|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Renungan |
|
28 Pebruari 2006
Peka Terhadap Sapaan Tuhan; 1 Samuel 3:1-15
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
Ada sebuah legenda dalam kitab Talmud yang amat menarik
dan relevan bagi kita. Alkisah rabi Yosua ben Lewi menemui
nabi Elia yang sedang berdiri di depan sebuah gua. Ia
bertanya:
“Kapankah sang Mesias datang?”
“Tanyakan sendiri kepadanya,” jawab Elia.
“Di manakah dia?”
“Ia ada di pintu gerbang kota.”
“Bagaimanakah saya dapat mengenalinya?” Tanya rabi Yosua
lebih lanjut.
“Ia duduk di antara orang-orang yang miskin dan penuh luka.
Orang-orang yang lain membuka semua balutan luka-luka
mereka, kemudian membalutnya lagi. Tetapi sang Mesias
membuka balutan lukanya sendiri kemudian membalutnya lagi
satu persatu, sambil berkata kepada dirinya sendiri:
‘Dengan begini, bila aku dibutuhkan, aku bisa selalu siap
untuk memberikan pertolongan, tanpa perlu membuang waktu.’
Rabi Yosua ben Lewi kemudian menemui sang Mesias di pintu
gerbang kota.
“Damai sejahtera bagimu, wahai panutanku dan guruku.”
Sang Mesias menjawab: “Damai sejahtera juga bagimu, wahai
putra Lewi.”
“Kapankah sang Mesias datang?” Tanya Rabi Yosua ben Lewi.
“Hari ini.”
Rabi Yosua kembali menemui nabi Elia, yang segera bertanya
kepadanya: “Apakah yang dikatakannya kepadamu?”
“Ia membohongiku. Ia berkata: ‘Hari ini Aku datang.’
Padahal ia tidak datang.”
Nabi Elia berkata: “Inilah sebenarnya yang hendak
dikatakannya kepadamu: ‘Pada hari ini, sekiranya kamu
mendengar suara-Nya...!’” (Mazmur 95:7)
Itulah perbedaan yang mendasar antara imam Eli dan Samuel
dalam 1 Samuel 3:1-15.
Samuel muda mulai magang pada imam Eli pada masa Israel
sedang paceklik firman dan penglihatan-penglihatan dari
Tuhan. Saat itu imam Eli telah renta bahkan kabur mata.
Tak berdaya bahkan tak dapat melihat dengan jelas. Inikah
sebabnya mengapa ia tidak lagi dapat mendengarkan firman
Tuhan dan mempunyai visi sebagai imam Tuhan di Silo?
Menurut narasi 1 Samuel 3 ini tidaklah demikian. Imam Eli
sendirilah yang sebenarnya mengalami paceklik firman dan
visi dari Tuhan. Ialah yang tak berdaya mendengarkan
sapaan Tuhan yang mengingatkannya akan segala perbuatan
anak-anaknya, Hofni dan Pinehas, yang tidak berkenan di
hadapan Tuhan. Ialah juga yang tidak mau melihat dengan
mata jujur apa yang dilakukan oleh anak-anaknya itu,
sehingga ia tidak mampu menegur mereka sebagai ayah dan
sebagai imam Tuhan.
Ini mengingatkan saya pada apa yang pernah terjadi ketika
Indonesia dan banyak negara di Asia dilanda krisis moneter,
sekitar tahun 1998. Saat itu saya masih tinggal di Belanda.
Setiap hari kami mendengarkan berita tentang keadaan di
tanah air dengan hati terkoyak dan cemas. Ketika kami
sibuk memikirkan bagaimana caranya menolong teman dan
saudara yang membutuhkannya, ada teman-teman asal
Indonesia yang memanfaatkan situasi di Indonesia itu untuk
memperkaya diri.
Cukup banyak dari antara mereka yang pergi ke Indonesia
membawa uang Gulden banyak-banyak, yang saat itu amat
tinggi kursnya. Mereka berbelanja properti yang pada waktu
itu banyak dijual dengan amat murah karena banyak orang
sangat membutuhkan uang tunai. Sedangkan yang tidak mampu
berbelanja properti, mereka menggunakan uang mereka dengan
cara lain yang lebih murah namun tetap menguntungkan.
Misalnya ada yang lalu bekerja sama dengan petugas yang
korup, membeli berton-ton beras murah yang sedianya
dikirimkan ke daerah-daerah untuk membantu warga
masyarakat yang berkekurangan. Entah bagaimana mereka
kemudian dapat menjualnya dengan harga biasa di Jakarta.
