|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Renungan |
|
30 Nopember 2004
Mengejawantahkan Damai Sejahtera di dalam Keluarga
Pdt. Rudianto Djajakartika |
|
|
Seorang anak tengah menghadapi hukuman orangtuanya. Ia
makan sendirian di satu pojok ruangan sementara yang lain
makan di meja makan. Sebelum makan anak itu berdoa dan
mengutip Mazmur 23:5a, Terima kasih Tuhan, karena Engkau
menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku...
Konflik..., itulah yang tengah terjadi! Ia bisa muncul
dari perbedaan pendapat, merasa diabaikan, beban pekerjaan
yang dibawa ke rumah, kejenuhan, tanggung-jawab rumah
tangga yang menumpuk, krisis keuangan... dan masih banyak
alasan lainnya. Konflik adalah sesuatu yang latent dan
bisa muncul sewaktu-waktu. Bahkan kalau kita jeli
mengamati, seringkali pencetus konflik itu juga bersifat
latent. Seringkali konflik muncul dari akar permasalahan
yang sama, itu-itu juga penyebabnya.
Pada dasarnya tidak ada keluarga yang bebas dari konflik,
kebal terhadap konflik. Padahal konflik itu pasti merampas
damai sejahtera. Nah, di sini masalahnya! Ketika kita
punya kewajiban untuk mengejawantahkan damai sejahtera
dalam keluarga kita, maka konflik adalah tantangannya.
Seharusnya konflik tidak terjadi. Tetapi mungkinkah
konflik dihindari? Sebuah keluarga pada dasarnya adalah
sekelompok orang yang bersatu. Memang mereka bukan sekadar
sebuah kelompok. Ikatan darah membuat persatuan mereka
lebih kohesif. Tetapi bukankah justru pohon yang
berdekatan itu cenderung sering bergesekan?
Konflik justru jangan dihindari tetapi dihadapi. Tentu
bukan berarti bahwa kita lalu membiarkan saja konflik
terjadi. Konflik tetap harus diminimalkan meski ia adalah
sebuah kenyataan. Seandainya konflik harus terjadi, maka
kita harus menjaga agar konflik tidak meluas dan tentu
harus ada penyelesaian yang baik. Di sinilah tema kita
lalu menjadi sangat berarti. Nah, bagaimana kita
mengawalinya?
|
|
Jadikan Rumahmu adalah juga Gerejamu |
Rumah adalah gereja? Apa tidak salah? Rumah ya rumah dan
gereja ya gereja, sesuatu yang jelas berbeda! Benar, saya
setuju! Tetapi yang saya maksud adalah, bagaimana kita
menyadari dan memaknai kehadiran Allah seperti layaknya di
gereja. Ketika kita masuk halaman gereja, apalagi ketika
melangkah ke dalam gereja, terasa sekali nuansa kehadiran
Allah. Simbol-simbol yang ada di gereja menstimuli pikiran
kita sehingga kita sungguh menyadari kehadiran-Nya. Bukan
hanya itu, kita juga memaknai kehadiran-Nya untuk disembah,
untuk dimuliakan. Ini semua mempengaruhi perilaku kita!
Itulah sebabnya di gereja kita muncul sebagai orang
baik-baik. Kita juga cenderung menjaga agar konflik tidak
muncul ketimbang di rumah.
Bagaimana di rumah? Apakah Allah tidak hadir di sana? Iman
kristiani jelas mengajarkan bahwa Allah hadir di manapun.
Sebagaimana Ia hadir di gereja, Ia juga hadir di rumah
kita, di tengah keluarga kita. Persoalannya, apakah kita
menyadari kehadiran-Nya? Selanjutnya adalah, bagaimana
kita memaknai kehadiran-Nya?
Pembedaan rumah dari gereja tentu tidak salah, tetapi
tanpa kita sadari juga mempengaruhi proses kognitif kita.
Akibatnya, kita sering tidak lagi menyadari kehadiran-Nya
di tengah keluarga kita. Kalaupun kita menyadari,
seringkali kita memaknainya berbeda, tidak seperti
layaknya di gereja. Ini mempengaruhi perilaku kita! Di
rumah kita sering muncul dengan perilaku yang berbeda
dibanding ketika kita di gereja. Ini bukan soal cara
berpakaian dan banyak lainnya yang pasti berbeda. Tetapi
apakah kita juga mau selalu memuliakan dan menyembah dia
melalui segala perilaku kita dalam relasi dengan anggota
keluarga? Bila hal ini kita sadari dan selalu kita
upayakan, saya yakin, damai sejahtera Allah akan hadir dan
dirasakan oleh seluruh keluarga!
Sesungguhnya, pada masa lalu, ketika institusi gereja
belum ada, ketika Bait Allahpun belum dibangun, maka
gereja atau bait Allah itu adalah institusi keluarga.
Dalam Ulangan 6:4-9 kita diingatkan, bagaimana
simbol-simbol kehadiran Allah itu diajarkan dan dinyatakan
di tengah keluarga. Sebuah ungkapan menarik, bagaimana
Firman Allah itu dituliskan pada tiang pintu rumah dan
pintu gerbang (ayat 9). Saya tidak mengartikannya secara
hurufiah, meskipun bisa saja pada waktu itu memang terjadi
sebagaimana dituliskan. Apapun itu, hal itu menjadi
gambaran simbolis, bagaimana Allah hadir di tengah
keluarga dan keluarga menjadi tempat di mana Allah
disembah dan dimuliakan.
Ketika institusi gereja telah ada, seharusnya hal yang
pertama yang dimulai oleh Allah sendiri ini tidak boleh
dilupakan. Kita memang sekarang beribadah di gereja, walau
ibadah sesungguhnya adalah seluruh hidup kita (Roma 12:1).
