|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Renungan |
|
23 Desember 2005
Kedatangan-Nya Mengubahku
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
Ada banyak hal yang menakjubkan bagi anak-anak: pelangi
sehabis hujan, berbagai jenis hewan di kebun binatang,
buku-buku dan beraneka permainan. Ketika mereka menginjak
masa remaja atau pemuda, tidak banyak lagi hal yang dapat
membuat mereka takjub, kecuali benar-benar baru: komputer,
pesawat Airbus yang baru, serta berbagai penemuan dan
teknologi baru. Selebihnya dianggap sebagai tidak istimewa
bahkan biasa.
Lalu ketika mereka menjadi makin tua dan dewasa, terjadi
perubahan yang amat menarik. Apa yang biasanya dianggap
lazim, menjadi sesuatu yang amat luar biasa: bahwa manusia
diciptakan, bahwa bumi ini ada, bahwa mereka dilahirkan
pada abad ini melalui orangtua mereka.
Ketakjuban yang lalu membawa mereka pada pertanyaan:
darimanakah asalku, apakah makna hidup ini? Pertanyaan
yang menuntun pada upaya untuk tahu lebih banyak dan lebih
baik: teknologi, tetapi juga kesadaran religius, iman.
Namun sebenarnya pada titik ini manusia berada pada sebuah
persimpangan, di mana mereka bisa memilih: menjadi takjub
oleh realita fundamental kehidupan ini atau tidak. Apalagi
pada zaman ini ada banyak hal lain yang jauh lebih menarik
ketimbang perenungan kehidupan. Gereja, bahkan iman,
hanyalah salah satu pilihan dari banyak hal.
Sebagai seorang Kristen kita mengenal apa yang kita sebut
sebagai mujizat. Segenap iman Kristen bermula dari
ketakjuban atas kejadian-kejadian mengherankan yang
dilakukan oleh Allah, yang memuncak pada mujizat di atas
segala mujizat: kedatangan Kristus.
Yang mengherankan di situ bukanlah sekadar mujizat seperti
kebisuan Zakharia, kehamilan perawan Maria atau yang tempo
hari diributkan oleh orang-orang Kristen: penampakan Yesus
di suatu tempat di tanah air. Yang manakjubkan adalah
bahwa dengan kedatangan Kristus dunia Allah menyentuh
dunia manusia.
Ketika kita tak berdaya IA turun tangan. IA peduli pada
kita yang tersesat di dalam diri kita sendiri. Itu
sebabnya di Betlehem lahir Yesus, yang disebut “Imanuel”,
Allah beserta kita.
Mujizat yang seperti itu tak mungkin berlalu begitu saja
dan terlupakan. Mujizat yang sebenarnya terlalu besar bagi
kita untuk kita pahami. Dalam Lukas 2:18 ditulis: “Dan
semua orang yang mendengarnya heran ...” Keheranan yang
tak pelak merupakan percampuran antara pada satu sisi
ketidakmengertian bahkan kebingungan, dan pada sisi yang
lain rasa syukur atas mujizat itu.
Tidakkah pada kita pun terdapat hal yang sama? Suatu
percampuran antara ketidakmengertian dan syukur serta
percaya atas berita kedatangan Kristus?
Namun mujizat yang terjadi pada malam Natal bukanlah
sesuatu yang statis. Mujizat itu adalah Yesus. Yesus yang
tumbuh menjadi dewasa, berkhotbah dan mengajar, menderita,
memberi diri disalibkan, membuka jalan antara kematian
kepada kebangkitan. Mujizat “Imanuel” kian menancapkan
kukunya pada kehidupan. Dan itu yang secara khusus dialami
oleh Maria: “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di
dalam hatinya dan merenungkannya.” (Lukas 2:19).
Pada mulanya Maria juga tidak dapat mengerti sepenuhnya
bahkan mungkin sama sekali tidak dapat memahami apa yang
terjadi pada dirinya. Namun ia tidak berputus asa dan
memalingkan muka, melainkan terus merenungkannya. Ia
kemudian mengikuti perkembangan anak laki-lakinya itu.
