|
Navigasi |
|
|
|
|
|
Warta Jemaat |
|
|
|
|
Layanan Jemaat |
|
|
|
|
Kegiatan Ouikumenis
|
|
|
| |
|
|
|
|
 |
|
Refleksi |
|
8 Januari 2005
Ibu Sindhoepramana: Boze mensen zingen niet... (Orang-orang marah/jahat tidak dapat menyanyi...) Pdt. Purboyo W. Susilaradeya |
|
|
Ketika baru beberapa bulan pindah ke Jakarta dari Belanda,
saya bersama dengan Elisabeth dan Ibu mertua menengok
Eyang Sindhoe di rumah putri beliau, Ibu Kridharti dan
suaminya Bapak Hari, di jalan Mawar - Rempoa.
Setelah
bertahun-tahun tak pernah berjumpa dengan beliau saya
sempat terkejut. Beliau kelihatan begitu kecil, tua dan
rentan. Terbaring di tempat tidur, walau mampu duduk
asalkan tidak berlama-lama. Tetapi sinar matanya, caranya
memandang masih tetap Eyang Sindhoe. Agak sulit beliau
mengingat-ingat siapa saya. Namun dengan
pertanyaan-pertanyaan asosiatif ternyata ingatan beliau
masih baik.
Ibu, kata Ibu Kridharti dengan lembut. Ibu masih ingat
Tante Soemakno di Semarang dulu?
Wah tentu saja... Dia adalah sahabatku.
Tante Soemakno kan punya lima anak perempuan? Yang bungsu
bernama Amsi. Nah, beliau ini putranya Yu Amsi...
Lho, putranya Amsi... yang pendeta itu...?
Betul Ibu.
Pendeta.... Pungky!
Luar biasa. Bukan hanya daya ingatnya. Tetapi semangatnya,
imannya. Komitmen, kasih dan perhatiannya. Seluruh
kepribadiannya. Sambil saling melepas rindu kami
bernostalgia mengenang masa lalu.
Di rumah di jalan Pandean Lamper Semarang, rumah yang
besar dan asri, dengan halaman belakang yang luas dengan
sebuah pohon besar yang rindang, di situ ingatan saya
sering tertambat. Sebagai anak berusia sekitar
delapan-sembilan tahun saya kerap diajak nenek saya, Ibu
Soemakno, bertandang ke rumah itu. Nenek saya lumayan
tegap dan gemuk. Sangat impulsif dan cenderung cerewet.
Sangat kontras dengan Eyang Sindhoe bersama Eyang Kakung
yang kecil dan langsing, serta sabar dan tenang. Tetapi
mereka sangat dekat, rekan dalam berbagai kegiatan
pelayanan, termasuk pekabaran Injil.
Ketika keluarga kami pindah ke Jakarta dan akhirnya nenek
saya pun pindah ke Jakarta. Kabar tentang Eyang Sindhoe
dan keluarga sempat tidak saya ikuti. Hingga pada suatu
hari dalam masa liburan saya mampir ke Semarang untuk
beberapa hari. Waktu itu atas perintah dari nenek, saya
mampir ke Semarang, ke rumah di jalan Pandean Lamper.
Ternyata ingatan saya tentang rumah itu masih tepat. Dari
mulai dua pilarnya yang besar, pohon yang rindang di
halaman belakang, dan terutama para penghuninya. Eyang
Sindhoe dan Eyang Kakung, serta Tante Wien dan suami serta
anak-anak yang tinggal di pavilyun.
Setelah itu saya memasuki masa perguruan tinggi lalu masa
pelayanan sebagai calon pendeta di jemaat GKI Klaten.
Selama itu kabar tentang Eyang Sindhoe dan keluarga hanya
saya dengar dari nenek saya. Mereka telah pindah ke
Jakarta, walau masih sering bepergian ke Semarang menengok
anak dan cucu yang tinggal di Semarang.
Kemudian ketika saya menjadi pendeta di GKI Malang,
sesekali kami cuti ke Jakarta karena orang tua kami
tinggal di Jakarta. Pada saat itu biasanya kami ikut
berbakti di jemaat orang tua Elisabeth, di cabang dari GKI
Kebayoran Baru, di Pondok Indah. Dan di situlah saya
berjumpa kembali dengan Eyang Sindhoe dan Eyang Kakung.
Bahkan sesekali saya diminta untuk memimpin kebaktian yang
waktu itu masih diselenggarakan di aula Sekolah Tirta
Marta. Bapak Subekti, menantu Eyang Sindhoe saya ingat
pernah bertindak sebagai penatua pengantar pendeta. Beliau
masih tetap seperti dulu. Semangatnya, imannya. Komitmen,
kasih dan perhatiannya. Seluruh kepribadiannya.
