|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Refleksi |
|
17 Agustus 2008
Peduli pada Alam Lingkungan Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
Perawakannya tidak tinggi bahkan cenderung agak pendek.
Usianya sudah hampir 80 tahun. Romo Tan Soe Ie, SJ yang
berkedudukan di Gereja St. Ignatius, di desa Ponggol
Kaliurang, adalah seorang tua yang kasat mata bukanlah
seseorang yang istimewa. Dan memang beliau sendiri tidak
pernah mengklem bahwa beliau adalah seorang yang penting
apalagi istimewa.
“Saya hanyalah seorang tua yang tidak punya banyak waktu
lagi...” ujarnya dengan senyum renyah memperlihatkan
sederetan gigi yang ompong di sana-sini.
Tetapi pandang matanya bersinar-sinar penuh dengan
semangat. Terlebih-lebih ketika kepadanya ditanyakan apa
yang dilakukan dan dikerjakannya di Kaliurang beberapa
tahun terakhir ini.
“Ah, ya cuma gini-gini aja...” sahutnya sambil tertawa
terbahak-bahak.
“Jangan begitu dong Romo... masakan ini tidak ada
artinya?” sanggah salah seorang dari kami.
“Ya iya lah... wong cuma ngurusi cacing-cacing...”
sahutnya lagi dengan tertawa makin keras sehingga
terbatuk-batuk sendiri. Lalu ketika batuknya mereda,
Romo Tan balik bertanya:
“Sebenarnya kalian ini mau apa to, mengunjungi saya yang
tua-renta ini...?”
Yang disapa dengan “kalian” oleh Romo Tan adalah
rombongan pendeta peserta kursus penyegaran. Pada
tanggal 19-20 Mei 2008 yang lalu, saya bersama rombongan
itu mengikuti sebuah kursus yang diselenggarakan oleh
Pusat Pengembangan Spiritualitas Fakultas Theologia
Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) di Yogyakarta.
Kursus itu diberi nama dalam bahasa Inggris, mungkin
supaya menarik, atau barangkali kalau dalam bahasa
Inggris lebih memberi kesan bermutu dan bergengsi:
“Theological Refreshing Course for Pastor”. Sedangkan
tema dari kursus penyegaran itu adalah “Penuhilah Bumi
dan Taklukkanlah?” dengan subtema “Menjadi gereja yang
peduli pada lingkungan hidup”.
Sayangnya jumlah pendeta yang mengikuti kursus ini
sedikit sekali dibandingkan dengan jumlah undangan yang
dikirimkan kepada semua pendeta dari gereja pendukung
UKDW. Jumlah peserta kursus adalah 15 orang pendeta,
dengan rincian 1 dari Gereja Kristen Pasundan (GKP), 4
dari Gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ) dan 10 dari Gereja
Kristen Indonesia (GKI), dan salah satu di antara para
pendeta GKI adalah satu-satunya peserta perempuan.
Mudah-mudahan animo untuk mengikuti kursus ini bukanlah
cerminan kepedulian gereja-gereja kita terhadap alam
lingkungan.
Kursus penyegaran, yang diselenggarakan sepenuhnya dalam
bahasa Indonesia, dibuka dengan sebuah kebaktian
ekspresif dan reflektif yang sangat mengesankan. Di situ
para peserta ditantang untuk merenungkan bukan saja apa
yang seyogyanya dilakukan gereja, tetapi juga apa yang
seharusnya dilakukannya, sebagai pendeta, bagi
pelestarian alam lingkungan. Kebaktian itu merupakan
jalan masuk yang sangat tepat ke sesi pertama: Refleksi
Bencana Lingkungan Hidup.
Sesi pertama yang dipandu oleh Drs. Kisworo Msc, dosen
Fakultas Biologi UKDW adalah sebuah pembuka mata
(eye-opener) bagi para peserta. Memang di sana-sini para
pendeta, termasuk saya, telah mendengar dan membaca
betapa upaya pelestarian alam lingkungan, khususnya di
Indonesia, secara pelahan namun pasti menuntut perhatian
dan tindakan yang kian serius. Namun dari presentasi
sesi ini para peserta terhenyak terutama oleh cepatnya
proses perusakan alam lingkungan di Indonesia yang
sedang terjadi.
Proses perusakan itu terutama dalam hal ledakan
kependudukan (jumlah penduduk Indonesia lebih daripada
200 juta, di mana di antaranya 17,8 % berada di bawah
garis kemiskinan, 49% berpenghasilan kurang dari US$ 2
sehari); laju kerusakan hutan atau deforestasi (lebih
daripada 3 juta hektar per tahun, yang berarti lebih
daripada sekitar 8333,3 hektar sehari!); kepunahan
spesies flora-fauna (mengancam biodiversitas alam) dan
krisis air (defisit air di pulau Jawa tahun 200 = 52.809
juta m3). Dan semua ini langsung tidak langsung
memberikan kontribusi pada pemanasan global yang kian
mencemaskan.
