22 Mei 2007
Change Your Life
|
|
|
|
Seperti yang sudah-sudah di tahun-tahun yang lalu,
perayaan Paskah tiba. Memulai ritual Pra Paskah selama
empat minggu, aksi puasa, aksi sosial, berbagai lomba,
hias telur, Kamis Putih, Jumat Agung, dan... Minggu Paskah.
Bagai tradisi gerejawi yang harus dijalani, setelah
selesai semuanya berlalu begitu saja. Nothing special.
Kita kembali lagi pada kehidupan semula. Menjalani
rutinitas hidup, belajar, sekolah, les, main, gaul, and so
on. Kalo selama masa raya Paskah kita dianjurkan untuk
menahan diri dan hawa nafsu, berpuasa dalam rangka
mengingat kembali sengsara Kristus, lepas Paskah tutur
kata dan tingkah laku kita pun balik lagi seperti semula.
Paskah rupanya nggak membawa dampak yang berarti dalam
hidup kita. Paskah pada akhirnya hanya menjadi sebuah
tradisi belaka. |
|
|
|
Ini bedanya! |
Ngomongin soal Paskah memang kita nggak cuman mengingat
dan mengenang kisah sengsara Yesus. Bagaimana Ia dengan
rela, sengaja jadi tumbal ganti dosa kita yang semestinya
nggak layak menerima semua pengorbananNya itu. Toh,
setelah Ia disalibkan, setiap harinya pun kita masih suka
menyalibkanNya lagi dengan segala tindakan buruk kita,
baik itu pada sesama maupun pada Tuhan. Nggak ada yang
berubah dari diri kita. Semuanya masih sama saja.
Padahal Kristus hadir ke dunia ini untuk membawa sebuah
perubahan. Ia datang untuk sebuah perbedaan. Kematian dan
kebangkitanNya membawa perubahan besar dalam kehidupan
umat manusia. Manusia yang tadinya dipisahkan dari Allah
oleh karena dosa-dosanya (baca Yesaya 59:2), kini telah
dipersatukan lagi dengan Allah lewat perantaraan Yesus
yang telah mati dan bangkit untuk kita (lihat Efesus
2:13-16). Inilah bedanya! Pengorbanan Kristus membuat kita
yang tadinya nggak layak menjadi layak di hadapanNya.
Ketika kita menerima keselamatan itu, ada perubahan besar
yang terjadi dalam hidup kita. Jangan lagi kita hidup
sebagai manusia lama yang masih suka berbuat dosa, tetapi
kita berubah menjadi manusia baru yang berusaha untuk
menjadi seperti Kristus, dan nggak lagi melakukan
perbuatan dosa yang membuat kita justru menyalibkanNya
lagi. |
|
|
|
A new man! |
Harusnya, sih,
masa raya Paskah adalah saat yang tepat buat kita semua
mereview kembali apa yang sudah kita lakukan, gimana
kelakuan dan tutur kata kita selama ini. Apa kita masih
suka ngelawan ortu, suka berantem sama saudara, berlaku
curang dengan teman, suka ngerjain guru, bolos sekolah,
nyontek, ngabisin tabungan buat main, de el el. Nggak usah
diingat-ingat dalam setahun, deh, semua perilaku kita.
Ingat aja apa yang telah terjadi selama enam bulan, atau
paling tidak tiga bulan, atau bahkan dalam satu bulan
terakhir. Kalau sudah, coba ingat-ingat lagi, selama ini
apakah kita sudah pernah minta ampun sama Bapa di sorga
untuk segala dosa kita? Berapa kali kita melakukannya?
Sekali, dua kali, tiga kali, atau nggak pernah sama sekali.
Nah, setelah itu, apakah sehabis minta ampun kita
mengulangi dosa yang sama lagi? Adakah kita sudah menjadi
kebal dengan dosa, sehingga menganggap dosa sebagai
sesuatu hal yang biasa dan lumrah dilakukan?
Well guys, kalo dari semuanya itu ternyata kita lebih
banyak berbuat dosanya, its time to change your life!
Moment paskah ini adalah saat yang paling tepat buat kita
untuk meperbaiki diri. Nggak lagi jadi orang yang habis
berbuat dosa, bertobat, terus berbuat dosa lagi. Yeah...
memang nggak gampang, sih. Namanya juga manusia, pasti
nggak luput dari dosa. But, yang terpenting di sini adalah
bagaimana cara kita untuk berusaha meminimalisir perbuatan
dosa, dan gimana kita berusaha untuk menjadi seperti yang
Kristus inginkan.
Remember! Hidup kita cukup singkat, lho. Jangan sia-siakan
itu dengan melakukan banyak dosa dan menunda pertobatan.
Dosa nggak bisa ditebus dengan melakukan perbuatan baik
ataupun melakukan kegiatan amal atau sosial. Penebusan
dosa cuma dilakukan oleh Kristus dengan harga yang sangat
mahal. Biar penebusan itu nggak jadi sia-sia, caranya cuma
satu. Bertobat dan berubah. Mulailah dengan hal-hal kecil
seperti nggak lagi ngelawan ortu or ngejahilin guru, nggak
lagi berantem dengan saudara, nggak lagi nyontek or
berbohong, nggak lagi ngomong kotor, dsb. Kalau kita bisa
melakukannya, bukan nggak mungkin orang-orang di
sekeliling kita pun jadi bertobat karena melihat perubahan
yang nyata dalam hidup kita. Happy Easter, guys...! q (ika) |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|