Ketika teror
kian ringan diacungkan, dan keberanian meletupkan teror
tumbuh di mana-mana, ada yang bertanya, seberapa besar
lagikah rasa takut akan Tuhan masih tersisa pada orang
sekarang?
Setelah fisika kuantum berhasil menguak jauh ke lapisan
lebih belakang dari peciptaan alam semesta, dan varian
evolusionisme Darwin menggoyang lautan misteri ilahi yang
telah lama mengendap dalam cawan keimanan manusia, dalam
rasa panik diteror orang bertanya, masihkah iman setia
bertahan di sana?
Apa sosok keimanan purba masih lumayan kokoh sekarang ini,
jika di luar paham sekular pun, semangat kalangan posmo
tengah menciptakan cermin baru tentang Yang Di Atas itu.
Manakala bagi sebagian paham, Tuhan dirasakan sebagai
diskursus yang tampil canggung kalau dihadapkan kepada
sedang diciptakannya sosok iman baru. Yaitu pada ketika
iman dianggap tidak lagi boleh buta. Tengok betapa luar
biasa jujurnya sikap skeptis kalangan postmodernian
terhadap kesetiaan iman seperti utuh tampil, misal dalam
novel ‘City of God’ karya E.L Doctorow (Abacus, London,
2001). Ketika aliran “free-thinker” di negara-negara maju
menjadi pilihan baru.
Barangkali benar begitu. Mungkin juga itu sebab kenapa
orang sekarang lebih takut pada teroris, hukum, pendemo,
perusuh, maling, atau mata tetangga sekalipun, ketimbang
takut lagi akan Tuhan. Bahwa kalau sebetulnya Tuhan masih
Maha Melihat.
Setelah
kehidupan Barat semakin hedonistik, dan orang kecanduan
mengejar kenikmatan hidup, Tuhan dirasakan semakin jauh di
awang-awang. Sedang rasa takut mati selalu nyata di depan
mata. Kita menyaksikan rasa takut mati itu dalam sorot
mata orang-orang yang berlarian panik di sekitar, dan pada
detik-detik World Trade Center di Amerika waktu dulu
runtuh, seakan mereka belum siap untuk mati.
Tidak takut Tuhan lagi konon yang menggosok ego sebagian
orang, yang beragama sekalipun, nekat serong, korupsi,
atau menyalahgunakan kekuasaan. Penyimpangan uang
trilyunan rupiah kian temuan yang kian bermunculan di mata
hukum, bukan urusan kecil buat era yang katanya sudah
reformasi. Itu berarti orang masih hanya berpikir
bagaimana bisa lolos dari jerat hukum, mata tetangga, atau
tudingan rakyat. Orang masih nekat berpikir “boleh mencuri
asal tidak ketahuan”, dan lupa, atau mungkin tak lagi
yakin kalau Tuhan masih melihat.
Iman tak lagi berdaya boleh jadi sebab hukuman Tuhan
dirasa tak seinstan seperti saat harus diborgol polisi,
atau dipermalukan pers. Orang Hindu meyakini karma dalam
kehidupan nyata, ketika hukuman akibat keserongan hidup
langsung dibayar kontan, tidak perlu menunggu akhir zaman.
Konon semakin
banyak orang lebih takut mati daripada takut akan Tuhan
lagi. Ketika hidup semakin enak, orang tak ingin hidupnya
diambil sebelum jam yang disepakati itu. Sejak dulu
ketakutan purba itu tampil dalam drama-drama klasik,
seperti muncul dalam Everyman’s Death. Orang cemas melihat
pasir gelas pengukur waktu umurnya kian menipis, dan terus
menipis. Perasaan diteror pun ikut merecoki rasa cemas
akan mati itu.
Kematian dianggap tak sama penting dengan tidur. Bahkan
orang kaya menolak untuk mati, dan kesehatan kini menjadi
agama baru. Obsesi narsisistik kebanyakan orang sekarang
bagaimana hidup bisa diulur lebih panjang. Untuk itu orang
berani membayar mahal buat menyewa mesin medis, rekayasa
genetik, atau keterampilan cerdasnya tangan medis. Jantung
buatan dipakai untuk memundurkan umur, dan obat awet muda
terus orang kejar, berapa pun orang akan bayar.
Waktu kecil
dulu, di depan sekolah kami ada kompleks pekuburan Belanda.
