|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Refleksi |
|
4 Juni 2008
Dalang Istimewa Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
Tahun 1976, sekitar pertengahan bulan Juni, saya tiba di
jemaat GKI Wonosobo, Jawa Tengah, untuk melakukan tugas
penelitian jemaat dan praktik awal. Penelitian dan
praktik terutama akan dilakukan di desa Winongsari, di
mana jemaat GKI Wonosobo mempunyai sebuah bakal jemaat,
yang waktu itu disebut sebagai cabang.
Dengan Majelis GKI Wonosobo disepakati bahwa dua minggu
sekali, pada akhir minggu saya ke Wonosobo agar bisa
membantu pelayanan kebaktian Sekolah Minggu atau remaja,
berhubung jemaat GKI Wonosobo tidak mempunyai pendeta.
Selebihnya saya akan berada di desa Winongsari. Setelah
menginap dua malam di Wonosobo untuk perkenalan dan
pengarahan, sekitar jam 9 pagi saya menuju ke desa
Winongsari.
Sesuai dengan petunjuk yang saya terima, saya menaiki
bus ke arah Banjarnegara selama kurang 45 menit sampai
di pertigaan Kaliwiro. Dari situ setelah menunggu
sekitar 15 menit, datanglah omprengan yang saya naiki
selama kurang-lebih 30 menit hingga kota kecamatan
Kaliwiro. Dari situ saya masih harus berjalan kaki
sejauh 7 kilometer untuk mencapai desa Winongsari.
Sepanjang perjalanan banyak orang yang memerhatikan saya
dengan aneh. Mungkin cara berpakaian saya yang tidak
terlalu biasa bagi mereka. Padahal saya mengenakan
pakaian yang menurut hemat saya biasa: celana jeans biru
dan kemeja biru kotak-kotak. Atau mungkin gaya saya yang
berbeda. Pendeknya lama-lama saya merasa kurang enak
juga. Kira-kira setengah perjalanan saya berhenti di
sebuah warung untuk beristirahat sejenak, minum dan
menanyakan arah.
“Adik mau ke mana?” tanya ibu penjaga warung ketika saya
memasuki warungnya.
“Ke desa Winongsari Bu...”
“Oh...! Apakah adik calon pendeta Kristen yang mau
magang di Winongsari?” tanya si ibu dengan mata besar.
Saya mengangguk sambil tersenyum. Rupanya kabar tentang
hal baru cepat tersiar di daerah ini.
“Ya Bu. Apakah masih jauh dari sini?”
“Ah, tidak. Kira-kira dua belokan lagi Adik akan melihat
ke bawah di desa yang sebelah kiri. Kalau sampean turun
jalan menyeberangi sungai, itulah Winongsari.”
Setelah minum segelas es kelapa muda saya melanjutkan
perjalanan. Ternyata Winongsari masih cukup jauh. Saya
catat setidaknya sepuluh belokan telah saya lewati
ketika dari kejauhan saya melihat kumpulan rumah-rumah
bergenting merah. Tetapi si Ibu benar ketika mengatakan
bahwa saya akan melihat desa di Winongsari di sebelah
kiri saya. Desa yang kelihatan asri dikelilingi oleh
sawah-sawah terhampar hijau dan apik. Dan di tepi sawah
di sebelah kanan berdiri sebuah bangunan kecil yang
sederhana dengan salib di atasnya. Rasanya tak salah
lagi. Tetapi itukah gedung GKI cabang Winongsari?
Ketika saya mulai menuruni jalan memasuki desa 3 orang
laki-laki menyongsong saya.
“Saudara Purboyo..? Kami dari jemaat cabang Winongsari.
Berangkat dari Wonosobo jam berapa? Perkenalkan...”
Mereka ternyata warga jemaat dan salah satu di antaranya
adalah seorang penatua.
“Mari kami antar ke tempat Saudara menginap, sambil
melihat-lihat gedung gereja kita.”
Dan ternyata tepat dugaan saya. Gedung gereja yang saya
lihat dari kejauhan adalah gedung GKI cabang Winongsari.
Gedung gerejanya dapat memuat sekitar 100 orang.
Dindingnya terbuat dari papan dan anyaman bambu.
Lantainya plesteran semen. Ada mimbar yang amat
sederhana dan bangku-bangku seperti di warung tertata
rapi. Di belakang gedung gereja ada sebuah dapur dan
kamar mandi kecil serta sebuah kakus di atas kolam
sekitar 5 kali 5 meter.
