|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Refleksi |
|
27 Nopember 2006
Ayahku-Temanku Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
“Kamu ngapain siang ini?” tanya ayah saya sesudah kami
makan siang bersama.
“Nggak ada apa-apa. Baru nanti malam saya harus ke gereja.”
“Kita main barang dua partai?”
“Oke...”
Maka sepanjang siang hingga sore itu kami bermain catur.
Sesekali ibu saya menengok kami dan sedikit
bersungut-sungut karena beliau merasa diabaikan. Namun
biasanya beliau meminta pembantu untuk membuatkan kopi
bagi kami dan menghidangkan camilan. Dan hal ini paling
tidak terjadi seminggu sekali di rumah kami, ketika saya
masih tinggal di rumah orang tua.
Barangkali relasi antara seorang ayah dengan anaknya tidak
dapat digambarkan dengan lengkap dan utuh melalui
permainan catur yang rutin terjadi di antara mereka. Namun
bagi saya saat-saat itu adalah saat yang menyenangkan.
Saya merasa diperlakukan bukan lagi sebagai anak yang
tahunya hanyalah taat kepada ayahnya. Memang sebelum duduk
di SMA ayah dan ibu saya mendidik anak-anaknya dengan
cukup keras. Tidak jarang saya mendapatkan hukuman badan.
Tetapi begitu saya lulus SMP, entah bagaimana saya
diperlakukan sebagai teman. Dan pasti bukan hanya sebagai
teman main catur. Karena di sela-sela masa berpikir,
terjadi percakapan yang sama sekali tidak menegangkan.
“Bagaimana kabarnya si ‘Itu’? Sudah sebulan ini dia tidak
mampir...” tanya ayah saya sambil menggerakkan bentengnya
untuk melahap bidak saya yang tidak terlindung.
“Baik-baik saja.... sibuk barangkali...”
“Kalian pacaran nggak sih...?”
“Nggak... kami cuma berteman...”
“Teman baik?”
“Ya.”
“Baik sekali....?”
“Begitulah...” jawab saya sambil menggerakkan kuda
mengancam bentengnya yang hendak menghancurkan pertahanan
saya.
Yang juga berkesan bagi saya adalah bahwa dalam percakapan
seperti itu ayah saya pun bersedia berbagi dengan saya.
“Bapak jadi mengajar di Universitas Empu apa itu...?”
tanya saya sambil menunggu beliau memikirkan jawabannya
atas langkah pembelaan diri saya.
“Universitas Empu Tantular... memangnya kenapa?”
“Apakah Bapak tidak akan terlalu sibuk.... di STT, di UKI,
di sinode, tugas kemajelisan... ditambah lagi di
universitas baru itu...?”
“Ya memang sibuk, tetapi sejauh ini aku bisa mengatur
waktuku... Sejauh aku mampu aku selalu mau membantu
siapapun.... Lagipula aku punya semacam obligasi moral
terhadapnya... schaak...!”
Ayah saya selalu memperlakukan saya sebagai temannya,
walau beliau tidak pernah membuat saya melupakan bahwa
beliau adalah tetap ayah saya. Masih segar dalam ingatan
saya nasihat beliau ketika saya untuk pertama kali
berpacaran.
“Di zamanku berpacaran berarti selangkah sebelum menikah...
Oleh karena itu jangan pernah lupa bahwa perjalananmu
menuju ke situ masih jauh. Jadi hati-hatilah, jangan
sampai terlanjur...!”
Dan ketika saya mengaku percaya, beliau menghadiahi saya
sebuah Alkitab (pada waktu itu GKI Kebayoran Baru belum
memberikan Alkitab kepada mereka yang mengaku percaya atau
baptis dewasa). Pada halaman judul beliau menuliskan:
‘Untuk Pungky.... 1 Timotius 4:12... Love, Bapak’
“Menurutku ayat yang kukutip di situ cocok untukmu. Tolong
dibaca dan diingat....”
Sebagai seorang guru ayah saya amat peduli pada rencana
studi kami, anak-anaknya. Namun beliau tidak pernah
menuntut kami untuk memilih bidang studi pilihannya.
“Menurutku, kamu mampu studi ilmu pasti maupun ilmu sosial.
Kami bisa jadi dokter atau analis kimia, tetapi juga bisa
menjadi ahli bahasa atau psikolog...”
“Dokter... analis... psikolog...?”
“Atau bidang studi yang merupakan kombinasi ‘otak kanan’
dan otak kiri’..”
“Misalnya...?”
“Arsitektur.... atau teologi...!”
Waktu saya memutuskan untuk studi teologi, walau saya
sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk di ITB
jurusan arsitektur, ayah saya memandang saya dengan mata
berkaca-kaca.
“Kamu yakin....?”
“Ya...!”
Lalu beliau mengajak saya berdoa bersama dengan ibu saya.
Dan sejak itu beliau amat mendukung saya dalam studi.
Begitupun dilakukannya terhadap adik-adik saya. Buku-buku
dan perlengkapan yang kami perlukan selalu diupayakannya
agar tersedia bagi kami. Tetapi juga bimbingan dan nasihat
studi selalu dapat kami harapkan darinya.
