Refleksi
30 Juni 2004
Sang Tabib dari Klaten
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya
Tahun 1981 jemaat GKI Klaten meneguhkan seorang calon pendeta, lulusan baru dari sekolah teologi, sebagai tua-tua khusus. Sebagaimana layaknya lulusan baru, sang calon pendeta, saya, Purboyo, punya banyak sekali idealisme dan gagasan bagi jemaat GKI Klaten. Salah satu di antaranya adalah menyelenggarakan “bulan pelayanan”. Tujuannya adalah memotivasikan warga jemaat untuk secara bersama maupun sendiri-sendiri menjalankan tugas panggilan pelayanannya bagi sesama.

Majelis Jemaat menyambut baik gagasan itu, seraya tidak lupa mengingatkan saya untuk lebih realistis. Keputusannya adalah alih-alih “bulan pelayanan”, GKI Klaten akan menyelenggarakan, bila memungkinkan setiap tahun, “pekan pelayanan”. Di samping berbagai kegiatan pelayanan misalnya pendirian seksi bea-siswa dan perkunjungan ke panti werda, salah satu kegiatan unggulan dalam “pekan pelayanan” GKI Klaten waktu itu adalah aksi donor darah.

Untuk itu panitia dibantu oleh seorang Tua-tua, Bapak Soekamto, seorang mantri, yang biasa dipanggil Pak Kamto. Beliaulah yang berjasa menghubungkan Palang Merah setempat dengan panitia. Sehingga akhirnya disepakati bahwa aksi donor darah itu akan dilaksanakan pada hari Minggu pembukaan “pekan pelayanan” GKI Klaten. Dan sejak itu dalam rapat rutin panitia rencana aksi donor darah itu selalu dibicarakan.

Dengan makin mendekatnya hari Minggu pembukaan “pekan pelayanan”, makin mendesaklah upaya untuk mendapatkan cukup orang yang bersedia menjadi donor. Pihak Palang Merah sudah mengisyaratkan bahwa mereka akan datang bila setidaknya terdapat 15-20 orang donor.

Seminggu sebelum hari H, jumlah calon donor baru mencapai 14 orang. Tiba-tiba Pak Kamto dengan santainya berkomentar;

    “Lha kita sendiri yang duduk di panitia ya harus memberi contoh jadi donor, dong.” Ia berhenti sejenak, berdehem, lalu melihat kepada saya. “Calon pendeta kita juga toh...?”

Saya agak terkesiap. Saya belum pernah menjadi donor. Saya agak ngeri membayangkan jarum yang begitu besar yang akan ditancapkan di lengan saya. Akan cukup kuatkah saya? Tidakkah saya akan pingsan?

    “Bagaimana Saudara Purboyo...?” Pak Kamto kembali bertanya.

    Segenap anggota panitia turut memandang kepada saya.

    “Ya... baiklah... Anggota panitia yang lain juga kan..?” jawab saya dengan suara yang sama sekali tidak meyakinkan.

Dan begitulah. Berkat Pak Kamto yang menurut warga jemaat GKI Klaten memang biasa “ceplas-ceplos” itu, para anggota panitia termasuk saya, turut menjadi donor. Dan aksi donor darah itu berhasil dengan baik. Kalau tidak salah waktu itu sekitar 40 orang yang memberikan darahnya.

Pak Kamto juga adalah Tua-tua Pendamping pos kebaktian GKI Klaten, di desa Pesu-Wedi, sekitar 15 kilometer dari kota Klaten. Ketika untuk pertama kali saya membuka kelompok katekisasi di situ, beliau hadir.

Dalam percakapan pendahuluan, ternyata kelompok itu menghendaki agar bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Jawa. Saya terkesiap lagi. Memang sebagian masa kecil saya jalani di kota Salatiga. Tetapi sekolah menengah hingga universitas saya habiskan di Jakarta. Bahasa Jawa hanya saya gunakan dalam percakapan dengan nenek saya. Itu pun dalam bahasa Jawa yang sederhana dan agak kasar.

    “Ya ndak apa-apa to Saudara Purboyo. Kalau macet dicampur dengan bahasa Indonesia...” Lalu dengan tersenyum nakal, beliau menyapa para peserta katekisasi.

    “Nek kleru yo anggep wae Jowo mabuk...” (“Kalau keliru anggap saja bahasa Jawa orang mabuk.”) Seperti biasa Pak Kamto dengan gayanya yang “ceplas-ceplos”, yang langsung disambut dengan derai tawa yang riuh.

    “Kalau begitu saya mohon Pak Kamto membantu saya...”

