Tahun 1981 jemaat GKI Klaten meneguhkan seorang calon
pendeta, lulusan baru dari sekolah teologi, sebagai
tua-tua khusus. Sebagaimana layaknya lulusan baru, sang
calon pendeta, saya, Purboyo, punya banyak sekali
idealisme dan gagasan bagi jemaat GKI Klaten. Salah satu
di antaranya adalah menyelenggarakan “bulan pelayanan”.
Tujuannya adalah memotivasikan warga jemaat untuk secara
bersama maupun sendiri-sendiri menjalankan tugas panggilan
pelayanannya bagi sesama.
Majelis Jemaat menyambut baik gagasan itu, seraya tidak
lupa mengingatkan saya untuk lebih realistis. Keputusannya
adalah alih-alih “bulan pelayanan”, GKI Klaten akan
menyelenggarakan, bila memungkinkan setiap tahun, “pekan
pelayanan”. Di samping berbagai kegiatan pelayanan
misalnya pendirian seksi bea-siswa dan perkunjungan ke
panti werda, salah satu kegiatan unggulan dalam “pekan
pelayanan” GKI Klaten waktu itu adalah aksi donor darah.
Untuk itu panitia dibantu oleh seorang Tua-tua, Bapak
Soekamto, seorang mantri, yang biasa dipanggil Pak Kamto.
Beliaulah yang berjasa menghubungkan Palang Merah setempat
dengan panitia. Sehingga akhirnya disepakati bahwa aksi
donor darah itu akan dilaksanakan pada hari Minggu
pembukaan “pekan pelayanan” GKI Klaten. Dan sejak itu
dalam rapat rutin panitia rencana aksi donor darah itu
selalu dibicarakan.
Dengan makin mendekatnya hari Minggu pembukaan “pekan
pelayanan”, makin mendesaklah upaya untuk mendapatkan
cukup orang yang bersedia menjadi donor. Pihak Palang
Merah sudah mengisyaratkan bahwa mereka akan datang bila
setidaknya terdapat 15-20 orang donor.
Seminggu sebelum hari H, jumlah calon donor baru mencapai
14 orang. Tiba-tiba Pak Kamto dengan santainya berkomentar;
“Lha kita sendiri yang duduk di panitia ya harus memberi
contoh jadi donor, dong.” Ia berhenti sejenak, berdehem,
lalu melihat kepada saya. “Calon pendeta kita juga toh...?”
Saya agak terkesiap. Saya belum pernah menjadi donor. Saya
agak ngeri membayangkan jarum yang begitu besar yang akan
ditancapkan di lengan saya. Akan cukup kuatkah saya?
Tidakkah saya akan pingsan?
“Bagaimana Saudara Purboyo...?” Pak Kamto kembali bertanya.
Segenap anggota panitia turut memandang kepada saya.
“Ya... baiklah... Anggota panitia yang lain juga kan..?”
jawab saya dengan suara yang sama sekali tidak meyakinkan.
Dan begitulah. Berkat Pak Kamto yang menurut warga jemaat
GKI Klaten memang biasa “ceplas-ceplos” itu, para anggota
panitia termasuk saya, turut menjadi donor. Dan aksi donor
darah itu berhasil dengan baik. Kalau tidak salah waktu
itu sekitar 40 orang yang memberikan darahnya.
Pak Kamto juga adalah Tua-tua Pendamping pos kebaktian GKI
Klaten, di desa Pesu-Wedi, sekitar 15 kilometer dari kota
Klaten. Ketika untuk pertama kali saya membuka kelompok
katekisasi di situ, beliau hadir.
Dalam percakapan pendahuluan, ternyata kelompok itu
menghendaki agar bahasa pengantar yang digunakan adalah
bahasa Jawa. Saya terkesiap lagi. Memang sebagian masa
kecil saya jalani di kota Salatiga. Tetapi sekolah
menengah hingga universitas saya habiskan di Jakarta.
Bahasa Jawa hanya saya gunakan dalam percakapan dengan
nenek saya. Itu pun dalam bahasa Jawa yang sederhana dan
agak kasar.
“Ya ndak apa-apa to Saudara Purboyo. Kalau macet dicampur
dengan bahasa Indonesia...” Lalu dengan tersenyum nakal,
beliau menyapa para peserta katekisasi.
“Nek kleru yo
anggep wae Jowo mabuk...” (“Kalau keliru anggap saja
bahasa Jawa orang mabuk.”) Seperti biasa Pak Kamto dengan
gayanya yang “ceplas-ceplos”, yang langsung disambut
dengan derai tawa yang riuh.
“Kalau begitu saya mohon Pak Kamto membantu saya...”