“Angka rata-ratamu semester ini menurun.... Memang
prestasi akademis bukanlah jaminan prestasi lapangan.
Tetapi prestasi akademis akan diperhitungkan bila kamu
hendak studi lanjut...”
Beliau mengatakan hal itu karena beliau menempuh jalan
yang cukup keras untuk dapat studi lanjut. Tetapi tidak
pernah beliau menyombongkan diri. Ketika ibu saya dan saya
menyortir buku-buku beliau setelah beliau meninggal, saya
menemukan map yang berisi catatan akademisnya. Ternyata
beliau lulus S-2 dengan nilai rata-rata 3,9 dari nilai
maksimal 4.
Selain dalam studi bimbingan dan nasihat dalam pelayanan
juga selalu dapat saya harapkan dari beliau. Tahun 1976
saya melakukan tugas penelitian di desa Winongsari dekat
Wonosobo. Di situ saya membantu seorang ibu pembuat tempe.
Ketika saya meminta kiriman uang untuk memodali ibu itu,
tanpa bertanya beliau mengirimkannya. Dan ketika ternyata
usaha pembuatan tempe itu tidak berhasil, beliau dengan
mudah menerima penjelasan saya.
Pernah ada saat di mana saya mempertanyakan apakah saya
cocok untuk menjadi pendeta. Beliau mengusulkan kepada
saya untuk menjalani masa praktik (‘stage’) di Universitas
Satya Wacana dan menumpang di rumah teman ayah saya
seorang pendeta Gereja Kristen Jawa di Salatiga. Saya
menuruti nasihat beliau. Dan selesai masa praktik saya
merasa mantap kembali untuk menjadi pendeta jemaat, walau
sempat ditawari pekerjaan sebagai konselor bila saya
lulus.
Selama masa pelayanan di Klaten (jemaat pertama saya) dan
di Malang, ada momen-momen di mana saya amat membutuhkan
beliau. Dan beliau dengan sabar mendengarkan keluh-kesah
saya sebagai seorang konselor yang baik. Tetapi juga
sebagai teman. Teman yang saya tahu berpihak kepada saya,
tetapi yang juga tidak akan membiarkan saya mengambil
keputusan yang bodoh.
Ayah saya juga adalah seseorang yang realistis. Ketika
tiba masa di mana pernikahan saya menjadi di ambang pintu,
ayah saya bertanya kepada saya:
“Sudah siap...?”
“Yah... begitulah...”
“Jangan kuatir.... tidak ada seorang pun yang benar-benar
siap untuk itu pada awalnya.”
Ketika saya tidak menjawab, beliau menyambung:
“Nanti kalau kamu sudah mendapat cuti, kamu bisa beli
cincin kawinmu di jalan Kenanga. Dulu kami juga membeli
cincin kawin kami di situ.”
“Oke.”
“Kamu punya uang cukup?”
Saya tidak menjawab. Karena gaji saya sebagai calon
pendeta di GKI Klaten ditambah uang cuti waktu itu memang
tidak cukup untuk membayar sepasang cincin kawin.
Beliaulah yang akhirnya membayarnya.
“Kelak saya bayar kembali Bapak.”
“Tidak perlu. Hadiah dari saya.”
Ketika saya hendak memulai pelayanan di Klaten, beliau
mengantar saya untuk membereskan rumah saya. Beliau
mengerti bahwa anak sulungnya tidak terlalu trampil
melakukannya. Juga ketika saya memasuki pelayanan di kota
Malang, beliau pun turut menghantar saya dan selama
seminggu turut membereskan rumah kami.
Tentu sebagai manusia, ayah saya mempunyai juga kelemahan
dan kekurangan. Selain sikapnya yang selalu prinsipial
bahkan cenderung kaku, salah satu lagi di antaranya adalah
ketidakmampuannya untuk mengutarakan perasaannya dengan
jelas memakai kata-kata. Tetapi sikap dan perbuatannya
selalu adalah bukti nyata dari kasih-sayangnya. Rasanya
tak mungkin saya bisa menjadi seorang ayah seperti beliau.
Tahun 1986 ayah saya didapati mengidap penyakit kanker.
Kurang dari tiga bulan sejak itu beliau meninggal dunia.
Beliau meninggalkan kekosongan yang tak mungkin diisi oleh
siapapun, dalam keluarga kami, dan terutama dalam hidup
saya. Banyak saudara dan sahabat hadir dalam kebaktian
pemberangkatan jenazah di GKI Kwitang Jakarta, di mana
beliau hingga akhir hidupnya melayani sebagai penatua.
Memang komitmennya pada pekerjaan maupun pelayanan adalah
sesuatu yang patut saya teladani. Beliau terlibat dalam
begitu banyak pelayanan yang baru kami ketahui dan sadari
ketika beliau meninggal.
Saat ini sudah lebih daripada 20 tahun beliau meninggalkan
saya. Namun terkadang ada saat-saat di mana saya amat
merindukannya. Untuk mencurahkan perasaan dan keluh-kesah
saya. Untuk bermain catur sambil mengobrol dengannya. Saya
tidak ingat persis tanggal beliau meninggal. Tetapi saya
tidak akan melupakan tanggal 12 Juli, hari ulang tahunnya.
“Ik houd van u, Bapak....!” |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|