|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Renungan |
|
30 Juni 2006
Karena Tuhan Peduli Kitapun Peduli [Amsal 3:27-30]
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
Mengapa kita harus mengasihi (baca: berbuat baik kepada)
sesama kita? Sebagai orang percaya kita mestinya langsung
tahu jawabannya. Bukan supaya masuk surga atau
mengumpulkan pahala untuk itu. Juga bukan pamer supaya
dipuji orang lain. Karena dengan begitu perbuatan baik
kita tidak tulus. Kita berbuat baik kepada orang lain
karena Tuhan sudah terlebih dahulu berbuat baik kepada
kita, sesuai tema kita di atas. Tetapi tidakkah itu sama
saja, tidak tulus? Tidak. Karena Tuhan berbuat baik kepada
kita agar kita berbuat baik kepada sesama kita. Sederhana
bukan? Dalam kenyataannya tidak.
Dalam kenyataan hidup sesehari banyak sekali orang yang
tahu – mungkin termasuk kita, – bahwa berbuat baik
terhadap sesama adalah kehendak Tuhan, tetapi tidak banyak
di antara mereka yang sungguh-sungguh berbuat baik seperti
yang Tuhan kehendaki, artinya berbuat baik terhadap sesama
tanpa memilah-milah siapa. Tidakkah sebelum kita melakukan
sesuatu yang baik terhadap orang lain, kita
mempertimbangkan dahulu beberapa hal: temankah dia,
kenalan, sesuku, semarga, sebangsa, seiman, bisakah dia
dipercaya, selanjutnya akankah dia terus merongrong kita?
Dan banyak lagi pertimbangan atau filter melalui mana kita
menyaring kepada siapa kita harus atau patut berbuat baik.
Amsal 3:27-30 adalah nasihat-nasihat praktis bagi orang
percaya, bagi kita semua. Nasihat praktis agar kita
berbuat baik terhadap sesama tanpa “memandang bulu”. Sebab
persoalannya bukan pada orang-orang kepada siapa kita
harus berbuat baik, tetapi pada diri kita sendiri. Amsal
ini menasihati kita: orang yang bijaksana (baca: takut
kepada Tuhan) adalah orang yang jujur dan adil dalam
relasi dengan orang lain. Bagaimanakah itu?
Pertama, orang bijaksana adalah orang yang selalu siap
untuk menolong (ayat 27-28). Namun lebih tajam lagi:
janganlah menjadi penghalang orang menerima pertolongan (haknya),
terutama bila pertolongan itu seharusnya datang dari
dirimu, dan dirimu mampu melakukannya (ayat 27)! Dalih
apapun tidak berlaku untuk menghindarkan diri dari
kewajiban ini. Bahkan menunda-nunda pun adalah salah.
Kalau bisa sekarang, mengapa harus menunggu sebelum
memberikannya (ayat 28). Paradigmanya sangat indah: dalam
relasi antar manusia, orang yang membutuhkan selalu harus
segera ditolong oleh orang yang mampu melakukannya!
Kedua, orang yang bijaksana adalah orang yang dapat
dipercaya dan diandalkan. Jadi ungkapan semacam “menohok
kawan seiring”, atau “menggunting dalam lipatan” tidak
boleh mendapat tempat dalam relasi antar manusia. Apabila
orang mempercayaimu serta mempercayakan banyak hal bahkan
rahasia kepadamu, janganlah sekali-kali menyalahgunakannya.
Merencanakan kejahatan terhadap orang lain adalah kekejian.
Tetapi merencanakan kejahatan terhadap orang yang
mempercayai kita adalah pengkhianatan tiada tara. Dasarnya
adalah gema dari Amsal 3:3: relasi antar manusia mestinya
diterangi oleh prinsip keramahtamahan dan kesetiaan.
Ketiga, orang yang bijaksana adalah orang yang ramah. Ada
orang yang gemar dan selalu siap untuk bertengkar dengan
tetangganya. Sedikit kata atau sikap yang dianggap tidak
menyenangkan atau tajam langsung dibalas dengan kata atau
sikap yang lebih keji dan lebih tajam lagi. Jelas ia
bukanlah seorang yang bijaksana. Bersikap tidak ramah
terhadap orang yang salah sekalipun bukanlah sikap orang
percaya (Yesus: “...berdoalah bagi musuhmu...”). Maka
bersikap tidak ramah terhadap orang yang sama sekali tidak
melakukan apapun kepada kita, adalah sikap yang amat tidak
terpuji. Dengan keramahtamahan relasi antar manusia akan
tergalang dan bertumbuh.
Maka pertanyaannya tinggal bagaimana menjembatani antara
yang kita imani dengan yang kita hidupi, antar yang kita
tahu dengan yang kita lakukan. Untuk itu perlu kita
kembali pada alinea pertama di atas, kembali pada tema
kita: “Karena Tuhan Peduli Kitapun Peduli” yang
mengandaikan bahwa “kita berbuat baik kepada orang lain
karena Tuhan sudah terlebih dahulu berbuat baik kepada
kita”. Sekilas memang kesannya tidak tulus: sekadar
“membalas” kebaikan Tuhan. Tetapi lebih dalam daripada itu,
adalah benang merah Kitab Suci bahwa berkat diberikan agar
yang diberkati pada gilirannya menjadi berkat bagi orang
lain. Jadi tujuan akhirnya adalah “semua orang diberkati”.
Karena yang diperhatikan dan diprihatinkan Allah adalah
segenap ciptaan-Nya, bukan cuma orang Yahudi, bukan cuma
orang Kristen, dan pasti bukan cuma jemaat GKI Pondok
Indah.
Tanggal 20 Juni 2006 GKI Pondok Indah merayakan hari ulang
tahunnya yang ke 22. Selama 22 tahun Allah sudah
memberikan berkat-Nya kepada kita. Selama itu pula Allah
peduli kepada kita. Maka pertanyaannya: sudahkah kita
menjadi berkat? Sudahkah kita menunjukkan kepedulian
kepada sesama gereja, sesama jemaat, sesama orang percaya,
sesama manusia? Tentu tidak keliru bila kita menjawab
sudah. Terutama mengingat “berapa” yang sudah kita
keluarkan dan anggarkan dalam program pelayanan “oikmas” (oikumene
dan masyarakat). Tetapi sudah cukupkah itu? Pernahkah akan
cukup?
Karena Tuhan peduli kitapun peduli bahkan kian peduli.
Yaitu dengan cara menjadi gereja yang kian hari kian
bijaksana (baca: takut kepada Tuhan): kian hari selalu
kian siap untuk menolong siapapun; kian hari kian dapat
dipercaya dan diandalkan; kian hari kian ramah. Namun
jangan lupa: gereja yang bijaksana adalah gereja yang
semua warganya (baik yang terdaftar maupun yang tidak)
juga bijaksana, termasuk Anda!
Dirgahayu GKI Pondok Indah. Syukur kepada-Nya, Raja Gereja.
Kita yang menanam dan menyiram, tetapi IA yang
mengaruniakan pertumbuhan! |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|