|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Renungan |
|
1 Juli 2008
Tetap Teguh pada Janji Allah
Pdt. Rudianto Djajakartika |
|
|
Kepercayaan kepada Allah seharusnya nampak dalam keteguhan
seseorang untuk selalu berpegang atau memegang janjiNya.
Bahkan ketika kita tidak lagi menjumpai alasan (logis)
untuk tetap berpegang pada janjiNya, kita harus tetap
teguh berpegang pada janjiNya (Roma 4:18). Itulah
hakikat dari kata ‘percaya’ yaitu: ‘bukti dari segala
sesuatu yang tidak kita lihat’! (Ibrani 11:1).
Namun pada kenyataannya, ‘tetap teguh pada janji Allah’
tidaklah semudah kita mengucapkannya atau menteorikannya.
Mengapa demikian? Karena:
- Janji Allah itu kadang tidak spesifik, sehingga dapat
diartikan bermacam-macam. Pada waktu Allah memanggil
Abram (Abraham) keluar dari rumah bapanya, Allah hanya
mengatakan ‘pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan
kepadamu’ (Kejadian 12:1). Negeri mana? Tidak tahu, pokoknya
pergi saja, nanti akan tahu. Begitu juga janji
penyertaan Tuhan pada yang sakit, kadang dapat diartikan
‘sembuh’ atau ‘tetap sakit tapi mendapat kekuatan untuk
menghadapi penyakit itu’. Lalu yang mana? Tidak tahu! Ya
itulah bagian dari pergumulan iman untuk tetap percaya.
Manusia harus mencarinya.
- Manusia diciptakan sebagai mahluk yang berpikir.
Karena itu, manusia punya kecenderungan untuk mencari
alasan (logis) sebagai dasar untuk bisa memercayai
segala sesuatu. Tak terkecuali janji Allah. Nah, ketika
manusia tidak lagi menjumpai alasan (logis) yang menjadi
dasar percayanya, dia bisa tetap percaya, tetapi
mengartikan percayanya itu dalam bentuk yang berbeda.
Atau, dia menjadi tidak percaya!
- Manusia mempunyai kecenderungan untuk fokus pada
masalah yang tengah dihadapinya. Ini adalah bagian dari
mekanisme pertahanan dirinya (defense mechanism). Tetapi
akibatnya, kadang ia tidak lagi mampu fokus kepada Allah
dan janjiNya.
Mari kita melihat ketiga hal ini dalam pergumulan iman
Abraham, khususnya ketika ia mendapat janji Allah, bahwa
ia akan mempunyai keturunan. Ternyata janji Allah kepada
Abraham hanyalah akan mendapat keturunan (Kejadian 15:3-6). Baru pada masa kemudian, Allah mengulangi janjiNya,
bahwa Abraham akan mendapat keturunan melalui Sara
istrinya (Kejadian 18:10). Di antara fatsal 15 dan 18,
terdapatlah kisah Abraham menghampiri Hagar, hamba Sara
(Kejadian 16:2) dan lahirlah Ismael.
Ternyata Abraham yang mengikuti pemikiran Sara, salah!
Janji Tuhan tentang keturunan Abraham itu adalah melalui
Sara istrinya, bukan melalui Hagar. Salahkah Sara (dan
Abraham) yang memikirkan alternatif penggenapan janji
Tuhan melalui Hagar? Tidak juga. Kejadian 16:1 dimulai
dengan satu pernyataan: ‘Sarai (Sara) tidak mempunyai
anak’! Jadi secara logis memang tidak ada alasan untuk
bisa memercayai janji Tuhan itu melalui Sarai. Maka
dicari alternatif melalui Hagar. Dan cara semacam itu
memang dimungkinkan (secara kultural, pada waktu itu).
Abraham dan Sarai tetap percaya pada janji Tuhan, tetapi
mereka mengartikan janji itu berbeda dari yang Tuhan
maksudkan!
