Renungan
25 Pebruari 2005
Peduli, Gaya Hidup Orang Percaya
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya
Ada sebuah dongeng yang menarik tentang seorang Yahudi yang saleh. Menjelang akhir hidupnya, ia diperbolehkan Tuhan untuk mengajukan sebuah permohonan. Dengan sangat hati-hati ia meminta agar sebelum meninggalkan dunia ini ia diizinkan melihat keadaan di sorga dan di neraka. Permohonan itu dikabulkan oleh Tuhan.

Orang Yahudi ini mulai dengan menjenguk keadaan di neraka. Ia melihat sebuah ruangan pesta yang amat luas dan megah dipenuhi oleh meja makan yang panjang dengan taplak putih bersih dan di atasnya dihidangkan berbagai jenis makanan yang lezat. Semua orang yang duduk di sekitar meja-meja makan itu mempunyai lengan kanan-kiri yang panjang. Lengan mereka begitu panjangnya sehingga mereka tidak dapat mengambil berbagai makanan yang lezat itu dengan tangan mereka serta memasukkannya ke mulut mereka sendiri. Orang-orang itu menggerutu bahkan mencaci-maki, dan kelihatan pucat karena kelaparan.

Kemudian orang Yahudi itu diajak untuk menyaksikan keadaan di sorga. Ia melihat ruangan pesta yang sama dipenuhi meja-meja panjang dengan taplak putih bersih dan di atasnya dihidangkan berbagai jenis makanan yang lezat. Di sekitar meja-meja itu duduk orang-orang yang juga mempunyai lengan kanan-kiri yang terlalu panjang. Merekapun tidak dapat mengambil berbagai makanan yang lezat itu dengan tangan mereka serta memasukkannya ke mulut mereka sendiri. Namun mereka kelihatan gembira dan puas, tidak menggerutu dan tidak kelaparan. Setiap orang mengambil makanan dengan tangannya kemudian memasukkan makanan itu ke mulut orang lain.

Orang Yahudi itu mengangguk-angguk mengerti. Tetapi mengertikah kita? Mengertikah kita juga bahwa sepertiga penduduk dunia, harus berhati-hati tidak terlalu banyak makan agar tidak terlalu gemuk atau agar kadar kolestrolnya tidak keliwat tinggi serta menanggung akibatnya? Sedangkan dua pertiga sisanya bersusah-payah untuk mendapatkan makanan yang cukup? Pedulikah yang sepertiga itu pada dua pertiga penduduk dunia yang lain? Kurang dari seperduapuluh penduduk kota-kota besar yang mempunyai anak bingung untuk memutuskan hendak membelikan anak-anak mereka ponsel yang paling mutahir atau PS-Two. Sedangkan sisanya belum tentu punya uang dan kesempatan untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Pedulikah yang kurang dari seperduapuluh itu pada sembilanbelas perduapuluh lebih sisanya?

Mungkin contoh-contoh itu terlalu tidak mendarat. Bagaimana dengan yang berikut ini? Ketika bencana gempa bumi dan Tsunami melanda, salah satu hal yang amat mencengangkan dan membesarkan hati adalah respons positif dari banyak sekali orang atas seruan permintaan bantuan bagi para korbannya. Tetapi mengapa harus terjadi bencana Tsunami baru orang peduli? Tidakkah setiap hari di sekitar kita terdapat banyak sekali orang-orang yang kita baikan dan tidak kita pedulikan, padahal keadaan mereka tidak jarang paling tidak sama parahnya dengan para korban bencana gempa bumi dan Tsunami itu?

Dan gambaran ini bukan hanya terdapat di luar kalangan orang percaya, tetapi justru kerapkali di dalamnya. Padahal di dalam Alkitab, kepedulian pada sesama di sekitar kita adalah benang merah yang terentang dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru.

Dalam Perjanjian Lama, kulminasi dari hidup peribadahan Israel adalah korban. Makna dan praktik korban mempunyai berbagai segi yang melibatkan Allah, manusia dan persekutuan.

Pertama-tama, korban adalah “pemberian/persembahan” baik dari Allah bagi manusia maupun dari manusia bagi Allah.

Berikutnya korban adalah “pendamaian” dalam arti bukan hendak menyuap Allah, tetapi justru dari pihak manusia yang sadar bahwa ada yang harus diperbaiki dalam dirinya. Korban bagi orang Israel juga berarti “persekutuan”. Persekutuan yang sebagai satu keutuhan menghadap Tuhan mempersembahkan korban. Dan korban adalah “pengutusan” dari Allah dalam hidupnya bersama sesama, karena Allah adalah Allah Israel dan Allah semua bangsa (baca: semua orang).

Maka korban pada akhirnya adalah kepedulian, karena di dalamnya Allah peduli sehingga Israel harus menunjukkan kepedulian yang sama.

Dalam Perjanjian Baru, Yesus dan para rasul tak jemu-jemunya mengingatkan orang-orang percaya untuk “memperhatikan, menolong, mementingkan, mendahulukan, mengasihi sesama”. Mahkota dari tugas pengutusan ini adalah Matius 25:31-46, dengan inti:

“...segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku..... dan sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku...!” (Matius 25:40,45).

Mengapa? Karena Kristus telah lebih dahulu peduli pada hidup, nasib dan keselamatan kita. Ia peduli karena prihatin (bahkan “menangisi” kita, bukan cuma Yerusalem), bahwa manusia tidak lagi peduli terhadap sesamanya, dan akhirnya pada dasarnya tidak lagi terhadap dirinya sendiri. Maka kepedulian yang hakikatnya adalah korban dan pengorbanan, menjadi gaya hidup-Nya. Dalam masa hidup-Nya bersama murid-murid, dalam peristiwa di atas segala peristiwa: Paska; bahkan kini dalam masa penantian kedatangan-Nya.

Oleh karena itu, kiranya menjadi jelas bagi kita. Bahwa kepedulian yang sama sepatutnya kita tunjukkan dalam segala segi hidup kita. Ia harus menjadi nafas kita, bicara kita, pandang kita, pola hidup kita. Karena Dia. Demi Dia.

Kepedulian adalah gaya hidup kita, orang-orang yang sungguh percaya kepada Kristus.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003