Dari gereja setelah berjalan sekitar 500 meter tibalah
kami di rumah keluarga Penatua Suwondo, tempat saya
menginap selama saya berada di Winongsari. Saat itu
waktu menunjukkan sekitar jam 12 siang. Dengan ramah
kami berempat disambut istri Pak Suwondo, dipersilakan
duduk di beranda di atas balai-balai serta dihidangi
kopi dan teh serta singkong rebus. Tak lama kemudian Pak
Suwondo muncul sesudah mandi usai bekerja di sawah.
“Panggil saja nama saya: Wondo.... ndak usah pakai
Pak...” ujarnya sambil menyalami saya. Pak Wondo
ternyata orang yang menyenangkan dan senang bercerita
tentang banyak hal.
“Mari silakan singkongnya...”
“Wah.. nanti saya kekenyangan...” jawab saya.
“Ayolah jangan malu-malu Dik... Makan siang masih lama
lho...?” ujar salah satu Bapak yang menghantar saya
sambil tertawa renyah.
Pada waktu itu saya tidak mengerti yang dimaksudkannya.
Kami duduk mengobrol sekitar 1 jam. Kemudian setelah
para penghantar saya berpamitan bersama Pak Wondo yang
harus ke kantor kelurahan di mana ia menjabat sebagai
“wakil carik” atau wakil sekretaris desa, saya mulai
mengerti.
“Dik Purboyo saya pamitan dulu. Saya harus ke kantor
kelurahan. Silakan istirahat dulu. Nanti kalau saya
pulang kita ngobrol-ngobrol lagi sambil makan...” kata
Pak Wondo.
Saya pun memasuki kamar yang disediakan bagi saya. Saya
membongkar tas pakaian dan meletakkan barang-barang,
termasuk beberapa buku di tempatnya. Lalu duduk
membaca-baca. Sekitar jam 14 saya merasa lapar. Dan
setelah menengok ke ruang tengah, dan tidak tersedia
apapun di atas meja makan, saya bermaksud ke wc. Saya
menuju ke belakang, Ibu Suwondo sedang sibuk memasak
ditemani putri mereka yang berumur sekitar 3 tahun.
“Oh, Pak Purboyo.... di sini kami tidak punya kamar
mandi... Kami mandi dan... eh.... ke belakang... di
sungai...” kata Bu Wondo tersenyum malu.
“Di sungai...?
“Ya....” jawab Bu Wondo dengan geli, barangkali
memperhatikan keterkejutan saya. “Kalau mandi bisa di
pancuran, atau langsung di sungai. Tapi kalau mau
...eh...ke belakang, Pak Purboyo bisa ke belakang di
gereja...” sambungnya lagi.
Maka saya pun berjalan menuju ke gereja dan membuang air
kecil. Sesudah itu saya menuju ke sungai yang tidak jauh
dari gedung gereja. Di tepian ada beberapa “pancuran”
dengan pembatas seadanya untuk tempat mandi. Namun tidak
ada kakus satu pun seperti yang ada di belakang gedung
gereja. Tiba-tiba saya melihat dua orang sedang
berjongkok membuang hajat. Dan masing-masing hanya
berjarak sekitar 2 meter. Saya langsung memutuskan bahwa
saya tidak akan membuang air besar di sungai.
Waktu sudah menunjukkan jam 15 ketika saya kembali ke
rumah Pak Wondo. Saya merasa sangat lapar. Saya berjalan
agak bergegas, kuatir sudah ditunggu oleh keluarga
Suwondo. Tetapi ternyata suasana sepi-sepi saja. Pak
Wondo belum datang, Bu Wondo juga tidak kelihatan. Di
atas meja makan sudah tersedia dua mangkok berisi
lauk-pauk, tetapi rupanya nasi masih dimasak. Saya mulai
menyesal mengapa tadi tidak terlalu banyak makan
singkong rebus. Pak Wondo datang sekitar jam 15.45, dan
setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya tibalah saat
yang saya tunggu-tunggu kamipun makan.
