|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Renungan |
|
30 Mei 2004
Petrus yang Malang
Pdt. Purboyo W.Susilaradeya |
|
|
Petrus adalah murid Yesus yang malang, apes bahkan.
Citranya sebagai murid tidaklah indah, karena kepadanya
terlanjur dilekatkan stempel yang bukan hanya keliru,
tetapi juga tidak adil. Benarkah Petrus adalah seorang
penakut dan pengecut? Benarkah ia adalah seseorang yang
hanya memikirkan diri dan keselamatan sendiri sehingga
menyangkali Tuhannya?
Yesus ditangkap dan dibawa ke rumah Imam Besar. Dan Petrus
yang biasanya menurut kita seorang pengecut itu, mengikuti
dari jauh. Ia bahkan kemudian masuk ke halaman rumah Imam
Besar itu dan duduk di antara banyak orang yang sedang
menghangatkan diri di sekitar api unggun (Lukas 22:54-55).
Pada saat sahabat-sahabatnya tercerai-berai melarikan diri
entah ke mana, seorang penakut takkan berani seperti
Petrus, sendirian masuk ke kandang singa.
Ketika seorang hamba wanita mengenalinya sebagai pengikut
Yesus, Petrus memang menyangkalnya, namun ia tidak
beranjak dari tempatnya.
Tidak berapa lama kemudian seorang lain mengenalinya
sebagai pengikut Yesus, dan sesudah itu seorang yang lain
mengenalinya lagi. Petrus menyangkal mereka, tetapi ia
tetap tidak meninggalkan halaman rumah Imam Besar (Lukas
22:57-58).
Dan kira-kira sejam kemudian, seorang lain dengan penuh
keyakinan mengenali Petrus sebagai orang Galilea yang
biasanya cenderung memberontak sehingga patut dicurigai
sebagai pengikut Kristus (Lukas 22:59). Dengan suara yang
tidak kalah keras Petrus menyangkalnya.
Satu jam lamanya sejak tiga orang mencurigainya sebagai
musuh, Petrus tetap bertahan dan tak mau beranjak dari
halaman rumah Imam Besar. Bayangkan satu jam berada di
antara musuh yang takkan ragu-ragu untuk membunuhnya.
Hanya “batu karang” ber-syaraf baja yang mampu
melakukannya.
Bahkan setelah orang keempat mencurigainya Petrus tetap
saja tidak mau meninggalkan Tuhannya. Seorang penakutkah
Petrus? Bila kita masih berpendapat demikian, maka kita
tidak membaca kisah Petrus dengan cermat.
Petrus adalah seorang nelayan yang biasa tegak berdiri
dalam kehidupan yang keras. Ia kerap dihadapmukakan pada
keadaan yang sulit dan kritis. Sebelum insiden di halaman
rumah Imam Besar ia menghunus pedang menghadapi “kopassus”
Bait Allah di taman Getesemane. Ayunan pedangnya, yang
mungkin ditujukan pada sasaran yang lebih serius, mengenai
telinga hamba Imam Besar.
Untung saja, sebab bila tidak ia juga pasti ditangkap
bersama Yesus. Dan ia tidak melarikan diri. Ia mengikuti
rombongan yang menangkap Tuhannya hingga di rumah Imam
Besar. Seorang pengecut tidak akan mampu dan berani
melakukan apa yang dilakukan Petrus.
Tetapi bila Petrus bukan seorang penakut atau pengecut,
mengapakah ia menyangkali Tuhannya?
Pada titik ini kita perlu menyadari bahwa sebuah kisah
Kitab Suci tidak dapat dibaca begitu saja secara
tersendiri. Ada beberapa teks, misalnya Markus 14:26-31,
yang perlu kita letakkan di sebelahnya. Apakah yang
dikatakan Yesus di situ ketika menubuatkan penyangkalan
Petrus?
Yesus tidak mengatakan bahwa Petrus akan menjadi takut
atau gentar, tetapi bahwa “iman Petrus dan murid-murid
yang lain akan tergoncang”. Maksudnya bahwa apa yang
dialami Yesus akan menjadi “batu sandungan” di mata para
murid termasuk Petrus.
Petrus tidak pernah membayangkan bahwa Yesus akan begitu
saja membiarkan diri ditangkap, dicerca dan disiksa.
Seorang mesias yang tak berdaya, seorang pembebas yang
terbelenggu. Ia harus tahu apa yang akan terjadi pada-Nya.
