|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Refleksi |
|
3 April 2007
“Mam” Douglas Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
“Ya, halo? Selamat pagi... Dengan siapa? Purboyo?”
“Ya dengan Pendeta Purboyo Mams...”
“Ah! Dominee.... senang saya mendengar suara Bapak.”
“Bagaimana keadaan Mams sesudah seminggu ini keluar dari
rumah sakit?”
“Secara umum sih baik... hanya saja masih cepat merasa
lelah. Sehingga banyak pekerjaan yang masih belum sempat
saya selesaikan. Piring dan gelas bekas makan pagi saja
belum saya cuci.”
“Oh.. bagaimana dengan hari ini...?
“Yah... lumayan sih. Kenapa? Pak Pendeta hendak singgah?”
“Sebenarnya begitu, tetapi kalau Mams tidak bisa hari ini,
saya akan datang lain kali.”
“Wah jangan dong. Walaupun merasa lesu, kalau didatangi
Pak Pendeta, saya akan senang sekali dan mudah-mudahan
Tuhan akan menyegarkan saya.”
“Benar tidak apa-apa Mams....?”
“Ya. Silakan datang Pak Pendeta. Jam berapa Bapak akan
sampai di sini?”
“Sekitar 1 jam lagi bisa?”
“Tentu... sampai nanti.”
Ibu Douglas adalah seorang janda berumur delapanpuluhan.
Ia adalah ibu dari Ibu Jetty, istri dari Bapak Monsanto.
Mereka sekeluarga adalah satu-satunya anggota jemaat
Gereja Kristen Indonesia Nederland (GKIN) yang tidak
berbahasa Indonesia, karena asli asal Suriname, bekas
koloni Belanda di bilangan Amerika Selatan. Mereka semua
pada mulanya adalah anggota jemaat Gereja Belanda, yang
kemudian tertarik dengan suasana bergereja jemaat GKIN
yang menurut mereka amat mirip dengan gereja di Suriname.
Ibu Douglas, atau yang secara akrab disapa dengan
panggilan “Mams” dari “Mam” menurut kebiasaan di Suriname,
yang berarti “ibu”, adalah seorang pensiunan bidan. Ia
adalah seseorang yang sangat disiplin dalam waktu, amat
ramah dan penuh perhatian kepada semua orang. Itu sebabnya
ia selain amat dicintai oleh anak dan menantu serta
cucu-cucu, ia juga sangat dicintai oleh segenap warga
jemaat GKIN di kota Arnhem dan Nijmegen. Ia menjadi tokoh
yang dituakan di jemaat itu. Setiap orang di jemaat GKIN
Arnhem/Nijmegen memanggilnya dengan “Mams”.
Beberapa tahun sebelumnya ia kedapatan mengidap kanker
yang ganas. Setelah dioperasi beberapa kali ternyata
kemudian sel kanker muncul kembali, sehingga kembali ia
harus menjalani operasi yang cukup berat. Sehari setelah
operasi saya menjenguknya di rumah sakit. Ketika saya tiba
di kamarnya, ia tidak ada di tempat ridurnya.
“Apakah Ibu Douglas masih dirawat di sini....?” tanya saya
kepada seorang wanita Belanda berumur sekitar tigapuluhan
yang rupanya juga dirawat di kamar itu.
“Oh... Mam Douglas, yang berasal dari Suriname?”
“Ya... Mam Douglas...” jawab saya.
“Ya ia masih di sini. Ia harus konsultasi dengan dokter
jaga sebentar.”
“Anda sudah lama mengenalnya...?”
“Mengapa... oh karena saya memanggilnya dengan ‘Mams’ ya?
Saya mengenalnya di kamar ini. Tetapi ia begitu ramah
sehingga kami cepat menjadi akrab. Rasanya seperti sekamar
dengan ibu saya sendiri. Mari silakan duduk dulu. Sebentar
lagi pasti ia datang.”
