Refleksi
7 September 2005
DR. Th. Van den End: Merdeka, namun...?
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya
Pada suatu Sabtu sore yang cerah di bulan Agustus kami, lima orang mahasiswa tingkat satu didampingi dua kakak tingkat, meninggalkan kampus di jalan Proklamasi Jakarta Pusat menuju ke Rawamangun dengan kendaraan umum. Kami hendak berkunjung dan makan malam di rumah salah seorang dosen kami.

Kunjungan itu adalah salah satu program keakraban yang diadakan Sekolah Tinggi Teologia (STT) Jakarta dan berlangsung sepanjang tahun bagi mahasiswa baru. Kegiatan yang amat baik, yang saya tidak tahu apakah saat ini masih dijalankan.

Dosen yang kami kunjungi kali ini adalah guru besar sejarah gereja, seorang Belanda, DR. Thomas van den End.
    “Wah, kita mengunjungi bekas penjajah,” ujar salah seorang dari kami yang rupanya masih demam peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Kami tertawa riuh mendengarnya. Bahkan kakak-kakak tingkat ikut tersenyum.

    “Dan jangan-jangan sepulang kita dari rumahnya kita masih harus jajan,” sambung seorang teman yang lain.
    “Memangnya mengapa?” tanya salah seorang kakak tingkat.

    “Bukankah orang Belanda biasanya, maaf... agak pelit.”

    “Memang beliau terkenal sangat ekonomis, tapi...”

    “Ekonomis atau pelit, apalah bedanya itu,” potong teman yang rupanya merasa tahu karakter orang Belanda itu.
Maka perjalanan yang kurang-lebih mengambil waktu setengah jam itu kami habiskan untuk membicarakan orang Belanda. Dari kecanggungan mereka dalam bergerak, – mungkin akibat postur mereka yang pada umumnya tinggi–hingga kebiasaan makan keju yang bagi beberapa di antara kami sama sekali tidak enak, bahkan mengenai mentalitas kolonial yang dipercaya melekat pada orang-orang Eropa. Hingga tidak terasa kami sudah harus turun dan berjalan sekitar seratus meter ke rumah sang dosen.
    “Selamat sore dan selamat datang.” sambut Pak van den End dengan ramah.

    “Selamat sore semua,” sambut istrinya tak kalah ramahnya walau dengan aksen Belanda yang masih amat kentara.

    “Mari, silakan mengambil tempat di mana saja kalian mau duduk,” sambung Pak van den End sambil menyalami kami satu-persatu.

    Belum sempat kami duduk dengan enak Ibu van den End langsung bertanya:

    “Mau minum apa? Kami punya es teh, es stroop, tetapi kami juga ada teh panas atau kopi.”
Untuk seorang Belanda yang baru saja menyusul suaminya ke Indonesia selama enam bulan, Ibu van den End berbicara cukup baik dalam bahasa Indonesia.

Karena sifat perkunjungan kami adalah tidak resmi demi keakraban di antara kami, maka kami mulai saling berkenalan dengan menceritakan asal dan latar belakang kami masing-masing. Saya memperhatikan bahwa rumah keluarga van den End ditata dengan apik tipikal rumah orang Eropa. Berbagai perabot rumah tangga yang digunakannya kebanyakan terbuat dari kayu dan rotan, serta amat fungsional dan tidak mewah. Ekonomis atau pelit?
    “Ini perabot dibawa dari Belanda atau dari sini saja?” tanya salah seorang dari kami yang rupanya juga sedang memperhatikan penataan rumah sang dosen.

    “Ah, tidak. Terlalu mahal eh itunya... apa itu Tom...?”

    “Maksudnya ongkos membawanya ke sini.” Pak van den End menjelaskan. “Lagi pula kelak kalau kami pulang, kami ingin membawanya ke Belanda.”

    “Kalau mau dibawa ke Belanda mengapa tidak membeli perabot ukiran dari Jepara?”

    “Ah, terlalu mewah dan terlalu mahal,” jawab Ibu.

    “Tetapi buat kalian bukankah tidak terlalu mahal?”

    “Memang tidak, tetapi kami berpikir lebih baik menggunakan uang sebanyak itu untuk hal lain yang lebih berguna.” jawab Pak van den End.
Kami mengangguk-angguk, tetapi sebenarnya tidak begitu mengerti. Ekonomis atau pelit? Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara seseorang yang keras dari luar:
    “Minyaaaak... minyaknya beli Ibu...!?”

    “Ah tukang minyak sudah datang,” ujar Ibu sambil menuju ke pintu dan kemudian ke belakang bersama sang tukang minyak.

    “Bapak membeli minyak tanah dari tukang minyak?” tanya salah seorang dari kami.

    “Ya, ia langganan, maksudnya saya sudah berlangganan padanya sejak setahun yang lalu, sebelum Ibu datang.”

    “Mengapa tidak membeli di koperasi saja? Bukankah jatuhnya lebih murah?”
Pak van den End memandang teman saya dengan heran;
    “Ah selisihnya tidak seberapa. Tetapi yang penting kami ikut membuat jualannya laku. Kalau semua orang membeli minyak tanah dari koperasi, bukankah kasihan para tukang minyak seperti dia?”
Kami semua terdiam. Ini bukan lagi soal ekonomis atau pelit. Dan hal itu tampak dalam makanan yang disiapkan bagi kami.
    “Ada dua jenis makanan sederhana yang tersedia,” ujar Ibu van den End setelah kami selesai berdoa.

    “Yang di sebelah kiri adalah makanan khas Belanda: kentang, daging semur dan sayuran. Bagi yang ingin coba makanan Belanda silakan. Tetapi yang lebih suka makan nasi, saya suka sekali nasi, silakan ambil yang di kanan ada sayur asam dan daging goreng. Mbak yang membantu kami masak enak sekali...”
Dalam perjalanan pulang kami membicarakan kesan kami dalam kunjungan yang kami lakukan. Masalahnya bukan lagi enonomis atau pelit. Melainkan kesahajaan, bahkan kepedulian.
    “Tahukah kalian, bahwa Pak van den End setiap bulan menanggung biaya studi sekitar sepuluh orang mahasiswa?” tanya salah seorang kakak tingkat.
Kami menggeleng. Jelas ini bukan masalah ekonomis atau pelit. Melainkan kebebasan atau kemerdekaan. Kebebasan untuk menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk hal-hal yang baik bagi orang lain. Kemerdekaan untuk menyalurkan dan menjadi berkat bagi sesama.

Kita sudah merdeka sejak tahun seribu sembilan ratus empat puluh lima. Tetapi belum tentu merdeka seperti itu.
 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003