|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Refleksi |
|
20 September 2007
Indonesia Buat Semua Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
Usai mengajar kerap kali saya naik bis kota dari halte
di depan Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta di jalan
Proklamasi 27, turun di halte Tosari dekat bundaran Hotel
Indonesia. Di situ saya berganti naik bus Trans Jakarta
atau yang populer dengan nama “busway” ke blok M di mana
saya biasanya telah ditunggu oleh Pak Djiman pengemudi
kami, untuk kembali ke Cinere.
Tetapi terkadang dari halte di depan STT Jakarta saya
beruntung menaiki bus “Patas” ber”ac”. Bila saya mendapat
tempat duduk biasanya saya tidak berganti bus di Tosari.
Karena walau perjalanan lebih lama akibat kemacetan, masih
mendingan ketimbang lebih cepat sampai di blok M namun
harus berdiri berdesak-desakan di “busway”. Lagipula,
berada di dalam bus kota tidak pernah membosankan.
Berbagai pengalaman bisa kita alami dan berbagai
pembelajaran bisa kita petik.
Pada suatu Senin sore yang panas saya beruntung
mendapatkan tempat duduk di atas bus “Patas” ber”ac” yang
langsung ke Ciputat melewati terminal Lebak Bulus. Setelah
menghubungi Pak Djiman untuk menunggu saya di terminal
Lebak Bulus, saya bersiap-siap untuk mengantuk dan
tertidur. Namun baru saja saya hendak memejamkan mata,
naiklah seorang pemuda berambut cepak dengan sebuah gitar
tergantung di bahunya.
“Selamat sore, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, para penumpang
yang budiman. Juga selamat sore untuk Bapak Sopir dan
Kondektur. Perjalanan Anda masih panjang, tetapi jangan
kuatir saya akan menghibur Anda...”
Dan mulailah ia memetik gitar yang terdengar sedikit
sumbang karena dawainya sudah tua, lalu menyanyikan lagu
“Country Road” dari John Denver. Suaranya agak melengking
dan cukup merdu. Ketika ia mengakhiri lagunya tak
seorangpun bertepuk tangan. Setiap orang sibuk dengan
dirinya sendiri, dengan lamunan dan kantuknya.
“Begitulah tadi “Country Road” dari John Denver.
Berikutnya sebuah nomor dari Franky and Jane.... lagu
“country” produk lokal...”
Lima lagu “country” dinyanyikannya dengan cukup baik,
walau terkadang akordnya tidak terlalu tepat. Namun sang
pengamen berusaha melakukan “pekerjaannya” dengan
sungguh-sungguh serta bersemangat.
“Demikianlah tadi sekadar hiburan dari saya. Terima kasih
Pak Sopir dan Kondektur. Kepada seluruh penumpang saya
ucapkan selamat jalan, dan tiba di rumah dengan selamat,”
ujar sang pengamen sambil menyodorkan sebuah gelas plastik
bekas air mineral kepada setiap penumpang.
Ada yang merogoh kantung dan memberi sekadarnya, ada yang
menggelengkan kepala, dan tentu saja ada yang berpura-pura
tidak melihatnya. Setelah semua mendapat sodoran gelasnya
maka dengan sigap di halte berikutnya ia melompat turun.
Sebelum bis bergerak lagi melompat masuklah seorang
perempuan agak gemuk setengah umur dengan membawa gitar.
Dan mulailah kembali acara hiburan di atas bis kami. Kali
ini lagu-lagu “KoesPlus” yang ternyata dibawakan dengan
baik oleh si perempuan. Ketika ia menyodorkan gelasnya
pada akhir “shownya” yang ditutupnya dengan lagu “Kembali
ke Jakarta”, menurut pengamatan saya ia mendapatkan lebih
banyak uang ketimbang rekannya sebelumnya.
Ketika sang perempuan turun di halte Dukuh Atas, saya
mengantisipasi masuknya pengamen yang lain. Namun ternyata
bis kembali bergerak tanpa hiburan, karena kemudian
tampillah ke tengah bis seorang pemuda yang menawarkan
buku-buku agama Islam dengan cara meletakkan beberapa buku
di pangkuan para penumpang. Kemudian ia menjelaskan betapa
penting, berguna dan murahnya buku-buku itu. Ia
menjelaskannya dengan lucu dan menarik. Sayang ketika ia
menjemput kembali buku-bukunya hanya satu orang yang
tertarik untuk membelinya.
Di halte Bendungan Hilir saya mulai memejamkan mata,
ketika tiba-tiba seorang pemuda berpeci menuntun seorang
pemuda berpeci lain yang buta menaiki bis dengan membawa
gitar.
“Assalammualaikum....! Kiranya Allah SWT melimpahkan
berkahNya kepada para penumpang sekalian. Perkenankanlah
teman saya yang buta ini, tetapi yang amat berbakat dan
soleh, menghibur Anda semua...”