Di gerbang masuknya tertera tulisan besar ‘Memento Mori’,
yang lebih kurang berarti, ingatlah bahwa suatu hari kita
akan mati. Bagi insan normal, rasa keimanannya pasti
terusik saban kali lewat dan membaca tulisan itu. Merasa
diingatkan kalau hidup cuma numpang minum.
Di tengah deras arus sekularisme, kesadaran bahwa kita
akan mati juga perlu terus dicanang ulang di benak setiap
orang. Mungkin perlu dijadikan praksis atau “sila” baru
dalam hidup, penguat iman yang mungkin kendur. Juga bagi
yang masih khilaf, bukan agama yang mengantar orang ke
surga, melainkan pohon iman yang orang sendiri tanam.
Konon kian banyak orang salah melakoni hidup. Hidup
kebanyakan orang sekarang ibarat punya empat istri (Gede
Prama, Dynamics Consulting). Istri pertama: roh dan jiwa.
Istri kedua: sosok raga. Istri ketiga: hidup berhura-hura,
istri keempat: tahta dan harta.
Hidup rata-rata orang habiskan buat membangun tahta dan
harta, demi istri keempat. Orang juga berani membayar
mahal buat istri ketiga, permak badan lewat bedah plastik,
mengoleksi kosmetik impor, pakaian branded, serta ongkos
tinggi merawat kesehatan. Mengejar kenikmatan hidup di
restoran, bioskop, kafe, rumah musik, shoping, serta pesta
pora, buat istri kedua. Namun sedikit waktu dan perhatian
untuk istri pertama sang roh dan jiwa. Roh dan jiwa luput
disirami, sehingga pohon iman terancam kering meranggas.
Ketika tiba saat sekarat, orang bertanya kepada istri
keempat, “Maukah engkau menemani aku mati?” Sang tahta dan
harta menjawab dengan nada tinggi, “Oh, tidak Mas! Aku tak
bisa mengantarmu mati! Aku mengantarmu sampai rumah sakit
saja.” Jawab istri ketiga sang raga, “Aku mengantarmu
sampai rumah saja, Mas.” Istri kedua sang teman foya-foya
menjawab, “Maaf Daddy, aku mengantarmu sampai kuburan saja.”
Jawaban itu membuat banyak suami di dunia hedonistis
kiwari merasa bersedih. Apa lacur semua telanjur menjadi
bubur. Namun penghiburan selalu datang dari istri pertama,
sang jiwa dan roh yang selama ini banyak orang sia-siakan.
Setiap ditanya begitu, sang jiwa dan roh selalu tulus
menjawab, “Aku akan mengantarmu sampai ke akhirat nanti.”
Ketika rasa
takut mati sekarang sering lebih kuat dari iman, pesan
‘Memento Mori’ menjadi penggetar dawai nurani kita setiap
bangun tidur pagi. Bahwa kematian harus diterima sebagai
bentuk terakhir perlawanan manusia.
Kematian tak bisa ditarik kembali dengan tangisan, uang,
harta, atau tahta. Maka supaya kelak selamat diantar
sampai ke akhirat, jiwa dan roh harus tumbuh besar dan
tidak boleh kotor. Jiwa dan roh perlu disiangi, tambun,
dan berbuah-buah. Perlu dielingkan terus kalau eloknya
sikap, rasa, pikir, dan tindakan, yang akan menambah bobot
dan bersihnya iman.
‘Memento Mori’ perlu dikenang terus. Mungkin di saat-saat
teror mengepalkan tinju, saat-saat muncul dorongan buat
serong, atau saat-saat galau dan gamang melakoni hidup.
Ingatan ‘Memento Mori’ lebih membumi, menjewer ketika
pikiran kita bengkok. Ingat ‘Memento Mori’ ingat betapa
fana hidup kita. Ia menjadi pagar dalam hidup agar tak
gampang kita melompatinya. Hidup begini pendek, dan
kematian begitu panjang.
Bukankah lakon hidup kita cuma punya tiga babak. Tertawa,
menari, lalu menangis. Semua orang tahu, jangan sampai
salah memerankannya di panggung yang fana ini sesuai
skenario yang ditulis dan diarahkan oleh Sang Sutradara
Agung Tuhan kita. Dan kalau yakin kita pelaku lakon yang
baik di mata Tuhan, tak perlu pula hidup sampai gamang
lagi, betapapun runcing pisau teror terhunus di atas
piring kehidupan kita. |