|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Refleksi |
|
29 September 2006
Merah Putih di Mana-mana Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
|
1 |
Sebagai calon pendeta (dahulu disebut sebagai “Tua-tua
Khusus”) di kota Klaten saya menempati pastori, yang
adalah sebuah rumah kontrakan. Ia agak terlalu kecil untuk
ditempati sebuah keluarga dengan anak-anak. Namun
berhubung waktu itu saya masih membujang rumah dengan dua
kamar tidur kecil-kecil itu cukup lapang dan nyaman bagi
saya. Lagipula halamannya cukup luas dan kira-kira di
tengahnya berdiri sebuah tiang bendera.
Pertengahan Juli di tahun pelayanan pertama, tahun 1981,
saya keluar masuk toko mencari bendera untuk saya kibarkan
di halaman pastori. Ternyata tidak mudah mendapatkannya di
kota sekecil Klaten. Apalagi pada waktu itu penjual
bendera memang tidak semarak sekarang, terutama bila
dibandingkan dengan di Jakarta. Namun akhirnya saya
mendapatkannya di sebuah toko yang menjual perlengkapan
sekolah dan pramuka.
Sementara mencari bendera itu, muncul gagasan untuk
mengadakan kebaktian khusus merayakan kemerdekaan
Indonesia. Tidakkah menyadarkan warga jemaat tentang tugas
panggilannya sebagai warga negara adalah salah satu tujuan
dari pembinaan warga gereja? Sayang usulan saya tidak
diterima oleh Majelis Jemaat, karena menurut sebagian
besar dari anggotanya urusan kebangsaan dan kenegaraan
bukanlah urusan gereja.
“Coba Anda bayangkan Purboyo... Apakah kita lalu harus
menyanyikan “Indonesia Raya” dalam kebaktian... dan
mengibarkan bendera di gedung gereja...?” ujar seorang
penatua.
“Mengapa tidak...?” tanya saya penasaran yang disambut
dengan senyum penuh arti yang makna utamanya adalah
ketidaksetujuan.
Keesokan harinya saya bertemu di jalan dengan pendeta
Gereja Jawa bersama istrinya. Keduanya adalah kakak kelas
saya tiga tahun di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Di
antara obrolan kami yang seru terutama yang menyangkut
masa kuliah, sempat saya ceritakan gagasan kebaktian
merayakan kemerdekaan Republik Indonesia itu.
“Beberapa tahun yang lalu gereja-gereja Klaten, termasuk
Gereja Katolik, pernah berencana menyelenggarakannya.
Tetapi entah mengapa rencana itu tidak terlaksana...”
“Bagaimana kalau kita hidupkan lagi rencana itu...?” seru
saya penuh harapan.
“Coba aku jajagi bersama rekan-rekan yang lain. Kalau jadi
kamu mau turut dalam kepanitiaannya kan?”
“Beres...!”
Harapan saya tidak sia-sia. Praktis semua pendeta bersama
jemaat mereka di kota Klaten dan sekitarnya, termasuk para
pastor Katolik, bersedia berpartisipasi dalam kebaktian
bersama merayakan kemerdekaan Indonesia. Majelis Jemaat
Klaten syukur menyetujui keikutsertaan GKI Klaten dalam
kebaktian itu. Kebaktian yang amat berkesan, setidaknya
bagi saya.
Agar tidak mengganggu acara masing-masing anggota jemaat,
kebaktian diadakan pada tanggal 18 Agustus sore.
Penyelenggaraannya dilakukan di gedung gereja yang paling
besar di Klaten, di gedung gereja Katolik. Di samping
kanan altar berdiri sebuah payung kencana, lambang
pengayoman dalam tradisi Jawa. Dan di samping kiri altar
berkibar sang Merah Putih. |
|
|
|
2 |
Memasuki pelayanan di kota Malang di awal tahun 1984, saya
mendapati bahwa tradisi merayakan kemerdekaan Indonesia
dalam kebaktian tidak hanya dilakukan bersama oleh
gereja-gereja di kota Malang, tetapi juga secara
tersendiri oleh jemaat. Walau yang terakhir ini tidak
selalu berjalan mulus. Masih segar dalam ingatan saya
perdebatan sengit dalam rapat Majelis Jemaat mengenai
menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
“Menurut hemat saya sangatlah tidak tepat bila ‘Indonesia
Raya’ dinyanyikan dalam kebaktian!”
“Mengapa? Bisakah Ibu memberikan alasannya?”
“Tidakkah hal itu seharusnya amat jelas? Dalam kebaktian
kita menyanyikan lagu-lagu rohani, lagu-lagu yang
mendekatkan kita dengan Tuhan.”
“Pak, tidakkah lagu-lagu itu selain mendekatkan kita
dengan Tuhan, juga lalu menggugah kita untuk menaati-Nya?”
“Tentu saja. Tetapi saya tetap tidak melihat relevansi
dinyanyikannya “Indonesia Raya” dalam ibadah kita di
jemaat ini!”
