|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Renungan |
|
7 Nopember 2006
Yesusku, Yesus keluargaku! [Yosua 24:15]
Pdt. Rudianto Djajakartika |
|
|
Dalam
pernikahan kadang dikenal apa yang disebut sebagai
pembaharuan janji. Biasanya pembaharuan janji ini
dilakukan pada waktu ulangtahun pernikahan. Suami-isteri
kembali mengungkapkan janji kasih setia mereka. Tentu
pembaharuan janji ini tidak hanya berhenti di mulut saja.
Harus ada pembaharuan relasi yang sungguh nyata. Yang
nampak nyata dalam relasi keseharian pasutri tersebut.
Tetapi bukan hanya relasi pasutri saja yang harus
dibaharui. Relasi dengan Tuhan pun senantiasa membutuhkan
pembaharuan. Selalu saja ada hambatan dan rintangan yang
dapat mempengaruhi relasi umat dengan Tuhannya. Begitu
juga relasi umat Israel dengan Tuhan pada zaman Yosua.
Kemenangan demi kemenangan dalam menaklukkan Kanaan tidak
membuat umat makin mendekat dengan Tuhan, tetapi justru
makin menjauh. Dewa-dewa Kanaan (allah orang Amori - Yos.
24:15) nampaknya begitu mempesona umat sehingga mereka
melupakan Tuhan yang sudah menghadirkan kemenangan buat
mereka. Karena itu, Yosua mengajak umat untuk membaharui
relasinya dengan Tuhan di Sikhem. Umat harus sekali lagi
menetapkan pilihan mereka, apakah akan mengikut Tuhan yang
sudah menghadirkan kemenangan buat mereka atau mengikut
allah orang Amori!
Yang menarik dalam pembaharuan janji ini adalah pernyataan
dan pilihan Yosua, bahwa Ia dan keluarganya (seisi
rumahnya) akan beribadah kepada Tuhan! Dari sini kita
melihat, bahwa pembaharuan relasi dengan Tuhan seharusnya
punya dampak bukan hanya dalam diri orang tersebut tetapi
juga keluarganya. Pilihan kita untuk mengikut Yesus, mau
tidak mau memang memanggil kita untuk menterapkan ajaran
Yesus bukan hanya dalam diri kita tetapi juga menjadi
norma keluarga kita.
Nah, saudara,
seiring dengan perjalanan keluarga anda, mungkin ada
saatnya anda berhenti sejenak dan kembali merenung.
Benarkah norma-norma yang Yesus ajarkan masih menjadi
norma-norma keluarga kita? Jangan-jangan sudah terjadi
pergeseran. Ada banyak norma lain di dunia ini yang kadang
tanpa sadar bisa mempengaruhi kehidupan keluarga, seperti
misalnya: materialisme. Kita memang masih ke gereja, masih
beribadah tiap minggu, tetapi di hari lain, kita sudah
lupa untuk tetap membawa norma Yesus dalam perilaku
keseharian kita. Juga dalam hidup berkeluarga kita.
Dalam hidup ini selalu dibutuhkan yang namanya pembaharuan
relasi, termasuk dengan Tuhan. Mungkin kini saatnya.
Ambillah waktu sejenak untuk kembali merenung bersama
seluruh keluarga. Apakah Yesusku masih menjadi Yesus
keluargaku juga? Selamat membaharui relasi anda dengan Dia
yang selalu mengasihi kita. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|