Karena itu sadarilah kehadiran-Nya di tengah keluargamu,
serta maknailah kehadiran-Nya seperti layaknya di gereja,
maka damai sejahtera-Nya akan menjadi milikmu.
Sesungguhnya Allah adalah pembawa damai sejahtera, dan
damai sejahtera-Nya selalu Ia mau tinggalkan buat kita (Yoh.
14:27). Tetapi kata kuncinya adalah apakah kita menyadari
kehadiran-Nya. Lihatlah bagaimana para murid yang tadinya
takut, merasakan damai sejahtera-Nya sesudah mereka
menyadari kehadiran-Nya (Yoh. 20:19-20). Begitu pula,
dengan situasi yang berbeda dan pergumulan yang berbeda
dari setiap keluarga, asal Allah disadari kehadiran-Nya
dan dimaknai kehadiran-Nya seperti layaknya di gereja,
maka damai sejahtera-Nya akan menjadi bagian dari keluarga
itu.
Damai itu menjadi bagian keluarga kita, bukan saja karena
kehadiran-Nya menghadirkan damai, tetapi juga kita yang
menyadari kehadiran-Nya, serta didorong untuk menyembah
dan memuliakan Dia, akan cenderung menjaga agar konflik
tidak terjadi di tengah keluarga.. Kalaupun itu tak
terhindarkan, maka dalam kesadaran untuk memuliakan Dia,
setiap pribadi yang berkonflik akan cenderung untuk
menyelesaikan konflik dan tidak memeliharanya.
|
|
Berdamailah dengan dirimu |
Bagaimana seseorang bisa membawa damai di tengah
keluarganya kalau ia sendiri adalah pribadi yang gelisah
dan cemas? Kalau kita ingin membawa damai, maka harus ada
damai terlebih dahulu dalam diri kita. Banyak konflik
dalam keluarga bila ditelaah lebih jauh, ternyata berakar
dari ketiadaan damai dari salah satu pihak yang berkonflik
atau bahkan dari keduanya. Perasaan irihati misalnya
seringkali muncul dari persepsi keadilan seorang pribadi
yang tidak percaya diri, meskipun tentu irihati juga
muncul dari situasi yang nyatanya memang tidak adil.
Ketiadaan damai muncul ketika seseorang tidak mampu
berdamai dengan dirinya, dengan masa lalunya, dengan
perasaan bersalahnya dan tentu dengan segala pengalaman
traumatisnya.
Ada banyak hal yang kadang kita persepsikan begitu
mengerikan dan menakutkan padahal kenyataannya tidak
seperti itu. Salah satu penyebabnya adalah rasa bersalah.
Ketika Yakub akan berjumpa dengan Esau kakaknya, ia begitu
dihantui oleh perasaan bersalahnya, sehingga ia
mempersepsikan Esau akan menyerang dia dan rombongannya (Kej.
32:6-8). Bagaimana kenyataannya? O, jauh berbeda!
Kebalikan dari menyerang Esau bahkan memeluk dan menangis
di pundak Yakub (Kej. 33:4).
Banyak konflik dalam keluarga ternyata muncul karena kita
mempersepsikan anggota keluarga yang lain berdasarkan
ketakutan dan rasa bersalah kita. Oleh karena itu, untuk
bisa membawa damai dalam keluarga, selain menyadari akan
kehadiran-Nya, kita juga harus berdamai dengan diri kita
termasuk kesalahan yang pernah kita buat. Ketika kita
dapat berdamai dengan perasaan bersalah kita, maka kita
akan dapat mempersepsikan pihak lain secara lebih baik.
Akibatnya jelas, perilaku kita tidak lagi defensif, dan
seandainya konflik toh harus terjadi, kita akan lebih
mudah menyelesaikannya.
Sebagai anggota keluarga, kadang kita juga pernah
mengalami sebuah pengalaman traumatis di masa lalu.
Pengalaman ini akan mengaktifkan sistem saraf kita,
membuat kita alert, ketika kita diperhadapkan pada sebuah
situasi yang mirip. Pada saat semacam itu, sulit bagi kita
untuk bisa membawa damai, karena yang ada adalah
kecurigaan dan mungkin juga ketakutan. Tentu pengalaman
traumatis ini tidak bisa kita hapus dari memori kita.
Satu-satunya cara adalah menerima apa adanya pengalaman
itu, mencari sisi positifnya karena pasti ada pelajaran
yang kita dapat darinya, serta menyadari bahwa itu adalah
sesuatu yang terjadi di masa lalu dan bukan sekarang.
Paulus pada satu ketika kehidupannya adalah seorang
pembunuh jemaat. Itu adalah kenyataan hidupnya. Tetapi
Paulus berhasil keluar dari masa lalunya. Ia melupakan apa
yang di belakang dan berlari ke depan dengan mengarahkan
pandangan pada Yesus.(Fil. 3:13). Karena itulah Paulus
selalu dapat mengejawantahkan damai sejahtera Allah dalam
setiap jemaat yang dikunjunginya.
Berdamai dengan diri sendiri harus selalu kita upayakan,
karena banyak pengalaman dalam hidup kita di mana kita
perlu berdamai dengannya. Melaluinya, kita akan lebih
dimampukan untuk membawa damai sejahtera juga di tengah
keluarga kita. Melaluinya kita juga dapat menyelesaikan
konflik dengan lebih baik bahkan menghindarinya.
Nah, ketika dalam sebuah keluarga konflik jarang terjadi.
Seandainya terjadipun dapat diselesaikan dengan baik,
bukankah keluarga ini merupakan keluarga yang meskipun
tidak kebal terhadap konflik, tetapi dapat dikatakan
sebagai keluarga yang penuh damai sejahtera? |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|