Renungan
2 Pebruari 2006
Sebuah Check Up Kehidupan
Handrawan Nadesul
Ketika teror kian ringan diacungkan, dan keberanian meletupkan teror tumbuh di mana-mana, ada yang bertanya, seberapa besar lagikah rasa takut akan Tuhan masih tersisa pada orang sekarang?

Setelah fisika kuantum berhasil menguak jauh ke lapisan lebih belakang dari peciptaan alam semesta, dan varian evolusionisme Darwin menggoyang lautan misteri ilahi yang telah lama mengendap dalam cawan keimanan manusia, dalam rasa panik diteror orang bertanya, masihkah iman setia bertahan di sana?

Apa sosok keimanan purba masih lumayan kokoh sekarang ini, jika di luar paham sekular pun, semangat kalangan posmo tengah menciptakan cermin baru tentang Yang Di Atas itu. Manakala bagi sebagian paham, Tuhan dirasakan sebagai diskursus yang tampil canggung kalau dihadapkan kepada sedang diciptakannya sosok iman baru. Yaitu pada ketika iman dianggap tidak lagi boleh buta. Tengok betapa luar biasa jujurnya sikap skeptis kalangan postmodernian terhadap kesetiaan iman seperti utuh tampil, misal dalam novel ‘City of God’ karya E.L Doctorow (Abacus, London, 2001). Ketika aliran “free-thinker” di negara-negara maju menjadi pilihan baru.

Barangkali benar begitu. Mungkin juga itu sebab kenapa orang sekarang lebih takut pada teroris, hukum, pendemo, perusuh, maling, atau mata tetangga sekalipun, ketimbang takut lagi akan Tuhan. Bahwa kalau sebetulnya Tuhan masih Maha Melihat.

Setelah kehidupan Barat semakin hedonistik, dan orang kecanduan mengejar kenikmatan hidup, Tuhan dirasakan semakin jauh di awang-awang. Sedang rasa takut mati selalu nyata di depan mata. Kita menyaksikan rasa takut mati itu dalam sorot mata orang-orang yang berlarian panik di sekitar, dan pada detik-detik World Trade Center di Amerika waktu dulu runtuh, seakan mereka belum siap untuk mati.

Tidak takut Tuhan lagi konon yang menggosok ego sebagian orang, yang beragama sekalipun, nekat serong, korupsi, atau menyalahgunakan kekuasaan. Penyimpangan uang trilyunan rupiah kian temuan yang kian bermunculan di mata hukum, bukan urusan kecil buat era yang katanya sudah reformasi. Itu berarti orang masih hanya berpikir bagaimana bisa lolos dari jerat hukum, mata tetangga, atau tudingan rakyat. Orang masih nekat berpikir “boleh mencuri asal tidak ketahuan”, dan lupa, atau mungkin tak lagi yakin kalau Tuhan masih melihat.

Iman tak lagi berdaya boleh jadi sebab hukuman Tuhan dirasa tak seinstan seperti saat harus diborgol polisi, atau dipermalukan pers. Orang Hindu meyakini karma dalam kehidupan nyata, ketika hukuman akibat keserongan hidup langsung dibayar kontan, tidak perlu menunggu akhir zaman.

Konon semakin banyak orang lebih takut mati daripada takut akan Tuhan lagi. Ketika hidup semakin enak, orang tak ingin hidupnya diambil sebelum jam yang disepakati itu. Sejak dulu ketakutan purba itu tampil dalam drama-drama klasik, seperti muncul dalam Everyman’s Death. Orang cemas melihat pasir gelas pengukur waktu umurnya kian menipis, dan terus menipis. Perasaan diteror pun ikut merecoki rasa cemas akan mati itu.

Kematian dianggap tak sama penting dengan tidur. Bahkan orang kaya menolak untuk mati, dan kesehatan kini menjadi agama baru. Obsesi narsisistik kebanyakan orang sekarang bagaimana hidup bisa diulur lebih panjang. Untuk itu orang berani membayar mahal buat menyewa mesin medis, rekayasa genetik, atau keterampilan cerdasnya tangan medis. Jantung buatan dipakai untuk memundurkan umur, dan obat awet muda terus orang kejar, berapa pun orang akan bayar.

