan-Nya, segala sesuatu dibuat; yang
telah turun dari sorga untuk kita manusia dan untuk
keselamatan kita”.
Teologi inkarnasi Firman Allah yang menjelma menjadi
Kristus pada hakikatnya untuk mengaruniakan anugerah
keselamatan Allah agar tercipta keselamatan yang total dan
menyeluruh kepada umat manusia. Melalui inkarnasiNya,
Allah di dalam Kristus berkenan memberikan diriNya agar
manusia memperoleh hak waris kerajaan Allah. Jadi alasan
utama mengapa Allah di dalam Kristus menjelma manusia
adalah agar sejarah kehidupan manusia yang semula berada
dalam belenggu kuasa kegelapan dapat menjadi medan dari
karya keselamatan Allah, sehingga manusia yang percaya
kepada Kristus akan dikaruniai jabatan sebagai “anak-anak
Allah” (Yoh. 1:12). Sehingga di dalam diri Kristus,
sejarah kehidupan manusia dan realita kerajaan Allah dapat
bertemu menjadi satu kenyataan hidup umat manusia.
Apabila selama ini umat manusia gagal memperoleh
keselamatan dan menjadi anak-anak Allah karena
keterlibatan Firman Allah lebih banyak sebatas sebagai
“wahyu Allah” yang memberi ilham tentang kehendak Allah
dan hukum-hukumNya kepada umat manusia. Firman Tuhan yang
tercakup dalam hukum Taurat sangatlah rohani, tetapi
manusia dalam kodratnya sangatlah lemah dan berdosa (Rom.
7:14); sehingga tidak ada seorang pun yang mampu
memperoleh keselamatan dengan usaha, kekuatan, amal-ibadah
atau prestasi rohaninya sendiri untuk melakukan firman
Tuhan tersebut.
Itu sebabnya apa yang tidak mampu dilakukan oleh manusia,
itulah yang mampu dilakukan oleh Kristus bagi Allah. Di
dalam kehidupan Kristus, Allah tidak hanya sekedar
“berfirman dan memberi wahyu-Nya”; tetapi di dalam Kristus,
Allah secara total dan personal hadir dalam realitas
sejarah kehidupan umat manusia. Sehingga dalam keadaan-Nya
sebagai manusia, Tuhan Yesus dapat merasakan dan mengalami
seluruh kelemahan-kelemahan manusiawi kita, tetapi
hidupNya tetap kudus dan tanpa dosa (lihat Ibr. 4:15).
Konsekuensinya, hanya Kristus yang dapat menjadi
satu-satunya pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang
(Ibr. 5:9). Sebab melalui Kristus, Allah berkenan
melimpahkan kasih karuniaNya. Ibr. 4:16 berkata: “Sebab
itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri
takhta kasih-karunia, supaya kita menerima rahmat dan
menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita
pada waktunya”.
Alasan mengapa “Allah menjadi manusia” dari sudut yang
relasional yaitu: bahwa di dalam Kristus, Allah yang
Mahatinggi secara hakiki berkenan menjadi sahabat bagi
umat manusia. Sebab dalam keberdosaan dan kefanaannya,
umat manusia berada dalam situasi yang terasing dan
terbuang. Manusia tidak hanya terasing dari sesama dan
orang-orang di sekitarnya, tetapi dia juga terasing dengan
dirinya sendiri dan terasing dengan Allah. Sehingga dengan
keterasingan tersebut kehidupan manusia senantiasa
ditandai oleh “keretakan-keretakan” spiritual yang membuat
dia sering kehilangan makna dan tujuan hidupnya.
Melalui Kristus, Allah menempatkan diriNya sama dan setara
dengan umat manusia. Bahkan lebih dari pada itu, di dalam
penderitaan dan kematian Kristus, Allah berkenan
mengosongkan diriNya untuk menjadi seorang hamba yang
menderita dan mengalami perlakuan yang sewenang-wenang,
kejam dan tidak adil. Tujuannya agar di dalam Kristus,
Allah dapat merasakan pula seluruh penderitaan setiap
orang yang tidak berdaya. Sehingga di dalam Kristus, Allah
yang jauh menjadi Allah yang sangat dekat. Dia hadir dalam
realitas hidup manusia. Sangatlah tepat rasul Paulus
berkata tentang Kristus, yaitu: “Tetapi sekarang di dalam
Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh” sudah menjadi
“dekat” oleh darah Kristus. Karena Dialah damai-sejahtera
kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah
merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef.