Dan sejak itu Pak Kamto selalu dengan setia seminggu sekali mendampingi saya pergi ke desa Pesu-Wedi, membonceng di belakang saya di atas sepeda motor Yamaha tahun 1969 milik GKI Klaten.

Pada suatu kali di tengah katekisasi yang seperti biasa berlangsung dengan meriah, karena diiringi derai tertawa akibat komentar Pak Kamto atas bahasa Jawa saya, seorang ibu mengeluh pusing berat dan badan panas.

    “Wah sayang saya ndak bawa suntikan... Ini kebetulan saya bawa pil...” Dengan cekatan Pak Kamto mengambil sebuah pil berwarna oranye dari sakunya dan memberikannya kepada ibu itu.

Anehnya sang ibu berhenti mengeluh, dan dapat mengikuti katekisasi hingga selesai. Salah satu orang tua di situ sangat terkesan, sehingga beliau meminta Pak Kamto agar pada katekisasi berikut membawa peralatan mantrinya. Dengan senyum lebar Pak Kamto menyanggupinya.

Dalam perjalanan pulang saya menanyakan kepadanya obat apa yang diberikannya kepada ibu itu. Pak Kamto tertawa terbahak-bahak hingga sepeda motor saya berguncang-guncang.

    “Jangan bilang-bilang ya... itu tadi cuma vitamin C...”

Tetapi sejak itu Pak Kamto memenuhi janjinya. Beliau senantiasa membawa peralatannya, termasuk alat suntik dan berbagai obat-obatan, atau mungkin hanya vitamin. Akibatnya setelah jam katekisasi, kami masih tertahan karena sang tabib dari Klaten membuka praktek. Dan selain para katekisan yang datang dengan berbagai keluhan, banyak warga desa yang memanfaatkan praktek gratis Pak Kamto.

Pada satu pihak saya senang karena para katekisan hampir tidak pernah absen. Mungkin selain untuk menertawakan bahasa Jawa saya, juga karena hendak bertemu dengan sang tabib. Tetapi pada pihak lain saya agak cemas dengan praktek sang tabib. Bagaimana kalau beliau salah diagnosa atau salah memberikan obat. Sebenarnya saya ingin mengajaknya untuk berunding tentang prakteknya itu dengan seorang anggota jemaat yang adalah seorang dokter. Namun seolah dapat membaca pikiran saya, beliau dengan enteng berkata:

    “Jangan kuatir Saudara Purboyo... pada dasarnya yang saya berikan hanyalah vitamin yang saya mintakan dari tempat bekerja saya di rumah sakit. Kalau memang benar-benar sakit, paling-paling saya berikan obat-obat yang bisa dibeli di apotik secara bebas...”

Saya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala seraya menggaruk-garuknya.

Pada akhir katekisasi, warga jemaat di desa Pesu-Wedi mengucapkan terima kasih kepada saya. Dan segera sesudah itu mereka menarik Pak Kamto ke depan. Mengucapkan terima kasih dengan tepuk tangan dan derai tawa riuh-rendah. Amat menyenangkan. Juga mengharukan. Katekisasi di desa itu berhasil, juga, bahkan mungkin terutama, karena Pak Kamto.

Terakhir kali saya bertemu dengan beliau adalah tahun lalu di kota Solo, ketika saya menghadiri pernikahan bekas murid sekolah Minggu di jemaat GKI Klaten. Kami sudah belasan tahun tidak berjumpa. Beliau sudah lama pensiun, kelihatan tua dan lemah. Tetapi matanya masih tetap bersinar-sinar. Dan masih “ceplas-ceplos”.

    “Lho ini Purboyo atau Semar ...?” yang disambut oleh derai tawa riuh teman-teman warga jemaat GKI Klaten yang hadir.

Dalam kisah pewayangan “Purboyo “ adalah seorang kesatria digjaya, putra Bima, sedangkan “Semar” adalah salah satu punakawan yang bodoh dan gendut. Saya tertawa kecut sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menggaruk-garuknya.

    “Kapan kita ke Pesu lagi Pak...?” tanya saya.

Mendengar kata-kata saya sang tabib dari Klaten tertawa terpingkal-pingkal hingga terbatuk-batuk. Istri dan putrinya sempat melirik ke arah saya dengan cemas.

Di sela-sela tawa dan batuknya beliau masih sempat berkata; “Kalau saja kalian tahu... ha ha ha...bagaimana Purboyo pada suatu kali kepleset kata.... ha ha ha.... Maksudnya bagus... ha ha ha... tetapi jadinya bukan cuma lucu... ha ha ha... tetapi bahkan saru (jorok).. Ha ha ha....!”

>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003