|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Renungan |
|
30 Agustus 2004
Harga Sebuah Kemerdekaan
Suatu refleksi: I Petrus 2:11-17
Pdt. Tumpal Tobing |
|
|
Merdeka!!, ya merdeka, Pak....
Merdeka!!, ya merdeka, Bu....
Merdeka!!, ya merdeka, Bung.... |
Demikian teriak kegembiraan para orang tua, pemuda,
anak-anak yang sangat antusias menyambut kemerdekaan
negara Republik Indonesia, 59 tahun yang lalu. Apa yang
perlu dilakukan lagi, bukankah kita tidak bisa berhenti
begitu saja? Bagaimana kita harus mengisi kemerdekaan ini?
Maka muncullah berbagai pergumulan untuk menata Indonesia
pasca kemerdekaan.
Setelah cukup lama mengenyam kemerdekaan, mulailah
perlahan-lahan disadari bahwa "kemerdekaan“ atau "kebebasan“
itu sendiri tidak menentramkan. Maka muncullah keluhan
seperti bangsa Israel setelah merdeka dari penjajahan
Mesir „dulu rasanya masih lebih enak, aman dan nyaman,
sekarang ini sepertinya lebih kacau lagi.
Keluhan yang sama muncul lagi setelah terjadi gerakan „Reformasi“
besar-besaran menumbangkan pemerintahan Orde Baru. Orang
tidak sabar lagi menanti suatu proses pembaharuan, rasa
was-was mulai menyelimuti masyarakat bangsa Indonesia,
karena ternyata yang namanya kemerdekaan menuntut risiko,
dipecat, dibredel, dicekal, ditindas, diteror atau bahkan
mengalami yang lebih buruk lagi.
Banyak orang kemudian berpikir bahwa merdeka itu ternyata
tidak enak dan bahkan amat sangat tidak enak. Sebab
merdeka punya harga yang harus dibayar, seperti harus
berani mengambil keputusan sendiri termasuk menghadapi
keputusan-keputusan sangat rumit dan pelik. Harga yang
lain lagi, harus memikul semua risikonya, seorang diri,
manusia merdeka harus menanggung dan menjawab segala
sesuatu yang menyangkut dirinya. Ia tidak dapat
melemparkan tanggung jawab itu kepada campur tangan
eksternal apapun dan siapapun.
Karena itu, menurut Pdt Eka Darmaputera, penting untuk
direnungkan bahwa setiap orang menentukan kemerdekaan atau
ketidakmerdekaan bagi dirinya sendiri dan bukan orang
lain. Mengutip pendapat Schiller, seorang filsuf Jerman,
“walaupun ada kekuatan-kekuatan ekstern“ yang mau menekan,
menindas dan merampas kemerdekaan kita, mereka (kekuatan-kekuatan
ekstern) tidak mempunyai otoritas maupun kemampuan untuk
mencabut kemerdekaan dari diri kita, kecuali kita mau
menyerahkannya”.
Dalam I Petrus 2:16 tertulis, “Hiduplah sebagai orang
merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan
kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan
mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah“.
Surat pastoralia atau penggembalaan ini ditujukan pada
orang-orang kristen non Yahudi yang sedang menghadapi
banyak permasalahan setelah mereka menjadi pengikut
Kristus. Mereka dikecam, disisihkan bahkan dianiaya
sebagai risiko kemerdekaan memilih menjadi pengikut
Kristus. Sebutan sebagai „pendatang“ dan „perantau“
(ay.11) menunjukkan bahwa mereka akan dianggap sebagai
orang asing, karena tidak mau melakukan segala sesuatu
yang bertentangan dengan Firman Tuhan.
Walaupun mengalami berbagai penderitaan, mereka tetap
harus bersukacita, karena telah memperoleh kasih karunia
dari Kristus sehingga hidup mereka penuh dengan
pengharapan untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat
binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu,
yang tersimpan di Sorga bagi para pengikut Kristus. Dan
telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu (I
Petrus 1:3-4, 9).
Oleh karena itu yang perlu dilakukan oleh para pengikut
Kristus, bukan lagi mengeluhkan penderitaan dan pencobaan
yang datang bertubi-tubi dalam melayani Kristus atau
karena menyatakan kebenaran Firman. Juga bukan supaya
diselamatkan atau supaya mendapatkan mahkota di Surga,
karena semua ini sudah diberikan kepada orang percaya.
Melainkan marilah kita hidup sebagai orang merdeka, yang
dengan kemerdekaan yang kita miliki, kita telah memilih
jalan Kristus dan marilah kita mengisi kemerdekaan itu
dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang memuliakan Allah
(I.Petrus 2:12 dan 4:11), karena kita semua adalah
hamba-Nya.
Sambil merenungkan partisipasi apa yang sudah kita berikan
dalam mengisi kemerdekaan Indonesia selama 59 tahun yang
lalu, marilah kita mengarahkan seluruh rencana kehidupan
kita untuk menyenangkan hati Tuhan dengan selalu
bertanya:
“Apakah yang kulakukan ini dapat memuliakan
nama-Nya atau namaku sendiri?“
Apakah yang aku lakukan
untuk melayani orang lain atau hanya untuk dilayani oleh
yang lain?“
Kita harus memulai dari diri kita sendiri, sebab perubahan
hanya dapat terjadi jika kita yang memulainya. Jangan
tunggu lagi, mari kita mengisi kemerdekaan ini dengan
menjadi berkat bagi sesama, sebab untuk itulah kita
dimerdekakan dan menggunakan kemerdekaan itu sedemikian
rupa sehingga nama Tuhan dipermuliakan.
"Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun
telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan
bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.“ (I Petrus 4:21) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|