Dalam kasus yang lain, kita juga melihat kegagalan
Abraham untuk terus berpegang pada janji Allah. Baru
saja Allah berjanji untuk menyertai dan memberkati
Abraham (Kejadian 12:3). Tetapi ketika Abraham sampai ke
Mesir dan menghadapi ancaman dari Firaun, ia berbohong
bahwa Sarai adiknya, bukan istrinya (Kejadian 12:18-19). Rupanya Abram (Abraham) tidak mampu lagi fokus pada
Allah ketika menghadapi bahaya di Mesir. Ia hanya fokus
pada masalah dan bersiasat untuk mengatasi masalah tanpa
melibatkan Allah (Kejadian 12:11-13).
Pengalaman Abraham ini merupakan gambaran dari
pengalaman manusiawi kita. Tidak selamanya mudah untuk
bisa terus berpegang teguh pada janji Allah. Ada banyak
faktor-faktor manusiawi yang membuat manusia kadang bisa
melupakan atau meragukan janji Tuhan. Tentu ini bukan
alasan untuk kita memaafkan diri sendiri manakala kita
gagal berpegang teguh pada janji Allah. Kesalahan adalah
kesalahan yang harus kita sesali dan perbaiki! Namun
jangan juga terlalu menghukum diri sendiri yang malahan
membuat kita tidak mampu bangkit kembali.
Yang menarik adalah, mengapa dari satu kegagalan kepada
yang lain, Allah tetap menyertai dan memberkati Abraham?
Bahkan dalam Roma 4:19-22, Abraham digambarkan begitu
sempurna imannya, seolah ia tidak pernah gagal! Di
sinilah kita boleh belajar tentang kasih dan anugrah
Allah. Ternyata ‘tetap teguh pada janji Allah’ itu
adalah sebuah proses, yang melewati kegagalan dan
keberhasilan. Yang ideal tentu ketika proses ini
dilewati hanya dengan keberhasilan terus menerus tanpa
pernah gagal! Namun ketika kita gagal, kita juga tidak
perlu berkecil hati. Tuhan selalu memberi kesempatan
buat Abraham (dan juga kita) untuk memperbaiki diri.
Dalam rangka memperbaiki diri itulah, kita mengevaluasi
kegagalan kita, menyesalinya dan bangkit kembali untuk
berpegang teguh pada janjiNya. Abraham akhirnya berhasil.
Imannya sungguh luar biasa. Di masa kemudian (Kejadian 22), ia lulus ujian iman. Ia rela mempersembahkan Ishak,
putra perjanjian Allah itu, karena ia percaya bahwa
Allah tetap akan menggenapi janjiNya melalui Ishak.
Kalaupun Ishak mati, maka Allah akan membangkitkan Ishak
kembali (Ibrani 11:17-19). Sebuah proses bagi Allah
bukanlah apakah seseorang itu gagal atau berhasil
menjalaninya, tetapi apakah seseorang itu mampu bangkit
kembali, ketika gagal dan akhirnya berhasil menjalani
proses itu dengan baik.
Ketika seseorang mampu bangkit dan kembali berpegang
teguh pada janjiNya, maka Allah memperhitungkan itu
sebagai sebuah kebenaran (Roma 4:22). Dan ini tidak
hanya berlaku buat Abraham, tetapi buat kita semua (Roma
4:23-24). Inilah yang dimaksud dengan ‘dibenarkan karena
iman’. Allah memberi kesempatan buat kita untuk bangkit
dari dosa masa lalu dan memulai hidup baru bersamaNya.
Kita patut bersyukur mempunyai Allah yang penuh dengan
kasih karunia. Allah yang selalu memberi kesempatan
kedua! Tentu ruang yang diberikan Allah ini bukanlah
ruang untuk kita boleh terus berbuat dosa kembali. Ruang
ini adalah ruang pertobatan dan memperbaiki diri. Setiap
orang beriman dan gereja harus selalu menyediakan ruang
ini buat para pendosa. Dengan demikian kita lalu boleh
menjadi saluran anugerahNya.
Nah, selamat berproses untuk tetap teguh pada janji
Allah! Tuhan memberkati. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|