Renungan
30 Juli 2003
Bersukacita dan Menyingsingkan Lengan!
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya
“...aku ini kecil dan hina, tetapi titah-titah-Mu tidak kulupakan!” (Mazmur 119:141)
Ketika Schumacher seorang ilmuwan terkemuka mengatakan: “Kecil itu indah,” tidak banyak yang diyakinkan olehnya. Karena pada umumnya orang cenderung untuk mengutamakan yang hebat dan besar, yang membuat orang berdecak kagum, dan yang mencolok mata.

Dengan mobil yang kecil dan murah orang sering tak puas, sebab yang besar dan mahal jauh lebih memikat, dan untuk memilikinya jalan apapun ditempuh. Begitu kecenderungannya, mulai dari pakaian sampai dengan rumah, dan tentu saja dari usaha sosial sampai bisnis.

Bahkan pengetahuan pun dipandang tidak penting bila tidak menjadikan diri kaya dan besar. Maka fakultas kedokteran atau ekonomi dan teknik jauh lebih memikat daripada misalnya fakultas sastra atau pengajaran. Tata sopan-santun, perilaku, bahkan hukum diperlakukan sekunder, selama tidak dapat diatur agar mendukung kecenderungan dan cara berpikir seperti itu.

Celakanya di kalangan orang percaya bahkan dalam gereja – entah itu yang menyangkut hal-hal fisik maupun dalam kiprah bergereja, - kecenderungan seperti itu tidaklah asing.

Gereja sering dianggap bukan gereja bila tidak menempati gedung yang megah, berlantai permadani merah, dilengkapi peralatan tidak lumrah. Kegiatan gereja yang banyak diminati adalah biasanya yang tampak besar di mata, spektakuler atau bahkan mahal.

Akibatnya seringkali pemilihan prioritas penggunaan daya dan dana gereja ditentukan dengan tolok ukur tadi, sehingga banyak kegiatan dan kewajiban gereja yang menentukan bagi jatidirinya sebagai tubuh Kristus, agak terbengkalai...

Maka itu seyogyanya kita menyimak apa yang dinyatakan oleh sang pemazmur dalam Mazmur 119 ayat 141: “...aku ini kecil dan hina, tetapi titah-titah-Mu tidak kulupakan...!”

Memang nadanya lain sekali, bahkan bertolakbelakang dengan kecenderungan di sekitar kita.

Entah dunia berpendapat bagaimana, ternyata di hadapan Tuhan tidak ada kecil atau besar. Semua orang, entah miskin atau kaya, entah berpangkat atau kuli, entah ilmuwan atau tuna-aksara punya kewajiban yang sama, yaitu hidup menaati titah Tuhan.

Pembedaan-pembedaan dengan menggunakan berbagai ukuran seperti di atas itu adalah ulah manusia. Dalam relasi dengan Tuhan, yang menentukan hanyalah apakah seseorang menaati titah Tuhan atau tidak. Maka itu pernyataan sang pemazmur ini sebenarnya merupakan penghiburan dari Tuhan, sekaligus peringatan bagi kita semua.

Sang pemazmur bersyukur kepada Tuhan, sebab walau ia ‘kecil dan hina’ menurut ukuran manusia dan dunia, Tuhan berkenan memberikan hukum-hukum-Nya. Bagi mereka yang kecil, tersisih dan tertinggal, ayat ini sungguh merupakan penghiburan yang membesarkan hati. Sebab Tuhan selalu jatuh hati dan berpihak kepada mereka.

Begitupun seyogyanya dengan kita dalam rangka ulang tahun jemaat kita. Walau jemaat GKI Pondok Indah adalah ‘kecil’ dan mungkin ‘hina’ dibandingkan jemaat-jemaat tertentu di Indonesia ini, tetapi Tuhan telah membuktikan diri setia kepada kita selama 19 tahun! Berbagai pengalaman telah menempa kita, dari yang paling parah sampai dengan yang paling menyenangkan, dan tak terasa 19 tahun telah kita lampaui. Dan hanya kepada Tuhanlah yang patut kita syukuri atas hal ini...

Namun sang pemazmur juga sadar bahwa dirinya tidaklah sempurna. Perhatikanlah bahwa ia tidak mengatakan: “aku ini kecil dan hina, titah-titah-Mu pasti kupenuhi...!” Melainkan dengan rendah hati ia hanya berani menyatakan bahwa ia tidak melupakan titah-titah Tuhan. Artinya ia menyadari bahwa ia belum tentu akan selalu sanggup dan berani taat, karena ia hanyalah manusia berdosa.

Kemurahan Tuhan menyadarkannya betapa kecil dan hinanya dirinya bukan di hadapan manusia, tetapi di hadapan Tuhan. Pada titik inilah pernyataan sang pemazmur juga berfungsi sebagai peringatan. Pertama-tama bagi mereka yang mengukur segalanya dari besarnya, megahnya atau spektakulernya, sebab itu semua tidaklah berarti di hadapan Tuhan.

Namun jangan lupa ini juga peringatan bagi jemaat kita yang sudah berusia 19 tahun ini. Sebab jangan-jangan kita juga lalu menjadi sombong, dengan menganggap diri sebagai yang benar dan yang baik, sebab bukankah 19 tahun kita diberkati Tuhan walau ‘kecil dan hina’...?

Maka itu seyogyanya kita rayakan HUT kita yang ke sembilanbelas ini baik dengan bersyukur maupun dengan berprihatin. Kita bersyukur karena Tuhan hingga saat ini menopang kita, serta kita yakin bahwa Ia akan terus melakukannya di masa mendatang. Namun kita harus berprihatin bahwa sebagai tubuh Kristus di Jakarta Selatan ini, apa yang telah kita capai hingga saat ini masih jauh dari cukup.

Maka itu marilah kita bersukacita seraya menyingsingkan lengan baju guna meningkatkan pelayanan kita masing-masing maupun secara bersama sebagai persekutuan.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003