Refleksi
30 Mei 2004
Pak Sanaman
Pdt. Purboyo W. Susilaradeya
Ketika kami baru pindah ke kota Malang untuk memulai pelayanan di jemaat GKI Malang, seorang penatua (waktu itu disebut sebagai “tua-tua”) berprakarsa memperkenalkan saya kepada para karyawan gereja.

    “Sanaman...” ujar pengemudi gereja memperkenalkan diri, dengan suara yang cukup keras dan jelas. Sesuai dengan perawakannya yang tidak terlalu tinggi namun tegap berisi.

Terbiasa dengan mentalitas dan cara berbicara orang di kota Klaten, Jawa Tengah, selama tiga setengah tahun, cukup terkejut saya menyambut kelugasan Pak Sanaman. Itulah salah satu hal yang harus saya biasakan di Jawa Timur, yaitu kelugasan dan keterusterangan berbicara. Dan pada diri Pak Sanaman hal itu terasa jauh lebih kental, karena ia adalah seorang yang berasal dari Madura.

Itu baru saya ketahui beberapa minggu kemudian. Selain karena kesibukan mengatur barang-barang di pastori yang baru, jemaat GKI Malang pada waktu itu hanya memiliki satu buah mobil. Maka itu bagi para pendeta kesempatan untuk menggunakannya tidak terlalu banyak, hanya untuk tugas ke luar kota atau tugas-tugas yang memerlukan mobil.

Setelah lebih daripada satu bulan kami berada di jemaat itu, mulailah saya larut dalam berbagai tugas-tugas, termasuk memimpin kebaktian. Pada suatu hari Minggu, setelah memimpin kebaktian umum yang pertama jam enam pagi, saya mendapat giliran memimpin kebaktian di bakal jemaat (waktu itu disebut sebagai “cabang”) di kota Batu jam sembilan pagi. Jam delapan kurang lima menit Pak Sanaman telah siap di depan pintu dengan mobilnya.

    “Maaf Pak Pur... kita harus berangkat sekarang... kita masih harus menjemput seorang tua-tua... dan kita harus melewati Sengkaling yang agak padat dan ramai...” sambut Pak Sanaman ketika saya ke luar mendapatkannya.

Saat itu mulai tumbuh rasa hormat saya kepadanya. Karena bila memimpin kebaktian, saya selalu berusaha untuk sudah berada di tempat seperempat jam atau kalau bisa setengah jam di muka.

Dalam perjalanan dari pastori ke rumah sang tua-tua yang berlangsung sekitar sepuluh menit, percakapan di antara kami hanya terjadi bila saya menanyakan sesuatu dan Pak Sanaman menjawabnya dengan singkat. Rupanya baginya sambutannya kepada saya tadi sudah dapat digolongkan kepada pidato.

    “Rumahnya jauh dari gereja, Pak?” tanya saya.
    “Tidak Pak...”
    “Di mana? Di jalan apa?”
    “Di gang... jalan Bromo...”
    “Oh ujung yang sana ya...?”
    “Ya, Pak.”
    “Anak-anak masih sekolah, Pak...?”
    “Sudah. SD, Pak.”
    “Oh...”
    “Yang besar sudah hampir remaja.”
    “Oh..begitu?”
    “Namanya Maria... Ibu Pendeta Lydia yang membaptiskannya...”
    “Oh....??”

Begitulah proses perkenalan saya dengannya. Singkat, tersendat-sendat, dengan diselingi oleh kejutan-kejutan tak terduga. Misalnya ketika bersama para Tua-tua dan Diaken saya memasuki gedung gereja di kota Batu itu, saya melihat pak Sanaman duduk di belakang. Dalam perjalanan pulang ia menjelaskannya dengan ringkas, tanpa menunggu reaksi dari saya:

    “Saya juga sudah dibaptis...”

Lama-kelamaan saya menjadi terbiasa dengan gayanya dengan kata-kata yang secukupnya itu, bahkan bahasa tubuhnya bila ia merasa tidak begitu sejahtera atau terganggu. Pak Sanaman adalah seorang sederhana dan orang Jawa bilang “tidak neko-neko”. Ia jarang sekali memperlihatkan perasaannya yang sebenarnya.

Namun ia hampir selalu tepat waktu dan menurut pengalaman saya ia melakukan tugasnya dengan sangat baik. Hanya sayangnya karena gayanya itu, kami tidak pernah bisa dekat atau intim.

Setelah lebih dari setahun kami di Malang, apa yang saya tahu tentangnya tidak banyak bertambah. Tetapi kejutan-kejutan darinya masih sekali-sekali muncul.

Pada suatu hari Pak Sanaman sakit. Sebelumnya saya tidak dapat mengingat kapan Pak Sanaman tidak masuk kerja karena sakit. Namun kali ini rupanya cukup serius. Ia mengeluh sesak napas dan ternyata tekanan darahnya cukup tinggi, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Ketika saya menengoknya, ia kelihatan senang.

Sebelum saya pulang dan bersiap-siap untuk berdoa baginya, ia meminta saya untuk mendekatkan diri padanya. Dengan suara lirih ia “berpidato”:

    “Saya mengatakan pada pasien tetangga di kiri ini, bahwa nanti kalau Pak Pendeta datang, beliau pasti mau mendoakan-nya.... Bapak mau kan...?”

Saya tak dapat mengatakan apa-apa karena saya sama sekali tidak menduganya. Dan tentu saja saya melakukannya, apalagi atas permintaan Pak Sanaman.

Dan kejutannya yang terakhir yang saya alami adalah ketika kami mohon diri untuk berangkat ke Negeri Belanda. Ketika saya memberitahukan rencana keberangkatan kami, dengan pendek ia berkata: “Selamat jalan Pak...”

Tetapi waktu kami berangkat dan menyalami para anggota jemaat, tua-tua dan karyawan gereja, Pak Sanaman menjabat tangan saya dengan erat tanpa mengatakan sepatah kata pun. Namun saya melihat matanya berkaca-kaca. Saya sangat terharu. Ternyata hubungan kami toh dekat.

 
>> Arsip

   

Gereja Kristen Indonesia Pondok Indah @ 2003