Renungan
27 Januari 2005
Tentang seorang Ibu yang Mengguncang Hati Yesus
Martin Sinaga
Nats Injil (Matius 15:21-28/Markus 7: 24-30) yang mengisahkan Perempuan Siria-Fenisia dengan anaknya yang sakit ini mulai dengan seruan, “anak perempuan saya kemasukan roh jahat”. Dan Yesus tidak menjawab seruan itu–Ia mengira bahwa telinga-Nya hanya terbuka untuk orang sebangsanya, bangsa Israel. Malah murid-murid-Nya pun hendak mengusir perempuan itu. Tampaknya perlahan-lahan dan diam-diam Yesus mencerna pikiran-Nya sendiri dan perilaku murid-murid-Nya.

Namun segera Yesus menghentikan perenungan-Nya, lantas berkata, mencoba membenarkan sikap-Nya yang tertutup terhadap perempuan kafir dari bangsa yang tidak terpilih, bangsa Siria itu. Yesus menegaskan bahwa Ia diutus hanya kepada Israel!

Dan momen diam rupanya berkembang–jeda dan sela yang menusuk hati; sebab wajah Sang Ibu menatap penuh, dan Yesus tak bisa memalingkan diri dari wajah itu. Ia disergap sedalam-dalamnya, apalagi keluarlah dari mulut perempuan itu, “tolonglah aku!”

Sekali lagi Yesus mengerahkan prinsip kaumnya untuk memalingkan tatapan-Nya dari perempuan itu, sambil memetik perumpamaan untuk membenarkan sikap-Nya, bahwa yang tersedia ialah “makanan untuk anak-anak Israel, bukan kepada anjing kafir”. Artinya, yang boleh menerima berkat kesembuhan dari-Nya hanyalah kaum Israel saja, anak-anak pilihan Tuhan itu.

Yesus di sini rupanya mulai tiba pada batas ungkapan yang tersedia untuk tetap menutup diri. Tidak ada lagi kata-kata yang sedemikian tegasnya dan terus terangnya dalam menarik batas antara diri-Nya dan bangsanya terhadap Perempuan Siria dan anaknya itu.

Namun, garis itu diterobos, ibu itu tidak mau diam, ia meraih Yesus agar keluar dari isolasinya–dengan merendahkan diri senistanya, katanya, “memang aku seperti anjing, karena itu remah-remah dan sisa-sisa makanan anak-anak Israel pun akan kuambil”.

Yesus terguncang, ibu itu persis bertindak dan berpikir seperti jalan yang Yesus selama ini gumuli: datang sebagai yang hina, sebagai hamba, dan tidak menganggap ke-Putra Allah-annya sebagai milik yang harus dipertahankan mati-matian. Yesus menatap jauh kepada bangsa-Nya sendiri, bangsa pilihan itu, dan tampaknya mendung mulai turun ke tanah Israel.

“Sungguh besar imanmu” kata Yesus, “sungguh yakin engkau akan langkahmu, dan demi anakmu engkau menuruni tangga sejauh-jauhnya, dan sampai ke ruang yang paling dalam dari keilahian, dari Diriku, yaitu compassion, belarasa”.

Ibu yang tegar dan Yesus yang terguncang, kini bertemu dalam satu tataran hati. Yesus menatap perempuan Siria itu, memberi anaknya kesembuhan, dan tentulah, Ia akan meminta perempuan itu untuk terus berjalan, terus menelusuri segala kemungkinan yang tersedia bagi perempuan dan anak di kaki langit kehidupan ini.

Tentu inilah kisah yang juga bisa diulang lagi kenyataannya di tengah-tengah hidup kita, juga di Jakarta, di pelosok kota bahkan di tengah keramaian metropolitan. Dan saat hari Ibu dirayakan, itu berarti hari perubahan demi tersingkapnya segala kemungkinan bagi perempuan. Hari Ibu rupanya terkait dengan hari Natal, hari seorang Ibu Maria melahirkan anak. Itu berarti hari di mana setiap ibu dapat meraih kegembiraaan dan kemungkinan baru dalam hidupnya. (ms/skt)
 

* Penulis adalah Dosen STT Jakarta

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003