“Terima kasih,” kata saya sambil duduk di kursi di sebelah
tempat tidur Mam Douglas.
Saya tersenyum sendiri melihat tempat tidur yang walau
kelihatan dilakukan terburu-buru, dirapikan dengan baik.
Meja kecil di sisi tempat tidur yang penuh sesak dengan
obat-obatan, kacamata dan sebagainya juga kelihatan rapi.
Tak pelak lagi, tempat tidur Mam Douglas.
“Bapak masih ada hubungan keluarga dengan Mams, soalnya
Bapak tidak kelihatan seperti orang Suriname?” tanya
wanita teman sekamar Mam Douglas.
“Bukan. Saya pendetanya.”
“Oh... begitu.”
“Saya orang Indonesia. Mams adalah anggota jemaat saya,
jemaat Indonesia.”
“Pasti Mams adalah anggota jemaat yang aktif ya?”
“Benar. Ia bersama anaknya sekeluarga sangat aktif.”
“Jetty? Memang keluarga yang sangat mengagumkan.”
“Mengagumkan...? Maksud Anda bagaimana?”
“Ya mengagumkan, terutama Mams. Saya sudah terbaring di
sini tiga hari ketika Mams masuk kamar ini. Saya waktu itu
dalam keadaan amat tertekan. Karena kemarinnya kedapatan
kanker ganas di tubuh saya. Namun Mams yang juga mengidap
penyakit sama, bahkan harus dioperasi untuk kesekian
kalinya sama sekali tidak kelihatan susah.”
Wanita itu menghela nafas panjang sambil menyeka matanya
yang basah. Kemudian melanjutkan:
“Ia selalu menguatkan dan menghibur saya. Ia selalu
mengajak saya berdoa. Mula-mula saya tidak mau. Bukan
karena saya tidak percaya kepada Tuhan. Tetapi lebih
karena sudah bertahun-tahun saya tidak pernah berdoa...
Sejak Mams dirawat di sini saya tidak lagi merasa tertekan.”
Itulah Mam Douglas. Seorang wanita dengan kepercayaan yang
amat teguh. Seseorang yang dalam kesulitan dalam
penderitaan masih dapat menghibur dan menguatkan orang
lain. Dari dia saya banyak sekali belajar. Ia bukanlah
seorang teolog dalam arti seseorang yang belajar teologia
secara formal. Tetapi ia adalah seorang teolog sejati
bahkan unik. Seorang teolog adalah seseorang yang selalu
mempertanyakan segala sesuatu dalam hidupnya dalam terang
relasinya dengan Tuhan. Itulah Mam Douglas, dalam
kesederhanaan dan kesahajaannya. Beginilah seharusnya
setiap orang Kristen yang dewasa dan bukan lagi anak-anak.
Ketika ia dikabari bahwa dalam waktu dekat ia harus
dioperasi lagi, karena rasa sakit di lambungnya terkadang
tak tertahankan lagi, ia tetap tenang, bahkan selalu
menemukan sisi positif dari segala sesuatu.
“Pak Pendeta, saya sudah beberapa tahun hidup dengan
penyakit ini. Dokter yang akan mengoperasi saya minggu
depan adalah dokter yang terakhir mengoperasi saya hampir
dua tahun lalu. Dia amat heran bahwa saya masih hidup...!
Tidakkah ini berkat Tuhan bahwa saya masih bisa bertahan
selama ini?”
“Tentu Mams.”
“Makanya saya tidak pernah mengeluh dan mempersalahkan
Tuhan. Saya yang harus belajar untuk menerima ini semua
dan menyesuaikan diri serta hidup saya pada kenyataan ini.
Saya yakin sikap seperti inilah yang dikehendaki-Nya dari
saya. Dan inilah yang membuat saya bertahan.”
Saya mengangguk-angguk dengan kagum. Kerapkali dalam
khotbah, renungan atau pembinaan yang saya sampaikan, saya
menekankan bahwa hidup bersama dengan Tuhan adalah proses
untuk menerima dan menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan.
