Renungan
29 Mei 2004
Refleksi Paska
Zilvanus Imanuel
Dalam masa Paska ini ada baiknya kita berhenti sejenak untuk merenung makna Paska yang sesungguhnya dalam hidup kita.

Kata “paska” sebagaimana kita ketahui ada hubungannya dengan perayaan dan tradisi bangsa Israel yaitu perayaan “pesach” atau “passover” yang berarti “sudah lewat”, yaitu perayaan yang dilakukan oleh bangsa Israel untuk memperingati hari keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir di bawah pimpinan nabi Musa. Paska yang kita rayakan saat ini tidak terlepas dari rencana dan rancangan Allah untuk menyelamatkan manusia dari kutukan dosa yaitu kematian yang kekal.
    “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Allah tidak ragu-ragu merelakan Anak-Nya untuk disiksa dan disalibkan hingga mati. Yesus sendiripun memahami benar rencana dan rancangan Bapa-Nya bagi keselamatan umat manusia sebagaimana yang diungkapkan-Nya dalam Lukas 22:24: “Ya BapaKu, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaKu, tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi”.

Ungkapan doa-Nya ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus menyadari benar bahwa Ia harus menggenapi rencana dan rancangan Allah Bapa. Oleh sebab itu Yesus tidak memberikan perlawanan saat ia ditangkap, disiksa, dihina dan disalibkan.

Mel Gibson, memvisualisasikan penderitaan Yesus itu dalam filmnya The Passion of the Christ yang menimbulkan pro dan kontra. Yesus diperlakukan secara kejam dan sadis, Ia diikat di sebuah tonggak dan dicambuk dengan cambuk yang berujung besi sehingga tubuhnya terkoyak-koyak dan darah mengucur di seluruh tubuhnya, bahkan sepasang mata-Nya hampir tertutup oleh cairan darah kental. Ia rela mati disalib bagaikan seorang kriminil yang tidak berdaya dan tidak dapat membela diri.

Kematian Yesus di kayu salib merupakan karya besar Allah, yang melampaui akal manusia, dari rancangan Allah yang sempurna untuk keselamatan umat manusia. Kematian Yesus menyatakan kasih dan pengorbanan-Nya bagi manusia dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati menyatakan pembenaran Allah terhadap pengorbanan-Nya untuk menebus manusia yang berdosa.

Kebangkitan Yesus suatu peristiwa yang telah direncanakan Allah dan menjadi titik balik dari sejarah umat manusia yang seharusnya binasa, menjadi manusia yang mempunyai kehidupan kekal. Kebangkitan Yesus menjadi pernyataan dan bukti kebenaran Firman Allah serta kesetiaan dan kuasa Allah, yang juga merupakan refleksi perbuatan Allah yang Maha Kuasa dan tidak dapat dihalangi oleh kuasa apapun juga.

Paska yang sesungguhnya adalah kehidupan, suatu peristiwa ketika umat manusia diperkenankan memasuki babakan baru dalam kehidupannya, yaitu ketika kehidupan berkuasa atas kematian, sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasul Paulus: “Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”(I Korintus 15:55)

Paska juga berarti pesta kemenangan, yaitu kemenangan Yesus atas kebathilan, kemenangan kuasa kasih atas kekuatan dendam dan kebencian, kemenangan kuasa kehidupan atas ketakutan yang mematikan. Bila kita merenungkan kisah penangkapan Tuhan Yesus sampai kematian-Nya di kayu salib, maka Paska mempunyai makna pula sebagai bukti kemenangan kehendak baik atas konspirasi jahat.

Ketika manusia kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya, ketika sesama manusia saling menghilangkan, menerkam dan merebut kekuasaan, hidup hanya bersandar kepada materi saja, maka manusia terjebak pada nafsu kekuasaan, kekayaan dan ketamakan, sehingga harga suatu kebenaran dan kejujuran begitu besar taruhannya.

Kebajikan dan keadilan bukan lagi diukur dengan kejujuran hati nurani, melainkan oleh materi dan kekuasaan. Hidup tidak lagi bersandar kepada Allah tetapi pada kekuatan, mammon, kekuasaan, kepopuleran dan kekayaan.

Semangat Paska mengajak kita untuk tidak takut membela kebenaran dan kejujuran suara hati nurani. Yesus telah meletakkan landasannya untuk kita perjuangkan dan lanjutkan. Yesus yang bangkit memberikan pengharapan baru, memberikan kehidupan yang memiliki makna yang terdalam. Hidup bukan hanya sekadar mencari harta, kekuasaan dan harga diri, tetapi hidup yang besandar pada moralitas.

Kehadiran kita sebagai umat tebusan Tuhan di dunia ini bukan hanya sekadar sebagai manusia, tetapi sebagai umat tebusan yang masuk dalam rencana dan rancangan Allah. Sebagai umat Tuhan yang telah ditransformasi oleh kuasa kebangkitan Yesus, kita pun dipanggil untuk melayani Tuhan dan sesama kita. Kita menjadi orang-orang percaya yang hidup berkemenangan seperti kemenangan Yesus yang telah mengalahkan maut dan segala kuasa dosa.

Dalam masa Paska ini kita tidak hanya sekadar mengingat pengorbanan Tuhan Yesus, tetapi juga belajar merasakan semua derita Tuhan Yesus, sehingga kita tidak meremehkan karya agung Tuhan.

Tuhan ingin agar kita menjaga dan memelihara kasih kita kepada-Nya seperti Ia telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Ia ingin kita taat kepada-Nya dan bersekutu dengan-Nya, memberikan pelayanan yang terbaik bagi pekerjaan Tuhan.

Akal budi, hati, prestasi serta segenap kekuatan dan talenta kita, dapat kita berikan dan tuangkan dalam pelayanan pekerjaan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang, sehingga kehadiran kita dapat memberikan kehangatan dan hidup kita memberikan nilai yang berharga bagi orang-orang di sekitar kita dan bagi mereka yang kita layani.

Selamat Paska.

Sumber : Beberapa artikel Paska di majalah dan internet.

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003