Ternyata itulah saat makan yang kedua dan terakhir untuk
hari itu. Untung malamnya setelah mandi ada acara minum
kopi dengan singkong rebus yang saya nikmati dengan
tanpa malu lagi. Di bawah sinar lampu petromaks kami
ngobrol-ngobrol sampai larut malam. Sekitar jam 22.30
Pak Wondo pamitan untuk tidur karena pagi-pagi buta ia
sudah harus ke sawah. Ketika melihat saya beranjak untuk
berjalan ke arah gereja, ia bertanya:
“Mau ke mana... buang air kecil di kebun saja... ha ha
ha... semua orang melakukannya...”
Begitulah ternyata ada banyak hal yang harus saya
biasakan di tempat baru ini yang akan saya tinggali
selama dua setengah bulan. Tetapi yang paling berat di
antaranya adalah mandi dan ke belakang, serta kebiasaan
makan hanya dua kali sehari. Sebab di malam pertama itu
sekitar jam 1 dinihari saya terbangun karena lapar. Dan
saya bertahan dengan meminum air hingga jam 9 keesokan
paginya ketika saya dipanggil makan bersama Pak Wondo
yang sudah kembali dari sawah.
Setelah sekitar seminggu saya mulai terbiasa dengan 2
kebiasaan yang paling berat itu. Dan saya sudah larut
dalam penelitian dan pelayanan di jemaat desa
Winongsari. Pak Wondo ternyata sangatlah cekatan
membantu saya. Ia selalu mengantar saya ke mana-mana,
termasuk mengunjungi sebuah air terjun yang tinggi dan
indah. Sayang tempatnya terpencil sehingga tidak dapat
dikomersialisasikan.
Pak Wondo adalah salah seorang penatua kunci dari 4
penatua di GKI cabang Winongsari. Ia lulusan SMEA dan
menjabat sebagai wakil sekretaris desa. Dan pengetahuan
Alkitabnya amatlah baik, sehingga ialah yang biasanya
memimpin kebaktian-kebaktian keluarga, dan terkadang
kebaktian Minggu di Winongsari, bila tidak ada pendeta
yang datang. Beberapa kali saya mendengarkan renungan
atau khotbahnya. Walau ulasan dan isinya sederhana,
rasanya saya belum dapat memberikan renungan atau
khotbah sebaik yang dia lakukan. Namun masih ada sebuah
kejutan lagi.
“Nanti malam Dik Pur ada acara...?” tanya Pak Wondo pada
suatu hari Sabtu, ketika kami “makan pagi” sekitar jam
10 (!).
“Kalau tidak ada acara, mau ikut saya ke desa lain
sekitar 10 km dari sini?”
“Ada apa...?”
“Wayang kulit...” jawabnya singkat sambil tersenyum
penuh arti.
Ternyata Pak Wondo adalah seorang dalang yang
sewaktu-waktu diminta untuk menggelar pertunjukan.
Perangkat wayang dan gamelan adalah milik desa, tetapi
di desa itu hanya ada beberapa dalang termasuk Pak
Wondo. Ketika waktu berangkat tiba, saya tercengang
melihat Pak Wondo. Ia memakai baju tradisional Jawa,
lengkap dengan blangkon dan keris.
Pertunjukan baru dimulai sekitar jam 21 dan berlangsung
hingga menjelang dinihari. Yang luar biasa adalah bahwa
selama pertunjukan itu beliau tidak pernah beranjak dari
tempatnya untuk ke belakang.
Namun yang lebih mencengangkan adalah ketika pada adegan
tertentu ia “menyelipkan” pesan-pesan kristiani dalam
percakapan tokoh-tokoh yang dimainkannya. Misalnya dalam
adegan ketika Kresna menasihati Arjuna sebelum berangkat
berperang. Dengan penguasaan bahasa Jawa saya yang
sederhana saya mendengar nasihat Kresna yang kira-kira
berbunyi: “Kasihilah sesamamu. Karena mereka adalah
saudara-saudaramu... siapa pun dan apapun mereka...”
Ketika hal itu saya tanyakan kepadanya keesokan harinya
ia tersenyum malu tetapi bangga.
“Begitulah... bagi saya itu adalah kesempatan untuk
bersaksi...” ungkapnya dengan singkat.
Pengalaman penelitian dan praktik di Winongsari takkan
saya lupakan. Terutama Pak Wondo, penatua dan dalang
yang istimewa. Keduanya turut mebentuk dan mengasah saya
dalam pelayanan di gereja Tuhan. |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|