Dan sejak itu Pak Kamto selalu dengan setia seminggu
sekali mendampingi saya pergi ke desa Pesu-Wedi,
membonceng di belakang saya di atas sepeda motor Yamaha
tahun 1969 milik GKI Klaten.
Pada suatu kali di tengah katekisasi yang seperti biasa
berlangsung dengan meriah, karena diiringi derai tertawa
akibat komentar Pak Kamto atas bahasa Jawa saya, seorang
ibu mengeluh pusing berat dan badan panas.
“Wah sayang saya ndak bawa suntikan... Ini kebetulan saya
bawa pil...” Dengan cekatan Pak Kamto mengambil sebuah pil
berwarna oranye dari sakunya dan memberikannya kepada ibu
itu.
Anehnya sang ibu berhenti mengeluh, dan dapat mengikuti
katekisasi hingga selesai. Salah satu orang tua di situ
sangat terkesan, sehingga beliau meminta Pak Kamto agar
pada katekisasi berikut membawa peralatan mantrinya.
Dengan senyum lebar Pak Kamto menyanggupinya.
Dalam perjalanan pulang saya menanyakan kepadanya obat apa
yang diberikannya kepada ibu itu. Pak Kamto tertawa
terbahak-bahak hingga sepeda motor saya berguncang-guncang.
Tetapi sejak itu Pak Kamto memenuhi janjinya. Beliau
senantiasa membawa peralatannya, termasuk alat suntik dan
berbagai obat-obatan, atau mungkin hanya vitamin.
Akibatnya setelah jam katekisasi, kami masih tertahan
karena sang tabib dari Klaten membuka praktek. Dan selain
para katekisan yang datang dengan berbagai keluhan, banyak
warga desa yang memanfaatkan praktek gratis Pak Kamto.
Pada satu pihak saya senang karena para katekisan hampir
tidak pernah absen. Mungkin selain untuk menertawakan
bahasa Jawa saya, juga karena hendak bertemu dengan sang
tabib. Tetapi pada pihak lain saya agak cemas dengan
praktek sang tabib. Bagaimana kalau beliau salah diagnosa
atau salah memberikan obat. Sebenarnya saya ingin
mengajaknya untuk berunding tentang prakteknya itu dengan
seorang anggota jemaat yang adalah seorang dokter.
Namun seolah dapat membaca pikiran saya, beliau dengan
enteng berkata:
“Jangan kuatir Saudara Purboyo... pada
dasarnya yang saya berikan hanyalah vitamin yang saya
mintakan dari tempat bekerja saya di rumah sakit. Kalau
memang benar-benar sakit, paling-paling saya berikan
obat-obat yang bisa dibeli di apotik secara bebas...”
Saya hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala seraya
menggaruk-garuknya.
Pada akhir katekisasi, warga jemaat di desa Pesu-Wedi
mengucapkan terima kasih kepada saya. Dan segera sesudah
itu mereka menarik Pak Kamto ke depan. Mengucapkan terima
kasih dengan tepuk tangan dan derai tawa riuh-rendah. Amat
menyenangkan. Juga mengharukan. Katekisasi di desa itu
berhasil, juga, bahkan mungkin terutama, karena Pak Kamto.
Terakhir kali saya bertemu dengan beliau adalah tahun lalu
di kota Solo, ketika saya menghadiri pernikahan bekas
murid sekolah Minggu di jemaat GKI Klaten. Kami sudah
belasan tahun tidak berjumpa. Beliau sudah lama pensiun,
kelihatan tua dan lemah. Tetapi matanya masih tetap
bersinar-sinar. Dan masih “ceplas-ceplos”.
“Lho ini Purboyo atau Semar ...?” yang disambut oleh derai
tawa riuh teman-teman warga jemaat GKI Klaten yang hadir.
Dalam kisah pewayangan “Purboyo “ adalah seorang kesatria
digjaya, putra Bima, sedangkan “Semar” adalah salah satu
punakawan yang bodoh dan gendut. Saya tertawa kecut sambil
menggeleng-gelengkan kepala dan menggaruk-garuknya.
Mendengar
kata-kata saya sang tabib dari Klaten tertawa
terpingkal-pingkal hingga terbatuk-batuk. Istri dan
putrinya sempat melirik ke arah saya dengan cemas.
Di sela-sela tawa dan batuknya beliau masih sempat berkata;
“Kalau saja kalian tahu... ha ha ha...bagaimana Purboyo
pada suatu kali kepleset kata.... ha ha ha.... Maksudnya
bagus... ha ha ha... tetapi jadinya bukan cuma lucu... ha
ha ha... tetapi bahkan saru (jorok).. Ha ha ha....!”
|