“Tidakkah tugas panggilan kita sebagai anak Tuhan
mencakupi juga kewajiban kita terhadap bangsa dan negara?”
“Maaf... saya tetap berpendapat bahwa sangatlah tidak
tepat bila ‘Indonesia Raya’ dinyanyikan dalam kebaktian!”
Itulah kira-kira jiwa dari perdebatan yang berlangsung
cukup sengit dan cukup lama. Akhirnya terjadilah
kesepakatan: “Indonesia Raya” dinyanyikan setelah jemaat
menyanyikan “Haleluya - Amin” seusai pengutusan dan berkat.
Jadi di luar liturgi atau setelah kebaktian.
Dan sang Merah Putih? Ia berkibar dengan megahnya, walau
dalam kesendirian, di halaman gereja. |
|
|
|
3 |
Agustus 1987 bulan pertama tiba di Belanda, kami berlima,
Pdt. Lazarus, Wati istrinya, Disti putrinya, Elisabeth dan
saya pergi ke kota Wasenaar. Kami hendak menghadiri
upacara Peringatan Kemerdekaan Indonesia di halaman
kediaman resmi Duta Besar RI di Kerajaan Belanda. Sebulan
di negara yang asing, sulit berkomunikasi karena bahasa,
dan suasana sekitar yang amat berbeda dibandingkan dengan
di lingkungan kami sebelumnya di Indonesia, membuat kami
sangat rindu pada Indonesia. Kami membayangkan bahwa kami
akan bertemu dengan ribuan orang. Karena menurut
keterangan yang kami dapat di Belanda tinggal belasan ribu
orang asal Indonesia.
Upacara dimulai terlambat lebih daripada satu jam,
terutama karena Bapak Duta Besar yang tinggal di situ
terlambat muncul. Yang hadir saat itu sekitar dua ratus
orang. Dan kami perhatikan betapa mereka mengikuti upacara
dengan setengah hati. Sebagian besar dari mereka memang
harus mengikutinya karena merupakan keluarga dari staf
kedutaan.
Seusai upacara dan sambutan-sambutan dimulailah acara
ramah-tamah lengkap dengan musik dan makanan Indonesia
yang limpah-ruah. Dan tahu-tahu halaman rumah Duta Besar
yang amat luas itu menjadi penuh sesak. Menurut perkiraan
kami saat itu sudah hadir sekitar tiga hingga empat ratus
orang, mungkin lebih. Rupanya mereka sengaja menghindari
upacara, dan mementingkan acara ramah-tamah.
Di tengah hiruk-pikuk orang-orang Indonesia yang sibuk
makan, merokok kretek, bersenda-gurau dalam bahasa daerah,
bahasa Belanda dan bahasa Indonesia, berdiri sebuah tiang
bendera menjulang tinggi. Di atasnya berkibar dengan megah
sang Merah Putih. Bagaimanapun sejuk juga hati kami
melihatnya. |
|
|
|
4 |
Di jemaat GKI Pondok Indah, kebaktian merayakan
Kemerdekaan Indonesia yang pertama saya ikuti di tahun
2002 sangatlah berkesan. Karena hal itu adalah yang
pertama saya hadiri di Indonesia sejak meninggalkan tanah
air di tahun 1987. Saya memperhatikan betapa kapan dan di
mana lagu “Indonesia Raya” dinyanyikan tidak lagi
dipersoalkan secara naif dengan mengatakan bahwa ia
bukanlah lagu rohani. Sang Merah Putih juga senantiasa
hadir, walau tidak mesti dalam bentuk sebuah bendera.
Ini menyejukkan hati. Terutama membaca berita di koran
betapa banyak orang Indonesia tahun ini yang entah mengapa
enggan mengibarkan sang Merah Putih di halaman rumahnya.
Ini tentu memprihatinkan (atau menurut Harian Kompas: ‘memrihatinkan’).
Sehingga ada pejabat pemerintahan daerah yang mengancam
warganya dengan denda bila tidak mengibarkan bendera. Dan
ini lebih menyedihkan lagi. Haruskah kecintaan pada bangsa
dan negara sendiri dipaksa seperti itu?
Kembali ke kebaktian merayakan Kemerdekaan Indonesia di
tahun 2002 itu, saya ingat bahwa yang hadir hampir
memenuhi gedung gereja kita (di bawah). Namun di bulan
Agustus tahun 2006 ini, yang hadir dalam kebaktian
merayakan Kemerdekaan Indonesia di jemaat kita hanya
sekitar separuhnya. Ke manakah yang separuh lagi? Mungkin
karena akhir minggu panjang ditambah libur Isra’ Mi’raj.
Tetapi jangan-jangan mereka enggan hadir seperti
orang-orang yang enggan mengibarkan sang Merah Putih di
halaman rumah mereka.
Memang, yang penting adalah bahwa sang Merah Putih
senantiasa berkibar di hati kita. Tetapi, begitu sulitkah
mengibarkannya setahun sekali di halaman rumah, di
lingkungan RT/RW atau di gereja kita? |
|
|
|
5 |
|
Merdeka...!? |
|
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|