Dalam diskusi yang kemudian berlangsung, ada cukup
banyak hal yang dapat dilakukan untuk mencegat laju
perusakan itu dan yang secara perlahan-lahan dan dalam
skala yang amat kecil diharapkan dapat memperbaiki alam
lingkungan. Misalnya melalui partisipasi nyata dan
jejaring, partisipasi politik, dan pelayanan gerejawi.
Namun itu semua hanya akan berarti bila difokuskan pada
perubahan perilaku manusia, dari tidak-ramah lingkungan
menjadi kian ramah lingkungan.
Sesi kedua adalah presentasi dari Ir. Mahatmanto MT,
dosen Fakultas Arsitektur UKDW, dengan judul Arsitektur
Ramah Lingkungan. Dengan amat menarik sang fasilitator
menjelaskan sejarah orang membangun (tempat tinggal,
kota) yang mula-mula amat mempertimbangkan alam
lingkungan karena bergantung sepenuhnya, tetapi yang
kian lama mengabaikannya karena kemampuannya (teknologi)
menyesuaikan kondisi alam lingkungan dengan
kebutuhannya. Beliau mengimbau dan memraktekkan apa yang
disebut sebagai teknologi sustainable (awet,
terus-menerus, memelihara). Dalam diskusi yang mengikuti
sesi ini menjadi jelas pula bahwa inipun, penerapan
teknologi sustainable pun hanya mungkin terjadi bila ada
perubahan perilaku yang sungguh-sungguh mempertimbangkan
pelestarian alam lingkungan.
Sesi ketiga, yang mengawali hari kedua, adalah paparan
pendasaran dan refleksi teologis yang difasilitasi oleh
Prof. DR. J.B Banawiratma, berjudul Teologi Lingkungan
Hidup. Dalam sesi ini terjadi diskusi yang menarik
karena para pendeta berada pada ranah yang amat mereka
kenal. Dengan trampil Profesor Bono mengajak para
pendeta menemukan dan merefleksikan kembali fondamen
teologis alkitabiah mengenai alam lingkungan dan
kewajiban orang percaya atasnya. Banyak hal yang dapat
dipetik dan digarisbawahi dalam sesi ini. Hanya memang
menurut hemat saya ada satu pokok yang kurang digali
lebih dalam dan lanjut, yaitu konsep keselamatan dalam
Yesus yang mestinya bukan cuma menyangkut manusia,
tetapi juga dunia dalam konotasi alam lingkungan. Dan
berlandaskan keyakinan itu setiap orang percaya
dipanggil secara eksplisit untuk mempertanggungjawabkan
upayanya mengeksploitasikan alam lingkungan dengan juga
secara bersungguh-sungguh melestarikannya.
Setelah makan siang dengan bus para peserta dibawa ke
arah Kaliurang. Acara terakhir, atau boleh dibilang
puncak acara penyegaran adalah belajar langsung dari
praktisi lingkungan. Kurang dari 1 jam bus kami berhenti
di depan sebuah gereja yang kecil dan sederhana namun
tampak asri, Gereja St. Ignatius di desa Ponggol
Kaliurang. Menyongsong kedatangan kami dengan wajah
berseri-seri adalah Romo Tan Soe Ie, SJ. Setelah
memperlihatkan lahan di sekitar gereja dan rumahnya yang
cukup luas dan tertata apik, kami naik bus sekitar 15
menit menuju ke tempat Romo Tan melaksanakan usahanya
sebagai praktisi lingkungan.
“Kami mau belajar dari Romo, apa dan bagaimana yang Romo
lakukan dalam rangka konservasi alam lingkungan.” ujar
pengiring rombongan kami.
“Ah, yang saya lakukan hanyalah membuat pupuk organik
dari sampah hijau...”
“Sampah hijaunya diapain Romo...?” tanya salah seorang
dari kami penasaran.
“Saya juga menimbun sampah hijau, saya biarkan beberapa
lama dan saya pakai sebagai pupuk... tetapi hasilnya
menurut saya tidak terlalu istimewa....Kurang sih...”
“Kurang apa Romo...?”
“Kurang cacingnya.... ha ha ha...!” sahut Romo Tan
sambil tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk-batuk.
Setelah batuknya mereda Romo Tan menjelaskan apa yang
dilakukannya, yang sebenarnya sederhana menurut beliau.
