Ketika kami baru pindah ke kota Malang untuk memulai
pelayanan di jemaat GKI Malang, seorang penatua (waktu itu
disebut sebagai “tua-tua”) berprakarsa memperkenalkan saya
kepada para karyawan gereja.
“Sanaman...” ujar pengemudi gereja memperkenalkan diri,
dengan suara yang cukup keras dan jelas. Sesuai dengan
perawakannya yang tidak terlalu tinggi namun tegap berisi.
Terbiasa dengan mentalitas dan cara berbicara orang di
kota Klaten, Jawa Tengah, selama tiga setengah tahun,
cukup terkejut saya menyambut kelugasan Pak Sanaman.
Itulah salah satu hal yang harus saya biasakan di Jawa
Timur, yaitu kelugasan dan keterusterangan berbicara. Dan
pada diri Pak Sanaman hal itu terasa jauh lebih kental,
karena ia adalah seorang yang berasal dari Madura.
Itu baru saya ketahui beberapa minggu kemudian. Selain
karena kesibukan mengatur barang-barang di pastori yang
baru, jemaat GKI Malang pada waktu itu hanya memiliki satu
buah mobil. Maka itu bagi para pendeta kesempatan untuk
menggunakannya tidak terlalu banyak, hanya untuk tugas ke
luar kota atau tugas-tugas yang memerlukan mobil.
Setelah lebih daripada satu bulan kami berada di jemaat
itu, mulailah saya larut dalam berbagai tugas-tugas,
termasuk memimpin kebaktian. Pada suatu hari Minggu,
setelah memimpin kebaktian umum yang pertama jam enam pagi,
saya mendapat giliran memimpin kebaktian di bakal jemaat (waktu
itu disebut sebagai “cabang”) di kota Batu jam sembilan
pagi. Jam delapan kurang lima menit Pak Sanaman telah siap
di depan pintu dengan mobilnya.
“Maaf Pak Pur... kita harus berangkat sekarang... kita
masih harus menjemput seorang tua-tua... dan kita harus
melewati Sengkaling yang agak padat dan ramai...” sambut
Pak Sanaman ketika saya ke luar mendapatkannya.
Saat itu mulai tumbuh rasa hormat saya kepadanya. Karena
bila memimpin kebaktian, saya selalu berusaha untuk sudah
berada di tempat seperempat jam atau kalau bisa setengah
jam di muka.
Dalam perjalanan dari pastori ke rumah sang tua-tua yang
berlangsung sekitar sepuluh menit, percakapan di antara
kami hanya terjadi bila saya menanyakan sesuatu dan Pak
Sanaman menjawabnya dengan singkat. Rupanya baginya
sambutannya kepada saya tadi sudah dapat digolongkan
kepada pidato.
“Rumahnya jauh dari gereja, Pak?” tanya saya.
“Tidak Pak...”
“Di mana? Di jalan apa?”
“Di gang... jalan Bromo...”
“Oh ujung yang sana ya...?”
“Ya, Pak.”
“Anak-anak masih sekolah, Pak...?”
“Sudah. SD, Pak.”
“Oh...”
“Yang besar sudah hampir remaja.”
“Oh..begitu?”
“Namanya Maria... Ibu Pendeta Lydia yang membaptiskannya...”
“Oh....??”
Begitulah proses perkenalan saya dengannya. Singkat,
tersendat-sendat, dengan diselingi oleh kejutan-kejutan
tak terduga. Misalnya ketika bersama para Tua-tua dan
Diaken saya memasuki gedung gereja di kota Batu itu, saya
melihat pak Sanaman duduk di belakang. Dalam perjalanan
pulang ia menjelaskannya dengan ringkas, tanpa menunggu
reaksi dari saya:
Lama-kelamaan saya menjadi terbiasa dengan gayanya dengan
kata-kata yang secukupnya itu, bahkan bahasa tubuhnya bila
ia merasa tidak begitu sejahtera atau terganggu. Pak
Sanaman adalah seorang sederhana dan orang Jawa bilang
“tidak neko-neko”. Ia jarang sekali memperlihatkan
perasaannya yang sebenarnya.
Namun ia hampir selalu tepat waktu dan menurut pengalaman
saya ia melakukan tugasnya dengan sangat baik. Hanya
sayangnya karena gayanya itu, kami tidak pernah bisa dekat
atau intim.
Setelah lebih dari setahun kami di Malang, apa yang saya
tahu tentangnya tidak banyak bertambah. Tetapi
kejutan-kejutan darinya masih sekali-sekali muncul.
Pada suatu hari Pak Sanaman sakit. Sebelumnya saya tidak
dapat mengingat kapan Pak Sanaman tidak masuk kerja karena
sakit. Namun kali ini rupanya cukup serius. Ia mengeluh
sesak napas dan ternyata tekanan darahnya cukup tinggi,
sehingga ia harus dirawat di rumah sakit. Ketika saya
menengoknya, ia kelihatan senang.
Sebelum saya pulang dan bersiap-siap untuk berdoa baginya,
ia meminta saya untuk mendekatkan diri padanya. Dengan
suara lirih ia “berpidato”:
“Saya mengatakan pada pasien tetangga di kiri ini, bahwa
nanti kalau Pak Pendeta datang, beliau pasti mau
mendoakan-nya.... Bapak mau kan...?”
Saya tak dapat mengatakan apa-apa karena saya sama sekali
tidak menduganya. Dan tentu saja saya melakukannya,
apalagi atas permintaan Pak Sanaman.
Dan kejutannya yang terakhir yang saya alami adalah ketika
kami mohon diri untuk berangkat ke Negeri Belanda. Ketika
saya memberitahukan rencana keberangkatan kami, dengan
pendek ia berkata: “Selamat jalan Pak...”
Tetapi waktu kami berangkat dan menyalami para anggota
jemaat, tua-tua dan karyawan gereja, Pak Sanaman menjabat
tangan saya dengan erat tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Namun saya melihat matanya berkaca-kaca. Saya sangat
terharu. Ternyata hubungan kami toh dekat. |