Ia sangat mencemaskan nasib Tuhannya. Itu sebabnya ia
nekad mengikuti ke mana Yesus dibawa. Itu sebabnya ia
membantah kecurigaan mereka yang mengenalinya sebagai
pengikut Yesus, dengan menyangkal bahwa ia adalah pengikut
sang Kristus. Ia harus mendampingi Tuhannya. Siapa tahu Ia
memerlukan pertolongannya.
Penyangkalannya pada saat itu perlu, demi tidak tertangkap
sehingga tidak dapat menolong Tuhannya yang sendirian
berhadapan dengan para musuh-Nya. Ia sama sekali tidak
menyangkali Yesus karena memikirkan diri dan keselamatan
sendiri. Lalu apakah kesalahan Petrus?
Kesalahan Petrus yang sebenarnya dimulai ketika Yesus
untuk pertama kali memberitahukan penderitaan yang akan
dialami-Nya (Markus 8:31-33).
Waktu itu Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor-Nya
dengan keras. Yesus pun bereaksi tak kalah kerasnya:
“Enyahlah Iblis...!” Ini bukan sekadar makian atau kutukan.
Tetapi dengan tidak bersedia menerima apa yang dikatakan
Yesus, Petrus memposisikan dirinya sebagai lawan Tuhan,
sebagai iblis. Alih-alih berusaha mengerti apa yang
dikehendaki Tuhan atau “apa yang dipikirkan Allah”, Petrus
memilih untuk berpegang pada apa yang dipikirkannya
sebagai manusia. Inilah penyangkalan Petrus yang
sebenarnya.
Dan sesudah itu terjadilah rangkaian penyangkalan yang
sama, yang dilakukannya bersama dengan murid-murid yang
lain. Dan penyangkalan-penyangkalan itu mencapai puncaknya
pada saat Petrus berniat membela Yesus dengan nyawanya.
Pada saat itu Yesus menegur Petrus dengan kalem: “Nyawamu
akan kauberikan bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu:
Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga
kali...!” (Yohanes 13:38).
Kesalahan Petrus bukan hanya soal melanggar hukum ke
sembilan. Itu hanyalah ekses dari kesalahannya yang
mendasar, yaitu kegagalannya untuk mengerti dan menerima
apa yang dikatakan Yesus kepadanya. Dan Yesus
menyampaikannya bukan hanya dengan kata-kata, tetapi
melalui seluruh sikap hidup dan tindakan-tindakan-Nya.
Petrus, dan sebenarnya juga murid-murid yang lain, tidak
bersedia diingatkan oleh batu sandungan Yesus. Mereka
tidak berhasil mendobrak dinding-dinding pemikiran,
dambaan, bahkan kecemasan diri sendiri. Akibatnya mereka
tidak mengenal Yesus sebagaimana Ia mengungkapkan diri-Nya.
Mereka berkeras mengenali Yesus menurut pemikiran mereka
sendiri.
Padahal bukan Yesus yang membutuhkan nyawa Petrus dan
murid-murid yang lain. Yesuslah yang akan memberikan
nyawa-Nya bagi Petrus dan teman-temannya. Karena merekalah
yang secara hakiki membutuhkan nyawa-Nya.
Kembali ke halaman rumah Imam Besar, ketika Petrus
menyangkal Yesus untuk keempat kalinya, ayampun berkokok.
Dan Petrus mengalaminya bagaikan sebilah pedang merah
membara yang amat tajam yang pelan-pelan tapi pasti
dihunjamkan dalam-dalam di uluhatinya. Di sinilah manusia
mengalami sepi yang paling sepi, pilu yang paling pilu,
duka yang paling duka. Yaitu ketika mendapati diri tanpa
guna tanpa harga tanpa makna.
Namun pada saat yang sama Yesus berpaling dan memandang
Petrus... (Lukas 22:61). Petrus yang bertahan tidak mau
meningglkan Yesus, justru mengalami bahwa pada saat yang
berat dan mencekam seperti itu Yesuslah yang tidak
meninggalkannya sendirian.
Memang kemudian Petrus ke luar dan menangis dengan sedih.
Tetapi tanpa tangisan pilu itu Petrus tidak akan mampu
untuk meyakinkan orang banyak pada Hari Raya Pentakosta
beberapa minggu kemudian, bahwa Yesus yang dibangkitkan
itu adalah jalan kehidupan. Petrus harus tersandung
terlebih dahulu, agar dapat bangkit bersama Tuhannya.
Kita...? |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|