Sampah hijau ditumpuk atau dionggokkan membentuk
lajur-lajur pandang setinggi kira-kira 1 meter. Lalu ke
dalam onggokan-onggokan sampah itu dilepaskan beberapa
ekor cacing.
“Sembarang cacing bisa Romo...?”
“Ya bisa saja... ha ha ha...! Tetapi hasilnya belum
tentu seperti pupuk organik kami....”
“Jenis apa Romo...?”
“Wah itu rahasia dapur.... ha ha ha...! Tetapi kalau ada
yang berminat untuk membuat pupuk seperti saya punya
ini, saya kasih cacingnya gratis...!”
Pupuk organik Romo Tan ini disebut “Kascing” yang
sebenarnya adalah kotoran cacing. Sampah hijau tadi
dimakan cacing lalu dikeluarkan lagi sebagai kotoran
dalam bentuk butiran-butiran halus berwarna
kehitam-hitaman dan beraroma seperti tanah. Kotoran
cacing tercampur dengan lendir dan air liur cacing
menjadi pupuk organik yang amat berkhasiat bagi segala
macam tanaman. Dan bukan hanya itu menurut Romo Tan.
Kecuali kandungan NPK yang sangat tinggi, pupuk organik
Kascing masih memiliki sesuatu yang unik, yaitu
kandungan hormon yang dihasilkan oleh lendir dan air
liur cacing. Hormon tersebut memacu pertumbuhan tanaman
(hormon pertumbuhan), sekaligus melindunginya dari
penyakit (antibiotik) dan mampu memelihara stabilitas
tanah maupun media tanam yang lain. Yang terakhir ini
penting, karena biasanya setelah tanah ditanami dengan
diberi pupuk non-organik, maka mutu kandungan tanah
menjadi makin buruk, dan lama kelamaan tidak lagi subur.
Tanah yang seperti itu bila ditanami dengan diberi pupuk
organik Kascing, dalam waktu singkat akan pulih kembali.
Sayangnya tidak banyak petani yang mau memakai pupuk
organik Kascing ini walau harganya murah. Sebab memang
hasilnya tidaklah secepat dan sehebat bila menanam
dengan diberi pupuk kimia, seperti pupuk urea. misalnya.
Tetapi Romo Tan tidak pernah bosan memotivasi para
petani di sekitar gerejanya dan di tempat lain untuk
menggunakan pupuk organik Kascing, buatannya. Karena
amatlah penting menurut beliau bahwa para petani tidak
hanya mementingkan hasil sesekali dan saat ini saja,
tetapi melihat jauh ke depan, serta mengusahakan agar
tanah bukan hanya bisa ditanaminya sendiri, tetapi dapat
dimanfaatkan oleh generasi-generasi berikutnya.
“Yang penting memang lalu menanamkan dan mengembangkan
mentalitas ramah lingkungan...” ujar Romo Tan dengan
pandang menerawang.
“Itu termasuk tugas Bapak-bapak dan Ibu pendeta
sekalian...” sambungnya dengan lirih.
“Untuk menanam cacing...?” tanya salah seorang peserta
bergurau.
“Ha ha ha....” tertawa terpingkal-pingkal sang Romo
hingga kembali terbatuk-batuk.
“Memangnya Ibu Pendeta berani memegang cacing-cacing
yang menjijikkan itu...?” Dan kamipun tertawa
riuh-rendah.
“Saya tidak bisa berceramah teologis ilmiah tentang
pelestarian alam lingkungan. Tetapi pupuk organik saya
inilah menurut saya sumbangsih saya bagi usaha itu...”
kata Romo Tan menyimpulkan pertemuan kami dengan beliau.
Kami pun mengangguk-angguk dengan berbagai pikiran kami
masing-masing. Andaikata ada lebih banyak orang mau
hidup seperti Romo Tan. Andaikata ada lebih banyak orang
mau berpikiran seperti Romo Tan. Andaikata dari mimbar
lebih kerap dikhotbahkan tentang panggilan dan tanggung
jawab setiap orang percaya untuk melestarikan alam
lingkungan. Andaikata GKI Pondok Indah dapat berprakarsa
seperti Romo Tan, bukan untuk membuat pupuk organik
Kascing, tetapi memulai sebuah usaha pelestarian alam
lingkungan yang cocok di kota, seraya memberdayakan
warganya untuk lebih ramah lingkungan. Andaikata
gereja-gereja, khususnya GKI mengkhususkan satu bulan
tertentu sebagai Bulan Peduli Alam Lingkungan seperti
Bulan Keluarga misalnya...
Andaikata... |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|