Melalui berbagai krisis dan pergumulan Maria kian mengenal
siapa sebenarnya Dia. Dia yang ternyata bukan hanya
anaknya sendiri, tetapi anak Allah!
Kita pun tidak perlu memaksa diri untuk secara
membabi-buta menerima dan memahami ini semua. Sama seperti
tidak perlunya untuk menerima dan mengamini seluruh
Alkitab dan dogma gereja secara fatalistik. Bisa dan boleh
saja terdapat hal-hal yang tidak kita pahami atau yang
menurut hemat kita tidak terlalu jelas. Namun kiranya
seperti pada Maria kita tidak berputus asa dan memalingkan
muka. Kita pun perlu terus merenungkannya. Terus memegangi
ketakjuban kita dan membuka diri pada pokok-pokok
kebenaran, – bahkan kesejahteraan hati – yang belum
tersingkapkan bagi kita.
Kita harus terus merefleksikannya sehingga melalui krisis,
kekelaman dan pergumulan hidup, kita mengalami sendiri
mujizat dan realita Imanuel.
Pada akhirnya yang hakiki bukan “apakah kita dapat
memahami kata-kata dan perbuatan tangan Tuhan”, melainkan
“Tuhan memahami kita”. Inilah mujizat yang terbesar.
Ia yang bertakhta di sorga, berkenan melalui Kristus
campur tangan bahkan mengikatkan diri-Nya dengan kita.
Kita sebenarnya tersesat dalam kemanusiaan kita, tetapi
Tuhan memegangi kita. Inilah makna terdalam dari Natal!
Itulah yang terjadi pada malam Natal. Pada awalnya timbul
rasa takjub yang menuntun pada perenungan. Perenungan yang
tidak bermuara pada kemampuan kita untuk memahami Tuhan,
melainkan pada seperti yang dilakukan para gembala: sikap
menyembah Tuhan. “Maka kembalilah gembala-gembala itu
sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu
yang mereka dengar dan mereka lihat...” (Lukas 2:20). Rasa
takjub yang samar-samar kemudian menjadi kekaguman luar
biasa sehingga memuliakan Allah yang besar serta tak
terukur anugerah dan kasih-Nya.
Maka pertanyannya adalah apakah Natal membuat kita takjub.
Takjubkah kita oleh Natal yang adalah anugerah terbesar
yang pernah diberikan: kedatangan Kristus? Sebab
jangan-jangan lagu lama akan terdengar kembali. Pada
hari-hari Natal semua tampak dan terasa begitu indah.
Nanti, ketika lilin-lilin dipadamkan, kita akan kembali
lagi ke kehidupan kita sesehari yang kelam. Semua tetap
sama. Tidak ada satu pun yang berubah
Para gembala juga kembali ke padang yang gelap melakukan
hidup yang keras sebagai gembala. Tidak ada lagi terang
yang menyilaukan itu. Tidak ada lagi seribu malaikat yang
menyanyi memuliakan Tuhan. Tetapi nyanyian pujian para
malaikat itu tetap mereka dengar dalam hati mereka, agar
dapat bertahan mengahadapi segalanya. Justru “kembali ke
kehidupan sesehari” ini amat penting.
Natal bukanlah lagu “Nina Bobo” atau kisah indah pengantar
tidur. Dalam kehidupanlah kita mengemban tugas dan
panggilan kita. Masih dibutuhkan pekerja-pekerja. Masih
banyak tugas yang harus dilakukan. Masih banyak hal perlu
diluruskan dan disaksikan. Untuk itu dibutuhkan banyak
pengorbanan dan penderitaan. Tetapi nyanyian pujian yang
dengannya Nama Tuhan dimuliakan akan tetap terdengar,
karena dalam Kristus Allah berbelarasa dengan manusia:
Imanuel!
Maka ketakjuban yang menuntun pada perenungan itu haruslah
terjadi realita hidup kita sesehari. Di situlah harus
terjadi perubahan, bukan sekadar dalam meditasi dan
spiritualitas. Sebab pada akhirnya, untuk itulah IA datang.
Agar dunia kita berubah. Agar kita berubah, benar-benar
berubah. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|