Menurut beberapa orang yang melakukannya mereka
mendapatkan keuntungan minimal 125 persen.
Ini seharusnya mengingatkan kita juga pada keadaan di
sekitar kita saat ini. Tahukah kita berapa jumlah orang
miskin di Indonesia sejak harga BBM naik? Tahukah kita
berapa jumlah orang yang menderita AIDS dan tertular virus
HIV di negeri kita saat ini? Tahukah kita berapa banyak
daerah di Indonesia yang saat ini dilanda dan terancam
banjir? Sadarkah kita apa saja yang akan diderita oleh
warga masyarakat di daerah-daerah itu akibat banjir?
Tahukah bahwa selain di daerah-daerah, di wilayah Jakarta
terdapat orang-orang yang menderita busung lapar? Bila
pemerintah jadi menaikkan tarif dasar listrik, sadarkah
kita akan akibatnya bagi masyarakat Indonesia, khususnya
bagi masyarakat menengah ke bawah?
Barangkali kita tidak tahu persis angka-angkanya. Tetapi
mestinya kita secara garis besar mengetahuinya. Tetapi
apakah yang kita lakukan dalam situasi ini? Tetap
menjalani kehidupan kita seperti biasa, bekerja, makan,
minum, belanja dan tidur dengan nikmat seolah tidak
terjadi apa-apa? Bila demikian maka seperti Eli kitapun
sedang mengalami paceklik firman dan visi dari Tuhan. Dan
mestinya kita belajar dari Samuel.
Samuel muda yang sedang magang itulah yang justru dapat
mendengar suara Tuhan yang memanggil namanya. Dan Samuel
belajar, – ironisnya dari imam Eli yang renta dan kabur
mata itu,– bahwa suara itu adalah suara Tuhan. Tuhan yang
menyapanya dan memanggilnya. Samuel lalu juga belajar
untuk sungguh-sungguh mendengarkan Tuhan dengan membuka
diri kepada-Nya, membuka diri pada apapun yang
dikehendaki-Nya darinya. Yang kemudian amat menarik adalah
bahwa dalam ayat 15 pengalaman Samuel mendengarkan sapaan
Tuhan itu disebut sebagai “penglihatan” (RSV & KJV21:
vision).
“... Samuel segan memberitahukan penglihatan itu kepada
Eli...”
Seraya mengerdipkan matanya sang narator hendak mengatakan
ini kepada kita, para pembaca kisah pemanggilan Samuel
menjadi nabi Tuhan ini: “barangsiapa mendengar dengan baik,
maka ia akan dapat melihat sesuatu”. Barangsiapa membuka
telinga kepada Tuhan, maka ia akan memperoleh penglihatan.
Barangsiapa benar-benar mendengarkan firman Tuhan, maka ia
akan mendapatkan visi. Barangsiapa sungguh-sungguh
mendengarkan Tuhan, maka ia akan menyaksikan
perbuatan-perbuatan tangan Tuhan serta memahami
kehendak-Nya baginya.
Pada imam Eli kepekaan mendengarkan firman Tuhan
ditumpulkan oleh pengejawantahan kasih yang bias terhadap
anak-anaknya. Akibatnya ia hanya mendengar apa yang ingin
didengarnya dan melihat apa yang ingin dilihatnya. Bukan
apa yang Tuhan ingin ia dengar dan lihat. Pada Samuel yang
sebaliknya terjadi:
“Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar...” (ayat 10)
Kata-kata ini tidak hanya sekali itu diucapkan Samuel,
tetapi terus diulangi dan dipeganginya di sepanjang hidup
mengabdi Tuhan melayani umat Israel sebagai nabi Tuhan.
Itu sebabnya Samuel selalu mempunyai visi yang jelas dalam
melaksanakan tugasnya. Mulai dari ketika menggantikan imam
Eli memimpin umat Israel, mengurapi dan mendampingi raja
Saul, hingga mengurapi Daud untuk menggantikan Saul
sebagai raja Israel.
Kata-kata yang sama seharusnya juga terus-menerus kita
ulangi dan pegangi di sepanjang hidup kita mengabdi Tuhan
melayani sesama. Berarti dalam berbagai situasi kehidupan,
dalam berbagai kesempatan perjumpaan dengan sesama kita,
dalam berbagai saat pengambilan keputusan; kecil-besar,
biasa-penting.
Namun jangan kiranya dilupakan kata kunci dari ini semua,
yaitu: kepekaan. Kepekaan untuk mengenali kehendak Tuhan
dalam berbagai situasi kehidupan serta melakukannya. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|