Apapun itu, termasuk penderitaan. Mam Douglas tidak perlu
memberikan penjelasan teologis tentang itu, tetapi cukup
membuktikannya dengan hidupnya. Dan dengan sikap hidup
yang begini positif ia menghibur dan menguatkan
keluarganya, dan banyak orang, termasuk saya.
Sekitar limapuluh lima menit setelah saya menelponnya,
saya menekan tombol bel di pintu muka bangunan apartemen
tempat tinggal Mam Douglas.
“Apakah itu Pak Pendeta? Saya tahu Pak Pendeta biasanya
tepat waktu.”
“Benar Mams. Saya tidak berani terlambat bila berkunjung
ke sini.”
“Ah. Pak Pendeta bisa saja. Silakan naik. Pak Pendeta
sudah tahu jalannya kan?”
Setelah pintu dibuka saya masuk ke lobi, dengan lift
menuju ke lantai lima, kemudian menyusuri gang menuju ke
apartemennya. Di muka pintu apartemen Mams ada beberapa
pot bunga yang segar sehingga membuat suasana asri. Dan
saya tahu bahwa di balik pintu apartemennya saya akan
mendapati sebuah rumah yang nyaman dan hangat, dengan
penghuni yang amat menyenangkan untuk dijumpai.
“Selamat datang Pak Pendeta!” sambutnya ketika membukakan
pintu. Dan begitu saya masuk langsung ia memeluk dan
mencium saya.
“Senang sekali saya kalau Pak Pendeta datang ke sini.”
“Saya juga senang datang ke sini Mams.”
“Mari duduk. Saya sudah membuat kopi susu untuk Pak
Pendeta. Silakan... Sebentar lagi Jetty akan datang
membawa pastel kesukaan Pak Pendeta...”
Setiap kali saya mengunjungi Mam Douglas saya sangat
menikmatinya dan hati saya merasa teduh. Sehingga
terkadang saya bertanya-tanya sendiri dan akhirnya saya
lontarkan kepada Mams:
“Sebenarnya kalau saya berkunjung ke sini, Mams yang
membutuhkan saya atau sayalah yang membutuhkan Mams?”
“Ah! Pak Pendeta bisa saja tentu saja saya yang
membutuhkan. Bukankah saya adalah anggota jemaat yang
sakit yang perlu perhatian dari sesama saudara seiman, dan
tentu dari pendetanya? Tetapi memang dalam kenyataannya
yang dibutuhkan juga dapat memperoleh apa yang
diperlukannya sendiri dalam perjumpaan ini.” jawabnya
seraya tersenyum dengan penuh pengertian.
Entah bagaimana, bila saya dalam keadaan tertekan saya
biasanya meneleponnya dan bila memungkinkan mengunjunginya.
Ketika kami sekeluarga kembali ke Indonesia, ia memeluk
saya dengan erat seusai kebaktian perpisahan. Sayapun
memeluknya dan enggan melepaskannya. Kami berdua tahu
bahwa kami takkan pernah dapat bertemu lagi.
“Saya yakin bahwa walau kita berjauhan, hati kita akan
selalu dekat.”
Saya tidak dapat menjawab waktu itu. Namun saya amat
setuju dengannya. Dan saya tahu bahwa walaupun saya tak
berkata apa-apa, ia tahu bahwa saya setuju. Di Indonesia
setelah larut dan sibuk dengan pelayanan saya tetap
mengingatnya, khususnya bila berada di antara warga jemaat
senior. Setiap kali saya melakukannya, hati saya merasa
teduh. Setiap kali saya merasa tertekan dan mengalami
krisis motivasi, saya mengenangnya dan dikuatkan kembali.
Sekitar dua tahun yang lalu ketika saya mendapat kabar
bahwa Mam Douglas dipanggil Tuhan, saya tidak dapat
menahan air mata saya.... |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|