Dalam masa Paska ini ada baiknya kita berhenti sejenak
untuk merenung makna Paska yang sesungguhnya dalam hidup
kita.
Kata “paska” sebagaimana kita ketahui ada hubungannya
dengan perayaan dan tradisi bangsa Israel yaitu perayaan
“pesach” atau “passover” yang berarti “sudah lewat”, yaitu
perayaan yang dilakukan oleh bangsa Israel untuk
memperingati hari keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir
di bawah pimpinan nabi Musa. Paska yang kita rayakan saat
ini tidak terlepas dari rencana dan rancangan Allah untuk
menyelamatkan manusia dari kutukan dosa yaitu kematian
yang kekal.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga
ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya
setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa
melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).
Allah tidak ragu-ragu merelakan Anak-Nya untuk disiksa dan
disalibkan hingga mati. Yesus sendiripun memahami benar
rencana dan rancangan Bapa-Nya bagi keselamatan umat
manusia sebagaimana yang diungkapkan-Nya dalam Lukas
22:24: “Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini
daripadaKu, tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan
kehendakMulah yang terjadi”.
Ungkapan doa-Nya ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus
menyadari benar bahwa Ia harus menggenapi rencana dan
rancangan Allah Bapa. Oleh sebab itu Yesus tidak
memberikan perlawanan saat ia ditangkap, disiksa, dihina
dan disalibkan.
Mel Gibson, memvisualisasikan penderitaan Yesus itu dalam
filmnya The Passion of the Christ yang menimbulkan pro dan
kontra. Yesus diperlakukan secara kejam dan sadis, Ia
diikat di sebuah tonggak dan dicambuk dengan cambuk yang
berujung besi sehingga tubuhnya terkoyak-koyak dan darah
mengucur di seluruh tubuhnya, bahkan sepasang mata-Nya
hampir tertutup oleh cairan darah kental. Ia rela mati
disalib bagaikan seorang kriminil yang tidak berdaya dan
tidak dapat membela diri.
Kematian Yesus di kayu salib merupakan karya besar Allah,
yang melampaui akal manusia, dari rancangan Allah yang
sempurna untuk keselamatan umat manusia. Kematian Yesus
menyatakan kasih dan pengorbanan-Nya bagi manusia dan
kebangkitan-Nya dari antara orang mati menyatakan
pembenaran Allah terhadap pengorbanan-Nya untuk menebus
manusia yang berdosa.
Kebangkitan Yesus suatu peristiwa yang telah direncanakan
Allah dan menjadi titik balik dari sejarah umat manusia
yang seharusnya binasa, menjadi manusia yang mempunyai
kehidupan kekal. Kebangkitan Yesus menjadi pernyataan dan
bukti kebenaran Firman Allah serta kesetiaan dan kuasa
Allah, yang juga merupakan refleksi perbuatan Allah yang
Maha Kuasa dan tidak dapat dihalangi oleh kuasa apapun
juga.
Paska yang sesungguhnya adalah kehidupan, suatu peristiwa
ketika umat manusia diperkenankan memasuki babakan baru
dalam kehidupannya, yaitu ketika kehidupan berkuasa atas
kematian, sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasul Paulus:
“Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah
sengatmu?”(I Korintus 15:55)
Paska juga berarti pesta kemenangan, yaitu kemenangan
Yesus atas kebathilan, kemenangan kuasa kasih atas
kekuatan dendam dan kebencian, kemenangan kuasa kehidupan
atas ketakutan yang mematikan. Bila kita merenungkan kisah
penangkapan Tuhan Yesus sampai kematian-Nya di kayu salib,
maka Paska mempunyai makna pula sebagai bukti kemenangan
kehendak baik atas konspirasi jahat.
Ketika manusia kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya,
ketika sesama manusia saling menghilangkan, menerkam dan
merebut kekuasaan, hidup hanya bersandar kepada materi
saja, maka manusia terjebak pada nafsu kekuasaan, kekayaan
dan ketamakan, sehingga harga suatu kebenaran dan
kejujuran begitu besar taruhannya.
Kebajikan dan keadilan bukan lagi diukur dengan kejujuran
hati nurani, melainkan oleh materi dan kekuasaan. Hidup
tidak lagi bersandar kepada Allah tetapi pada kekuatan,
mammon, kekuasaan, kepopuleran dan kekayaan.
Semangat Paska mengajak kita untuk tidak takut membela
kebenaran dan kejujuran suara hati nurani. Yesus telah
meletakkan landasannya untuk kita perjuangkan dan
lanjutkan. Yesus yang bangkit memberikan pengharapan baru,
memberikan kehidupan yang memiliki makna yang terdalam.
Hidup bukan hanya sekadar mencari harta, kekuasaan dan
harga diri, tetapi hidup yang besandar pada moralitas.
Kehadiran kita sebagai umat tebusan Tuhan di dunia ini
bukan hanya sekadar sebagai manusia, tetapi sebagai umat
tebusan yang masuk dalam rencana dan rancangan Allah.
Sebagai umat Tuhan yang telah ditransformasi oleh kuasa
kebangkitan Yesus, kita pun dipanggil untuk melayani Tuhan
dan sesama kita. Kita menjadi orang-orang percaya yang
hidup berkemenangan seperti kemenangan Yesus yang telah
mengalahkan maut dan segala kuasa dosa.
Dalam masa Paska ini kita tidak hanya sekadar mengingat
pengorbanan Tuhan Yesus, tetapi juga belajar merasakan
semua derita Tuhan Yesus, sehingga kita tidak meremehkan
karya agung Tuhan.
Tuhan ingin agar kita menjaga dan memelihara kasih kita
kepada-Nya seperti Ia telah menunjukkan kasih-Nya kepada
kita. Ia ingin kita taat kepada-Nya dan bersekutu
dengan-Nya, memberikan pelayanan yang terbaik bagi
pekerjaan Tuhan.
Akal budi, hati, prestasi serta segenap kekuatan dan
talenta kita, dapat kita berikan dan tuangkan dalam
pelayanan pekerjaan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak
orang, sehingga kehadiran kita dapat memberikan kehangatan
dan hidup kita memberikan nilai yang berharga bagi
orang-orang di sekitar kita dan bagi mereka yang kita
layani.
Selamat Paska.
Sumber : Beberapa artikel Paska di majalah dan internet. |