Waktu kecil dulu, di depan sekolah kami ada kompleks pekuburan Belanda. Di gerbang masuknya tertera tulisan besar ‘Memento Mori’, yang lebih kurang berarti, ingatlah bahwa suatu hari kita akan mati. Bagi insan normal, rasa keimanannya pasti terusik saban kali lewat dan membaca tulisan itu. Merasa diingatkan kalau hidup cuma numpang minum.

Di tengah deras arus sekularisme, kesadaran bahwa kita akan mati juga perlu terus dicanang ulang di benak setiap orang. Mungkin perlu dijadikan praksis atau “sila” baru dalam hidup, penguat iman yang mungkin kendur. Juga bagi yang masih khilaf, bukan agama yang mengantar orang ke surga, melainkan pohon iman yang orang sendiri tanam.

Konon kian banyak orang salah melakoni hidup. Hidup kebanyakan orang sekarang ibarat punya empat istri (Gede Prama, Dynamics Consulting). Istri pertama: roh dan jiwa. Istri kedua: sosok raga. Istri ketiga: hidup berhura-hura, istri keempat: tahta dan harta.

Hidup rata-rata orang habiskan buat membangun tahta dan harta, demi istri keempat. Orang juga berani membayar mahal buat istri ketiga, permak badan lewat bedah plastik, mengoleksi kosmetik impor, pakaian branded, serta ongkos tinggi merawat kesehatan. Mengejar kenikmatan hidup di restoran, bioskop, kafe, rumah musik, shoping, serta pesta pora, buat istri kedua. Namun sedikit waktu dan perhatian untuk istri pertama sang roh dan jiwa. Roh dan jiwa luput disirami, sehingga pohon iman terancam kering meranggas.

Ketika tiba saat sekarat, orang bertanya kepada istri keempat, “Maukah engkau menemani aku mati?” Sang tahta dan harta menjawab dengan nada tinggi, “Oh, tidak Mas! Aku tak bisa mengantarmu mati! Aku mengantarmu sampai rumah sakit saja.” Jawab istri ketiga sang raga, “Aku mengantarmu sampai rumah saja, Mas.” Istri kedua sang teman foya-foya menjawab, “Maaf Daddy, aku mengantarmu sampai kuburan saja.”

Jawaban itu membuat banyak suami di dunia hedonistis kiwari merasa bersedih. Apa lacur semua telanjur menjadi bubur. Namun penghiburan selalu datang dari istri pertama, sang jiwa dan roh yang selama ini banyak orang sia-siakan. Setiap ditanya begitu, sang jiwa dan roh selalu tulus menjawab, “Aku akan mengantarmu sampai ke akhirat nanti.”

Ketika rasa takut mati sekarang sering lebih kuat dari iman, pesan ‘Memento Mori’ menjadi penggetar dawai nurani kita setiap bangun tidur pagi. Bahwa kematian harus diterima sebagai bentuk terakhir perlawanan manusia.

Kematian tak bisa ditarik kembali dengan tangisan, uang, harta, atau tahta. Maka supaya kelak selamat diantar sampai ke akhirat, jiwa dan roh harus tumbuh besar dan tidak boleh kotor. Jiwa dan roh perlu disiangi, tambun, dan berbuah-buah. Perlu dielingkan terus kalau eloknya sikap, rasa, pikir, dan tindakan, yang akan menambah bobot dan bersihnya iman.

‘Memento Mori’ perlu dikenang terus. Mungkin di saat-saat teror mengepalkan tinju, saat-saat muncul dorongan buat serong, atau saat-saat galau dan gamang melakoni hidup. Ingatan ‘Memento Mori’ lebih membumi, menjewer ketika pikiran kita bengkok. Ingat ‘Memento Mori’ ingat betapa fana hidup kita. Ia menjadi pagar dalam hidup agar tak gampang kita melompatinya. Hidup begini pendek, dan kematian begitu panjang.

Bukankah lakon hidup kita cuma punya tiga babak. Tertawa, menari, lalu menangis. Semua orang tahu, jangan sampai salah memerankannya di panggung yang fana ini sesuai skenario yang ditulis dan diarahkan oleh Sang Sutradara Agung Tuhan kita. Dan kalau yakin kita pelaku lakon yang baik di mata Tuhan, tak perlu pula hidup sampai gamang lagi, betapapun runcing pisau teror terhunus di atas piring kehidupan kita.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003