Maka mulailah sang penyanyi buta melantunkan lagu-lagu
dengan irama “qasidah” yang liriknya adalah seruan untuk
hidup menurut jalan Tuhan di dunia yang penuh dengan
kemaksiatan dan kejahatan ini. Di antara setiap lagu ia
mengutip dari AlQuran sebuah ayat nasihat dalam bahasa
Arab dengan terjemahannya. Batal saya tidur karena suara
sang penyanyi sama sekali tidaklah merdu. Dan di sekitar
saya beberapa orang kelihatan merasa terganggu, tetapi
mereka diam saja. Menjelang akhir “konsernya”, rekannya
yang tadi menuntunnya menyodorkan gelasnya. Beberapa
perempuan berjilbab memberinya uang dan saya memutuskan
untuk melakukannya juga karena saya menghargai semangat
mereka berdua, terutama si pengamen buta.
Di halte Ratu Plaza mereka turun dan digantikan oleh
pengamen keempat, seorang pemuda berambut panjang yang
diikat dengan buntut kuda.
“Salam sejahtera dan selamat sore penumpang yang saya
hormati. Tadi rekan-rekan saya sudah menghibur Anda semua.
Kini giliran saya untuk mengiringi perjalanan Anda.
Kiranya lagu-lagu yang saya bawakan berkenan di hati Anda....”
Dengan sangat takjub saya mendengarkan sang pengamen
menyanyikan lagunya yang pertama, yang kata-katanya terasa
akrab di telinga saya. Kian lama kian saya kenali lagu itu,
lagu “Seperti Yang Kau Ingini”. Lagu rohani Kristen, yang
kalau tidak salah dinyanyikan oleh Nikita, yang
kadangkadang dinyanyikan oleh anakanak saya. Dan lagulagu
berikutnya adalah benarbenar lagulagu rohani Kristen yang
isinya adalah anjuran untuk hidup benar di hadapan Tuhan,
bahkan anjuran untuk menyerahkan diri dan kehidupan kepada
Tuhan Yesus Kristus, sang Juru Selamat.
Saya melihat berkeliling, kuatir ada orang yang merasa
terganggu atau protes terhadapnya. Namun seperti pada saat
sang pengamen buta menyanyikan lagulagu rohani Islam,
tidak ada seorang pun yang bereaksi. Hanya memang ketika
ia usai cuma empat orang yang mem-berinya uang termasuk
saya. Dan ia masih sempat mengucapkan katakata penutup,
sebelum ia me-ninggalkan bis di perempatan jalan Melawai:
“Terima kasih para penumpang yang dikasihi Tuhan. Tuhan
mem-berkati Anda semua. Selamat jalan. Syalom!”
Untung sesudah pengamen keempat tidak ada lagi pengamen
yang naik, karena rasanya para penumpang sudah bosan
mendengarkan nyanyian dan mungkin juga bosan memberikan
uang. Dalam keheningan bis kota saya merenungkan
pengalaman saya yang unik dan berharga ini.
Saya tidak habis heran bahwa toleransi di antara para
pengamen dan penjaja dagangan terhadap mereka yang berbeda
agama begitu nyata. Dan itu hanya bisa terjadi karena
sopir dan kondektur bis juga memberikan kesempatan kepada
semua orang, pengamen, dan penjual keliling, tanpa
membeda-bedakan. Tetapi yang lebih menakjubkan adalah para
penumpang yang dengan penuh pengertian serta kesabaran
mendengarkan lagu-lagu “country”, lagu-lagu “KoesPlus”,
uraian pedagang buku, lagu-lagu rohani Islam, bahkan
lagu-lagu rohani Kristen.
Mengapa? Jawabannya sederhana. Setiap orang perlu hidup
apa pun suku atau agamanya, apa pun bidang usahanya.
Selama usaha untuk hidup itu tidak bertentangan dengan
prinsip kepantasan yang umum diterima, maka para penumpang
bis dengan sabar dan penuh pengertian menerimanya. Inilah
yang seharusnya tidak hanya terjadi di atas bis kota, di
antara orang-orang kecil yang harus bergulat dengan hidup
yang keras setiap hari.
Mestinya toleransi seperti itu juga terjadi antara para
pedagang usaha kecil, menengah, besar bahkan para
konglomerat. Tidakkah setiap orang perlu hidup apa pun
suku atau agamanya, apa pun bidang usahanya?
Mestinya toleransi seperti itu juga terjadi di
lembaga-lembaga pendidikan rendah hingga tinggi, di mana
orang-orang berpendidikan bergulat dengan disiplin
keilmuan setiap hari. Sebab tidakkah kebenaran mestinya
tidak berpihak dan tidak membeda-bedakan?
Mestinya toleransi seperti itu juga terjadi di kalangan
hamba-hamba hukum dan di sidang-sidang peradilan. Tidakkah
sang dewi keadilan menimbang dan menghukum dengan mata
tertutup?
Mestinya toleransi seperti itu juga terjadi di Senayan, di
antara para anggota DPR dan MPR berikut komisi-komisinya.
Tidakkah mereka itu semua bukan hanya wakil golongan,
partai, atau kelompok mereka sendiri, tetapi pada
hakikatnya wakil dari segenap rakyat Indonesia tanpa
kecuali?
Mestinya toleransi seperti itu juga terjadi di gereja dan
jemaat kita. Tidakkah Tuhan juga tidak berpihak dan
membeda-bedakan?
Mestinya toleransi seperti itu terjadi di mana-mana.
Tidakkah Indonesia adalah untuk semua?
|
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|