Dalam masa pelayanan di Belanda kami banyak mendengar
kabar tentang Eyang Sindhoe. Juga ketika Eyang Kakung
meninggal. Seingat saya pada suatu kesempatan cuti saya
berjumpa dengan Eyang Sindhoe di gereja. Beliau kelihatan
amat lemah karena baru terjatuh. Namun semangat dan
keinginannya untuk beribadah tidak pernah padam. Semangat
itulah yang tetap saya lihat pada diri beliau. Semangat
yang hanya mungkin karena didasari oleh iman dan kasih
yang amat dalam terhadap Tuhannya.
Sejak itu saya, sebagai pendeta beliau sering menengok
beliau dan terkadang melayankan Perjamuan Kudus bagi
beliau. Sebagaimana rekan-rekan pendeta yang lain, saya
sangat menanti-nantikan giliran untuk mengunjugi beliau
melayankan Perjamuan Kudus bagi beliau. Karena pertemuan
dengan beliau selalu menyejukkan, memberikan semangat,
membesarkan hati. Dalam kesempatasn seperti itu terkadang
Eyang Sindhoe dan saya, dengan bantuan Ibu Kridharti dan
suster, menyanyikan kidung-kidung rohani berbahasa Jawa.
Salah satu yang saya ingat samar-samar dari masa kecil
saya di Salatiga adalah: Tyas kito dimen slamanyo...
bingah asukoreno... Dan yang luar biasa adalah bahwa
setiap kali seusai saya berdoa bagi beliau dan segenap
anak-cucunya, beliau tidak membuka mata dan tetap melipat
tangannya. Dan beliau langsung mulai mendoakan saya,
pelayanan saya, dan mendoakan jemaat GKI Pondok Indah.
Satu hal yang selalu nyata dari beliau, adalah imannya...!
Harapannya! Keyakinannya! Dan di atas dasar itu kesabaran
dan ketekunan beliau. Itu semua selain ditunjukkannya
melalui kata-kata dan sikap hidupnya, juga dituangkannya
dalam tulisan-tulisan. Kata-kata Eyang Sindhoe sebagai
bagian dari judul tulisan ini di atas, bukanlah sekadar
ungkapan. Tetapi apa yang memang sungguh-sungguh
diyakininya. Orang yang gusar hatinya, orang yang hatinya
dikuasai kejahatan, memang tidak mungkin bisa bernyanyi,
apalagi memuji Tuhan.
Ibu Sindhoe bagi saya, dan saya yakin juga bagi banyak
orang, adalah kesaksian hidup dari apa yang disaksikan
rasul Paulus dalam surat Roma: ...apa pun, bahkan
kematian, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih
KRISTUS...!!! Ayat inilah yang menjadi bacaan dan dasar
perenungan pada kebaktian pelepasan pada waktu beliau
meninggal belum lama ini dalam usia lanjut sembilan puluh
tiga tahun.
Keluarganya dan semua orang yang dicintainya dan yang
mencintainya amat kehilangan dengan kepergiannya. Tetapi
sosoknya, kepribadiannya dan imannya akan senantiasa hidup
dalam hati mereka semua. Di bawah ini saya kutipkan
nukilan dari karya beliau:
...orang mulai memenuhi halaman gereja, sebagian sudah
mengambil tempat duduknya di dalam. Sebelum masuk,
mengambil warta gereja atau liturgi jika ada. Nampak
teratur, sehingga tidak ada yang jatuh terinjak. Masuk dan
layangkan pandangan ke seluruh isi gedung mencari tempat
yang kosong. Harap jangan duduk di belakang bahkan di luar,
kalau yang di dalam belum penuh benar. Dengan demikian
kita memberi tempat bagi saudara-saudara yang datang
terlambat.
Makanya sangat baik kalau kita tidak datang ngepas,
soalnya perlu sekali persiapan diri dalam mengambil bagian
dalam kebaktian. Bahkan jika masih ada waktu kita dapat
memberi salam kepada saudara yang duduk berdekatan.
Mungkin tanpa kata-kata, tetapi pancaran senyum ramah
sungguh memberi kesan sejuk dan nyaman bagi setiap hati.
Bukankah kita sama-sama milik Tuhan Yesus yang tidak
membeda-bedakan suku, pangkat maupun usia...(pws)
|
|
>> Arsip
|
|
|
|
|
|
|
|