|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Renungan |
|
28 Pebruari 2007
Komitmen dalam Kata dan Karya
Matius 5:37
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
Bila
seseorang bertanya kepada kita: “Anda mau minum apa?
Kopi...?” maka kita dapat mengiyakannya atau menyatakan
“ya” maupun menolaknya atau menyatakan “tidak”. Begitupan
dalam menjawab pertanyaan–pertanyaan yang sulit dan berat,
bahkan menentukan dalam hidup kita, misalnya: “Apakah Anda
bermaksud untuk berhenti merokok...?”. Apalagi ini:
“Apakah Anda bersedia melayani dalam Komisi Pekabaran
Injil...?”
Tema kita mengisyaratkan bahwa bila kita menyatakan “ya”
maka haruslah itu benar-benar “ya” dalam praktik. Sikap
konsekuen dan konsisten atas apa yang telah dinyatakan
atau dipilih seperti itu, adalah juga sikap yang
menentukan dalam relasi dengan Tuhan dan dengan/dalam
jemaat Tuhan. Sebagai orang Kristen kita semua mestinya
seperti itu.
Namun yang terjadi dalam kenyataan sesehari di sekitar
kita justru kerap sebaliknya. “Kata” tidak selalu sesuai
dengan “perbuatan”atau “karya”. Mulai dari hal-hal kecil
dan sederhana, hingga hal-hal yang besar dan menentukan.
Mulai dari “janji-janji yang tidak ditepati” hingga
penerapan “standar/tolok ukur ganda”. Ketidaktepatan waktu
misalnya, adalah sesuatu yang dianggap sepele oleh banyak
orang, padahal itu adalah mentalitas yang mencoreng nama
bangsa kita. Sebab bila menepati waktu saja sulit
bagaimanakah lalu menepati janji yang lebih penting
seperti janji tentang kualitas produksi, janji kesetiaan,
bahkan janji iman? Yang tidak kalah memrihatinkan adalah
penerapan tolok ukur ganda pada banyak orang. Misalnya
orang tua yang melarang anak secara konsisten untuk tidak
berdusta, tetapi mereka sendiri kerap berdusta di hadapan
anak mereka. Atau yang lebih parah lagi kecenderungan
orang untuk menghakimi orang lain dengan kejam tentang
sikap moral tertentu, padahal ia sendiri kerap
melanggarnya.
Dalam Alkitab
“ya” tidaklah sekadar “ya” dan “tidak” juga bukan sekadar
“tidak”. Matius 5: 37 berbunyi demikian: “Jika ya,
hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu
katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari
si jahat.”
Konteks dari ayat ini adalah nasihat Yesus untuk tidak
bersumpah, yang didasarkan pada 10 Hukum Allah, tepatnya
hukum yang ketiga. Mengapakah Yesus perlu menasihatkan hal
ini? Karena kelemahan kita: “ya” kita ternyata tidaklah
selalu “ya” dan “tidak” yang kita ucapkan juga acapkali
bukan “tidak”.
Dalam kehidupan sesehari sumpah diperlukan, misalnya di
pengadilan atau di kemiliteran, karena pada dasarnya
ucapan atau janji biasa dari kita seringkali tidak dapat
dipegangi. Dan ketika ternyata bahkan sumpah tidak lagi
dapat dipercaya, maka sumpah dikaitkan dengan jaminan
tertentu agar bona fide (dapat dipercaya): “...demi
kepalaku... demi roh nenek moyangku... biar disamber
geledek... dan banyak lagi. Lalu ketika semua itu juga
tidak dapat dipercaya, maka: “...demi Tuhan...!”
Persoalannya adalah bahwa memang Tuhan takkan ingkar janji
akan tetapi kita justru sebaliknya, juga bahkan ketika
nama Tuhan kita pakai agar kita dapat dipercaya.
Yang dikecam Yesus di sini tentunya pertama-tama motivasi
penyalahgunaan nama Tuhan itu. Namun lebih daripada itu,
yang disesalkan Tuhan adalah bahwa di balik kecenderungan
untuk memakai nama Tuhan dengan sembarangan itu terdapat
pemahaman yang mendua mengenai hidup dalam Tuhan. Dalam
cara berpikir ini ada hal-hal yang dianggap “rohani” dan
yang “duniawi”, misalnya musik, bacaan, tingkah-laku,
termasuk janji. Asumsiya adalah bahwa bila Tuhan
diikutsertakan maka janji itu menjadi “rohani” sifatnya,
sehingga bona fide.
Padahal hidup tidak terbagi dalam kompartimen-kompartimen,
di mana dalam beberapa Tuhan ikut-campur tetapi dalam
beberapa yang lain tidak... Diikutsertakan atau tidak Ia
ada, hadir di mana-mana. Jadi walau bersumpah “bukan atas
nama Tuhan”, tetap sama dengan “atas nama Tuhan”!
Tetapi lalu bagaimana? Sebab kita masih hidup di dunia di
mana “sumpah” masih diperlukan. Tuhan menegaskan di sini
bahwa bersumpah tidak perlu. Cukup asalkan “ya” kita
benar-benar “ya”! Sebab bila tidak, berarti datangnya
bukan dari Tuhan! Dan bila kita memang percaya kepada-Nya
dan mengikut Dia, maka “ya” kita haruslah “ya” dan “tidak”
kita juga adalah “tidak”, sebab itu selalu juga berarti
“ya” terhadap Tuhan...!!!
Maka
kata-kata Tuhan Yesus ini menempatkan kita pada 2
kewajiban:
- Kewajiban untuk hidup, bersikap dan bertindak sedemikian
rupa, sehingga orang “percaya” kepada kita, dan tak
menuntut kita untuk bersumpah...
- Kewajiban untuk menjunjung kebenaran dan mengupayakan
agar dunia kita ini “bisa dipercaya”.
Dan akhirnya begitu pun “ya” dari kita semua. Tidak perlu
bersumpah. Cukup berusaha agar “ya” yang diucapkan satu
terhadap yang lain, tetaplah “ya” selama hayat dikandung
badan! Namun mengingat kelemahan dan kecenderungan kita
maka hal ini dapat menjadi upaya menggantang angin,
kecuali kita menyadari bahwa “ya” berarti usaha yang
terus-menerus, proses yang harus selalu berlangsung:
- proses untuk tetap “ya” terhadap satu sama lain (tanpa
syarat apapun, misalnya “memberi salam bahkan kepada yang
tak mau memberi salam kepada kita” dan ”berdoa bagi musuh
kita”).
- proses untuk tetap “ya” dalam pelayanan (ketekunan,
kesetiaan, berapapun harga yang harus “dibayar”).
- proses untuk tetap “ya” terhadap Tuhan (tanpa ini
mustahil, sebab dasar yang kokoh dari “ya” kita adalah
bahwa Allah dalam Kristus telah berkata “ya” terhadap kita).
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|