2:13-14).
Melalui Kristus, realita eksistensial berupa
“keretakan-keretakan spiritual” yang memisahkan manusia
dengan dirinya, sesama dan Allah dapat direkatkan menjadi
suatu hubungan yang harmonis, yaitu damai-sejahtera Allah.
Umat manusia tidak lagi berada di bawah kuasa dosa. Kita
tidak lagi hidup sebagai seorang hamba, tetapi kita
disebut oleh Kristus sebagai “sahabat-sahabat-Nya”. Di Yoh.
15:15, Tuhan Yesus berkata: “Aku tidak menyebut kamu lagi
hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh
tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku
telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah
Kudengar dari BapaKu”.
Selama ini sejarah dan kehidupan manusia ditempatkan
sebagai sesuatu yang serba duniawi, sedang realitas yang
berkenaan Allah seperti agama dan ibadah sebagai sesuatu
yang rohaniah. Filsafat Neo-Platonisme dalam kurun waktu
yang sangat panjang telah berhasil membangun suatu
paradigma dan pola hidup yang serba dualistis, yaitu
antara dunia materi dan dunia roh. Pekerjaan, profesi atau
karier merupakan bentuk dari materi yang duniawi. Sedang
segala hal yang berkaitan dengan ibadah dan keagamaan
dianggap sebagai serba rohaniah. Itu sebabnya teologia
yang dipengaruhi oleh neo-Platonisme mendorong agar umat
meninggalkan pekerjaan “duniawinya” dan beralih menjadi
seorang “hamba Tuhan”. Padahal Allah yang menjadi manusia
di dalam Kristus, justru bertujuan untuk menguduskan
seluruh dunia “materi”, sehingga di dalam Kristus tidak
ada lagi paradigma atau pola hidup yang serba dualistis.
Selama 30 tahun Kristus berprofesi sebagai “anak tukang
kayu”. Maknanya adalah bahwa pekerjaan tukang kayu yang
pada zaman itu dianggap kurang terhormat dan kurang suci;
justru kini di dalam terang Kristus semua pekerjaan yang
dianggap “duniawi” tersebut menjadi suatu pekerjaan yang
setara dan sama sucinya dengan pekerjaan seorang Imam atau
Ahli Taurat. Dalam hal ini Martin Luther dengan teologi
“Imamat Am Orang Percaya” menegaskan bahwa jabatan seorang
Imam atau pastor dan pendeta tidak lebih mulia dari pada
jabatan atau profesi seorang “awam”. Semua orang dalam
setiap jabatan atau profesinya adalah seorang Imam. Dengan
demikian, melalui inkarnasi Kristus, Allah telah
menguduskan semua aspek kehidupan dalam sejarah umat
manusia. Semua hal dan setiap bidang kehidupan manusia
adalah kudus. Karena itu manusia dipanggil oleh Allah
dengan anugerah-Nya untuk hidup kudus.
Di 1Petr. 1:15-16, firman Tuhan berkata: “tetapi hendaklah
kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti
Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada
tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”. Sehingga di
dalam Kristus, umat percaya dipanggil untuk mampu
menghargai setiap bidang kehidupan, mampu mengelolanya
dengan penuh rasa tanggungjawab kepada Tuhan dan sesamanya;
serta memperlakukan semua aspek kehidupan ini secara
kudus.
Dengan demikian, makin menjadi jelas bahwa alasan Allah
menjadi manusia bukanlah sekedar untuk suatu kisah
petualangan (adventure) teologis yang romantis dalam
sejarah hidup manusia. Allah berkenan menjadi manusia juga
bukan karena Dia ingin sekedar solider dengan penderitaan
dan permasalahan manusia. Tetapi dalam inkarnasi-Nya
melalui Kristus, Allah memberi kepenuhan kasih karunia-Nya
kepada umat yang percaya sehingga terciptalah suatu syalom,
yaitu damai-sejahtera dan keselamatan yang menyeluruh
dalam kehidupan manusia.
Allah berkenan menjadi manusia pada hakikatnya bertujuan
untuk mengaruniakan keselamatan, yang tidak mungkin mampu
dilakukan dengan upaya dan usaha manusia. Sehingga
seandainya Allah tidak pernah menjadi manusia dalam
inkarnasi Kristus, maka seluruh umat manusia dengan agama
dan kepercayaan serta semua prestasi rohaninya tetap
berada di bawah hukuman dan murka Allah.
www.yohanesbm.com |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|